The Palm Scribe

SMART Bukukan Kenaikan Laba Usaha Sebesar 351 di Kuartal 1 2021

Perusahaan publik produk konsumen berbasis kelapa sawit, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (”SMART”) membukukan laba usaha sebesar Rp 574 miliar di tiga bulan pertama tahun ini, atau kenaikan sebesar 351 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu sementara EBITDAnya untuk periode yang sama melonjak 116 persen mencapai Rp 1,08 triliun.

”Kami gembira melihat pencapaian SMART pada kuartal pertama tahun 2021  di tengah pandemi COVID-19 yang masih berlangsung. SMART akan terus memperkuat keunggulan kompetitifnya melalui inovasi yang mutakhir dan praktik-praktik yang  berkelanjutan,” Wakil Direktur Utama sekaligus Corporate Secretary Perseroan, Bapak Jimmy Pramono mengatakan dalam sebuah siaran pers perusahaan yang diterbitkan menyusul Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan Selasa (15/6.)

SMART juga mencatat laba bersih sebesar Rp 250 miliar dari posisi sebelumnya rugi bersih sebesar Rp 1,41 triliun pada periode yang sama tahun lalu. 

Perusahaan juga mencetak kenaikan penjualan bersih sebesar 15 persen mencapai Rp 11,10 triliun untuk tiga bulan pertama tahun 2021 dibanding kuartal pertama 2020 sementara produksi kebun sawitnya, dalam periode yang sama meningkat 12 percent mencapai 670,000 ton. Peningkatan penjualan bersih disebabkan kenaikan harga jual rata-rata selama periode berjalan sedangkan kenaikan produksi kebun sawit didukung oleh kondisi cuaca yang baik.

Per 31 Maret 2021, luas area tertanam Perseroan adalah sebesar 137.600 hektar, terdiri dari  106.300 hektar area inti dan 31.300 hektar area plasma. Dari total area tertanam tersebut, sekitar 95 persen telah menghasilkan dan selama kuartal pertama tahun 2021, SMART  memanen 670 ribu ton tandan buah segar (TBS). TBS tersebut diolah lebih lanjut di 16 pabrik kelapa sawit menjadi 152.000 ton minyak sawit (“CPO”) dan 40.000 ton inti sawit (“PK”.) Tingkat ekstraksi minyak sawit adalah 21,2 persen sedangkan tingkat ekstraksi inti sawit mencapai 5,6 persen.

”Saat ini, pasokan minyak  nabati global sangat terbatas terutama dipengaruhi oleh kondisi cuaca kering di Amerika  Selatan dan belahan dunia lainnya. Kami memprediksi ketatnya pasokan akan terus berlanjut sepanjang tahun ini. Dengan bergulirnya program vaksinasi COVID-19 secara global, kami optimis bahwa permintaan minyak nabati tetap kuat, baik dari sektor pangan maupun energi.  Namun, kami tetap waspada dan senantiasa memantau perkembangan pandemi COVID-19, terutama di negara-negara konsumen utama,” ujar Pramono.

Rapat Umum  Pemegang Saham Tahunan Perseroan  juga menyetujui pembagian dividen final sebesar Rp 160,- per saham, atau sekitar 30 persen dari laba bersih Perseroan tahun 2020, atau sejumlah hampir Rp 460 miliar.  

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This