Konten Manajer The Palm Scribe, Bhimanto Suwastoyo, dipilih oleh Good Growth Conference UNDP untuk mengunjungi Peru bersama beberapa wartawan lain dari seluruh dunia untuk melihat bagaimana Peru menangani kelapa sawit yang sedang tumbuh. Artikel panjang ini merupakan bagian persyaratan publikasi dari konferensi dan program pelatihan Good Growth Conference UNDP tersebut.

Terletak di hamparan lembah di tepi sungai Huallaga, distrik kecil Chazuta di tepi Cekungan Amazon Peru adalah contoh nyata dari keberhasilan transformasi sebuah area penghasil utama koka menjadi pusat kakao berkualitas tinggi hanya dalam rentang waktu kurang dari satu dekade.

Didorong oleh beberapa faktor, seperti inisiatif pemerintah untuk menyatakan koka sebagai tanaman ilegal disertai langkah-langkah nyata untuk memberantas perkebunan yang ada (termasuk dengan jalan pemaksaan), lalu mengganti koka dengan kakao, kekecewaan warga lokal kepada penyelundup narkotika dan teroris, dan juga ketekunan dan kerja keras dari beberapa pembaharu, semua telah berkontribusi pada transformasi yang relatif cepat tersebut.

Meskipun koka (yang berasal dari Amerika Latin), telah ditanam di daerah tersebut sejak lama, jagung dan padi merupakan tanaman dominan di Chazuta yang dipromosikan oleh pemerintah. Sampai pada suatu saat pemerintah tidak dapat lagi memberikan manfaat yang maksimal karena harga dua komoditas pangan tersebut jatuh ke titik terendah pada tahun 1980-an, sehingga sebagian besar petani kemudian beralih kembali menanam koka, tanaman yang jauh lebih menguntungkan.

“Harga jagung jauh lebih rendah daripada biaya produksi. Dibutuhkan sekitar lima Sol untuk menghasilkan satu kilogram jagung, tetapi perusahaan membelinya dengan harga dua puluh hingga tiga puluh sen,” kenang seorang petani yang menyebut dirinya sebagai Aquilino. Bersama dengan dua mantan petani kakao lainnya dari Koperasi Kakao Allima di kota Chazuta, Aquilino mengatakan bahwa para petani melakukan pemogokan untuk menuntut harga yang lebih tinggi, dan setelah beberapa korban tewas, hanya berhasil menaikkan harga menjadi sekitar 50 sen per kilogram.

Orang-orang, katanya, kemudian mulai meninggalkan beras dan jagung dan menanam koka sebagai gantinya. Aquilino mengatakan bahwa hanya dalam waktu enam bulan dia dapat menghasilkan sekitar 15 hingga 20 kilogram “pasta basica”, atau pasta dasar koka yang dapat menghasilkan sekitar 1.000 hingga 1.200 Sol per kilogram.

“Jauh lebih menguntungkan menanam koka daripada menanam jagung atau produk lain,” katanya, seraya menambahkan bahwa harga terendah yang pernah diterima adalah 800 Sol per kilogram.

Tetapi, penanaman koka juga membawa serta mafia narkoba, penyelundup narkotika serta teroris dan kejahatan serta kekerasan yang diakibatkan oleh tanaman tersebut.

Kelompok revolusioner Sendero Luminoso (Jalan Bersinar) dan MRTA (Movimiento Revolucionario Tupac Amaru / Gerakan Revolusi Tupac Amaru) yang aktif di daerah itu juga ingin mendapat bagian dan terlibat dalam perdagangan narkoba. Situasi ini menyebabkan perang saudara yang paling parah melanda di daerah pedesaan seperti Chazuta.

Selain itu, karena hanya sedikit menanam tanaman pangan, malnutrisi juga meningkat selama masyarakat lebih fokus menanam koka.

Aquilino mengatakan bahwa pada paruh kedua dasawarsa 1980-an dan 1990-an, pemerintahan Presiden Alan Garcia saat itu melancarkan kampanye, bahkan dengan menggunakan kekerasan, untuk mencoba memberantas produksi koka dan perdagangan narkoba serta mempromosikan tanaman alternatif.

“Kakao adalah tanaman alternatifnya,” kata Aquilino, sambil menambahkan bahwa dia mulai menanam kakao sekitar sembilan tahun yang lalu. “Menanam kakao jauh lebih aman dan tenang, tidak ada lagi penganiayaan, tidak ada kematian, tidak ada kekerasan,” katanya, menambahkan bahwa sebagian besar petani kecil di sana bertani di atas tiga sampai lima hektar perkebunan kakao.

Namun, seperti sudah diduga, perubahan itu tidaklah berjalan dengan mudah.

“Ya, timbul masalah besar dengan mafia koka dan para pembunuh bayaran. Chazuta menjadi tanah tak bertuan di mana ada kekerasan oleh penyelundup narkotika dan teroris yang berjalan bersama-sama,” kata Aquilino. Akibat muak dengan kesulitan dan kejahatan yang terus berkuasa, pelacuran, dan kekerasan, orang-orang kemudian mengorganisasi diri mereka menjadi milisi untuk menghancurkan momok sosial ini”.

