The Palm Scribe

Shakespeare dan Cara Jitu Singapura Mengelola Kepemilikan Kendaraan

Oleh Denys Collin Munang*

Harga sedang baik sekarang ini, bagi minyak kelapa sawit. Menang sudah lama kita tidak menikmati harga baik yang bertahan cukup lama ini.  Terasa lama karena dua hal, yang pertama karena buruknya tahun lalu dengan musim keringnya yang panjang dan harga yang tertekan. Dan ketika keadaan sudah mulai membaik di penghujung 2019, harga harga jatuh kembali karena Jeda Agung… saya memilih sebutan ini bagi pandemic Coronavirus karena memang inilah yang diakibatkannya dan juga karena terdengar tidak terlalu depresif dibandingkan dengan kata pandemi.

Jatuhnya permintaan akan minyak kelapa sawit merupakan sesuatu yang sebenarnya diperkirakan akan terjadi dengan adanya Jeda Agung ini. Tetapi anehnya, kenyataannya tidak demikian. Orang orang pintar kemudian menemukan bahwa memang orang masih membutuhkan minyak ini dalam jumlah besar. Mungkin tidak di sektor perhotelan, restoran dan catering, tetapi di rumah-rumah, dimana orang kebanyakan sekarang memasak makanan mereka sendiri, kadangkala secara boros. Juga mungkin di kamar mandi dan juga karena sekarang setelah kita menyentuh apapun, kita membutuhkan sabun untuk mencuci tangan kita.  Juga karena mandate Biofuel, lebih banyak minyak kelapa sawit kini dibutuhkan untuk campuran bahan bakarnya. 

Kita kini memerlukan semua hal ini seperti kita sekarang memerlukan masker, sarung tangan karet dan vaksin. Tetapi tidak terdapat cukup pasokan minyak kelapa sawit ini setelah harganya bertahan rendah selama bertahun tahun, karena musim kering berkepanjangan dan karena praktik praktik keberlanjutan telah mengerem ekspansi perkebunan baru dalam industri kelapa sawit ini. 

Jadi mengasyikkan bukan? Harga harga berada pada tingkat yang tinggi, tingkat permintaan juga baik. Jadi, mengapa industri ini sekarang ini, harus berada pada kondisi putus asa seperti yang dialami Hamlet? Hamlet ini ketika memikirkan kalimat to be or not to be, sebenarnya memikirkan apakah ia harus tetap hidup atau mati saja, dengan kata lain, ia sempat mempertimbangkan apakah ia perlu mengakhiri hidupnya sendiri.  

Nah, hal yang paling sulit yang harus diputuskan para petani kelapa sawit sekarang ini adalah apakah perlu meremajakan kebun mereka atau tidak.  Ketika harga harga tinggi, pohon pohon kelapa sawit dengan produktivitas rendah pun bisa menghasilkan uang yang banyak jadi untuk apa meremajakan mereka?  Meremajakan pohon pohon tadi akan berarti melewatkan kesempatan menikmati harga baik yang biasanya tidak akan bertahan lama, dan juga akan kehilangan pendapatan sekitar empat tahun selain juga perlunya mengeluarkan investasi yang besar untuk peremajaan tanaman ini.

Tetapi dengan tidak meremajakan tanaman, akan berakibat harus menghadapi pohon pohon tua yang sakit-sakitan, melewatkan keuntungan yang dapat diperoleh dengan penggunaan bahan genetika yang lebih produktif dan juga harus membayar biaya. Dan harga – harga akan pasti jatuh kembali suatu saat. Ini karena kelapa sawit merupakan satu komoditas dan harganya biasanya menuruti satu siklus.

Begitulah dilemma yang dihadapi petani. Seperti halnya yang dihadapi Hamlet, akibatnya juga dapat menimbulkan kecenderungan bunuh diri.  Dulu, biasanya kita tidak akan meremajakan tanaman ketika harga harga sedang baik. Yang biasanya dilakukan adalah mengambil risiko dengan meminjam modal, atau menanam lebih banyak modal untuk membuka lahan perkebunan baru, sementara tetap mempertahankan tanaman-tanaman tuanya, dan menikmati masa-masa jaya selama mungkin,

Sir David Attenborough, yang kini sudah berusia 93 tahun, telah mengatakannya dengan sangat baik ketika ia melontarkan harapannya bahwa bumi ini dua kali lebih besar dan setengahnya belum terjajaki.  Seperti yang dikatakannya, kita harus memahami bahwa bumi ini memiliki keterbatasan. Dan kita harus mulai merubah cara-cara kita melakukan sesuatu. Kita tidak lagi bisa menebangi hutan hutan kita yang berharga ini ataupun daerah daerah dengan nilai konservasi tinggi.  Hukum dan perundangan kita tidak memperbolehkan ini. 

Hasil kita tidak akan pernah membaik bila kita tidak mengindahkan tanaman kelapa sawit yang sudah tua. Tetapi diluar itu, kita juga harus memiliki keyakinan mendalam bahwa anak-cucu kita berhak untuk mendapatkan dunia yang lebih baik kelak dan kapanpun kita bisa, kita seharusnya membiarkan alam meregenerasikan dirinya sendiri  dan menghasilkan  ekosistem-ekosistem alami yang mengagumkan seperti yang dulu kita lihat di televisi atau bila lebih beruntung, seperti kita saksikan sendiri di alam liar, rimba, sungai dan lautan. 

Pohon kelapa sawit merupakan tanaman jangka panjang, tetapi meremajakan mereka juga merupakan suatu keharusan dalam budidaya komersial.  Tetapi kita juga tidak dapat membuka lahan baru karena memang sudah tidak ada yang tersisa. Lahan itu jumlahnya terbatas. Kalau kita ingin memberi makan dunia, kita harus melakukannya dengan cara yang berkelanjutan dengan meremajakan tanaman ketika secara biologis waktunya tiba. 

Membiarkan pohon tua di perkebunan kita juga merupakan bom waktu biologis bagi budidaya monokultur. Berbagai studi telah memperlihatkan bahwa pohon kelapa sawit tua lebih rentan dan dapat terjangkiti banyak Penyakit, terutama Ganoderma, yang tidak saja membuat pohon sakit tetapi juga membuat tanahnya tidak lagi dapat ditanami selama bertahun tahun. Banyak daerah di semenanjung Malaysia dan di Sumatra, dimana penanaman pohon kelapa sawit dulu dimulai, sekarang diterjang masalah yang hanya akan semakin memburuk ini. Penyakit dapat menyebar sangat cepat dalam suatu sistem budidaya monokultur karena disana hanya ada satu spesies tanaman saja yang ditanam.

Kita harus memikirkan dan juga mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyelamatkan diri kita sendiri agar tidak terperosok dalam lereng yang licin dari kapitalisme ekstrim.

Orang orang Singapura telah berhasil melalui ini dengan baik, tetapi dalam situasi yang berbeda. Mereka telah mampu mengekang selera warga mereka akan kendaraan. Mereka melakukan itu dengan apa yang saya sebut sebagai COE Singapura yang Hebat. 

Di akhir dasawarsa 80-an, Singapura menyadari bahwa dengan meningkatnya kemakmuran, negara pulau kecil ini akan disesaki oleh mobil dan pajak jalan yang konvensional atau bahkan pajak bahan bakar, tidak akan mampu mengekang nafsu orang untuk memiliki kendaraan pribadi. Mereka juga memerlukan uang untuk mendanai investasi di bidang transportasi umum mereka.

Dengan menyadari bahwa pulau mereka yang kecil itu tidak akan mampu menampung terlalu banyak kendaraan, Singapura kemudian menerapkan sebuah sistem kuota kendaraan (VQS) di awal tahun 1990-an. Inti dari sistem ini adalah apa yang dikenal sebagai Certificate of Entitlement(COE). Ini adalah sebuah sistem yang brilyan karena setiap orang yang ingin membeli sebuah mobil di Singapura harus terlebih dulu mengikuti semacam lelang untuk mendapatkan COE yang membolehkan seseorang memiliki izin memiliki kendaraan untuk masa sepuluh tahun saja. Bila mereka masih menginginkan untuk terus menggunakan mobil yang sama setelah sepuluh tahun, biayanya akan menjadi sangat tinggi.

Inilah yang berhasil mengendalikan jumlah mobil yang ada di Singapura. Begitu VQS sudah mencapai batas teratasnya, COE akan menjadi lebih mahal lagi. Secara tidak langsung, mobil mobil tua yang menghasilkan banyak polusi juga akan dengan sendirinya tersingkir. Sistem ini juga menghasilkan banyak uang untuk membiayai investasi dalam jaringan transportasi umum yang kini diakui bertaraf dunia.