Darwin Del Aguila Solano, yang pada awal 2000-an bekerja dengan USAID, secara intensif terlibat dalam mempromosikan kakao di antara para petani. Dia mengatakan bahwa “kegagalan ekonomi” pada 1980 dan 1990-an telah menyebabkan banyak petani menanam kelapa. Pada tahun 2003, ia memulai upaya sulit untuk membujuk petani koka untuk beralih ke penanaman kakao. Darwin berkata, dia dengan sabar mendekati petani koka di Chazuta, yang sebagian besar berasal dari kelompok etnis Quechua.

“Transisi itu tidak mudah,” katanya, sambil mengatakan bahwa dia tetap tinggal meskipun telah diusir beberapa kali. Darwin bertahan, dengan sering membawa ayam dan kentang ke dapur para penyerang, sebelum akhirnya secara perlahan mendapatkan kepercayaan dari mereka.

“Saya kemudian mulai berinteraksi dengan mereka, mendengarkan mereka dan mengetahui bagaimana mereka hidup,” katanya. Darwin menambahkan bahwa para petani hidup dalam kesulitan dan perbudakan akibat membudidayakan koka untuk raja narkotika dengan harga murah, beberapa bahkan di bawah paksaan.

Perlahan-lahan Darwin bekerja untuk meyakinkan para petani koka yang sudah terorganisasi, untuk meninggalkan kehidupan yang penuh kekerasan, rasa tidak aman, dan teror dengan beralih menanam kakao. Seingatnya, itu merupakan pertempuran yang panjang, tetapi dia mengatakan akhirnya berhasil mendapatkan persetujuan sekitar tiga per empat dari petani koka untuk mengganti tanaman mereka.

“Perhatian utama mereka adalah pada 30 hingga 32 bulan sebelum kakao dapat berproduksi,” kata Darwin, sambil menambahkan bahwa solusinya adalah dengan menanam pisang, yang juga menyediakan keteduhan yang dibutuhkan oleh bibit kakao saat tumbuh.

Darwin menambahkan bahwa transisi itu juga melibatkan periode panjang dalam mendidik dan melatih masyarakat lokal dan pemerintah untuk memungkinkan mereka memiliki kapasitas dalam melaksanakan transisi, seraya berkata bahwa strategi lain adalah dengan selalu menggunakan tenaga kerja lokal untuk setiap kegiatan selama proses tersebut.

Peran Perempuan Sebagai Pendorong Perubahan

Bibiana Melzi, seorang jurnalis dan produser Peru, mengatakan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kesuksesan tersebut adalah karena para perempuan juga sangat muak dengan situasi kekerasan, kematian, dan pemerasan akibat perdagangan narkoba sehingga mereka mendorong para laki-laki untuk pindah ke pertanian kakao.

“Ini semua adalah campuran dari berbagai hal yang memungkinkan terjadinya sebuah transformasi,” kata Bibiana.

Pihak berwenang, dengan bantuan USAID membantu para petani kakao tersebut untuk mendirikan sebuah koperasi yang disebut “Allima Cocoa Cooperative” pada tahun 2002, terutama untuk membantu para produsen kakao kecil mengembangkan produk mereka di bawah praktik pertanian yang baik, memasarkan produk mereka, dan juga mendukung mereka secara finansial melalui skema kredit mikro. Pada 2009/2010, koperasi tersebut mulai mengekspor kakao berkualitas tinggi dan sekarang menjadi salah satu koperasi utama yang sukses di daerah tersebut. Ada sekitar 22 koperasi di Chazuta, kata Darwin.

George Flores Garazatua, seorang petani kakao dan anggota koperasi Kakao Allima, mengatakan bahwa tidak ada lagi tanaman koka yang tumbuh di daerah tersebut. “Petani koka telah pindah ke tempat lain dan tidak ada lagi di Chazuta,” katanya.

Chazuta dan seluruh wilayah San Martin sekarang terkenal dengan kualitas kakao organiknya, dimana San Martin saat ini merupakan penghasil kakao utama di Peru. George Garazatua mengatakan daerah tersebut menghasilkan antara 50 hingga 60 persen dari produksi kakao nasional. Selain itu, San Martin juga merupakan daerah penghasil kopi terbesar ketiga di negara ini.

George memiliki lahan seluas 3,5 hektar tempat ia “mengkloning” varietas kakao unggul untuk ditanami oleh anggota koperasi. Dia mengatakan bahwa spesialisasi koperasi tersebut adalah kakao mereka diproduksi dan diproses secara organik dengan praktik pertanian yang baik.

Menurut direktur koperasi Carlos Angulo, ada 262 “rekan”, sebuah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan anggota koperasi, dimana sekitar 70 persen rekanan adalah perempuan, tambahnya. Organisasi ini menyediakan penanganan pasca panen untuk fermentasi dan pengeringan biji kakao dan dukungan teknis lainnya dan memastikan harga yang stabil untuk hasil panen. Koperasi bahkan sekarang telah mengekspor hasil kakao mereka ke Italia dan Inggris.

Carlos mengatakan bahwa untuk bergabung dengan koperasi, para petani yang sebagian besar merupakan produsen kakao kecil harus mematuhi standar koperasi untuk menghasilkan produk kakao berkualitas.

Share This