Mungkin, kita perlu memikirkan untuk mengadopsi sistem yang sama untuk tanaman kelapa sawit yang tua. Semakin tua tanamannya, harusnya semakin tinggi COEnya atau Pajak Biologisnya.  Pohon kelapa sawit yang sudah melampaui umur produktifnya harus dikenakan pajak biologis, sehingga dapat menghasilkan dampak yang sama seperti dampak COE terhadap mobil di Singapura.

Para petani, demi menghindari keharusan membayar pajak biologis ini, pasti akan meremajakan kebun mereka atau menjual lahannya bila memang mereka menginginkannya. Mungkin juga, beberapa orang dengan otak cemerlang dapat menginvestasikan dana dari pajak biologis ini kedalam sebuah anuitas yang dapat diakses petani untuk meremajakan kebun mereka ketika dibutuhkan. 

Secara tidak langsung, pajak biologis juga dapat membebaskan lahan pertanian yang dulunya tidak produktif sehingga dapat digunakan oleh mereka yang memiliki sumber daya maupun keahlian untuk membuatnya lebih produktif dan berkelanjutan.

Mungkin, seseorang akan mengatakan bahwa “ Hey, walaupun ini merupakan ide yang bagus, bagaimana nanti memonitornya dan menerapkannya?”  Nah, bagian yang kedua adalah sebuah pertanyaan politis. Siapapun atau badan apapun yang anda anggap mampu bertanggung jawab dengan baik dapat anda pilih untuk menerapkan sistem ini. Mungkin dari pihak pemerintah, atau kombinasi industri dan pemerintah, seperti misalnya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) di Indonesia. 

Sementara bagian pertamanya bagi saya sendiri cukup jelas, Kita seharusnya menggunakan satelit dan kecerdasan buatan yang sekarang ini kita gunakan untuk memata-matai orang lain, untuk memetakan secara spasial maupun biologis tanaman kelapa sawit kita. Teknologinya sudah ada, kecerdasan buatan dan satelit tidak saja dapat menghitung jumlah tanaman kelapa sawit yang ada miliki dan menentukan umur mereka tetapi dapat juga memperlihatkan apakan anda malas dan mengirit dalam menanamkan nutrient yang seharusnya anda tanamkan di perkebunan anda.

Kita kini tidak lagi perlu mengirimkan banyak sumber daya manusia ke perkebunan-perkebunan di seluruh penjuru negeri untuk melakukan hal ini. Sebagian besar dari pekerjaan ini dapat dilakukan dari rumah dengan koneksi internet dan teknologi, bahkan tanpa perlu memakai celana, seperti yang mungkin sudah menjadi kebiasaan selama di rumah di masa Jeda Agung ini.

Apakah pajak biologis ini terlalu mengada-ada? Pikirkanlah bahwa di Indonesia dan di sebagian besar Malaysia, kepemilikan tanah juga dibatasi oleh pemerintah, kecuali anda menanam di lahan yang merupakan hak milik anda sendiri, suatu keadaan yang luar biasa jarang . Pemerintahan di seluruh dunia juga membatasi kepemilikan tanah dengan maksud yang sama dan menarik bayaran dari anda untuk selalu memperbaharui kepemilikan lahan ini supaya dapat dipastikan bahwa lahan itu tetap akan produktif. 

Beberapa kalangan mengatakan bahwa permasalah apakah meremajakan tanaman atau tidak hanyalah permasalahan bagi petani kecil saja.Ya, benar, tetapi petani kecil ini menghasilkan 40 persen dari minyak sawit dunia, sebuah jumlah yang cukup berarti. Tetapi bila kita ingin jujur, ad juga banyak korporasi yang melalaikan tanggung jawab mereka untuk meremajakan kebun mereka. 

Yang jelas, selama belum ditemukan sebuah bibit kelapa sawit yang dapat memiliki produktivitas selama lamanya,  meremajakan tanaman merupakan kepentingan bagi semua pihak ketika secara biologis sudah waktunya. Bahkan juga bagi Hamlet, kalau saja dia seoran petani kecil kelapa sawit. 

Jadi, siapa sangka sebuah kalimat dari Shakespeare dalam cerita Hamlet kini juga berlaku bagi industri kelapa sawit juga….

*) Denys Collin Munang adalah Chief Sustainability Officer Group DSN

Baca lebih banyak Oped disini.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Ikuti media sosial kami untuk terus mendapatkan kabar mengenai kelapa sawit, Anda dapat menemukan tautannya di sisi kiri halaman ini.
Share This