Dunia tengah menghadapi kelangkaan pasokan minyak nabati dan situasi akan memburuk kecuali kita mengubah cara pandang terhadap ekspansi, produktivitas, dan keberlanjutan kelapa sawit. Demikian peringatan dari Sebastian Sharp, Kepala Hubungan Investor, PT Eagle High Plantations Tbk.

ILUSTRASI. Buah segar kelapa sawit siap diolah.

Di ujung bulan Oktober, keremangan mengiringi tenggelamnya matahari di sebuah kawasan sepi di Kalimantan Tengah. Saya mengamati kebun kelapa sawit yang masih muda melalui pagar yang terkunci sambil mengobrol dengan sang pemilik kebun yang terus-menerus mengisap dan mengepulkan asap dari rokok kreteknya. “Sudah dua tahun tidak dipupuk,” katanya dengan suara parau.

Satu bulan kemudian, langit biru dan matahari bersinar di atas Pulau Bali, tetapi di dalam gedung Nusa Dua Convention Centre, petir seperti sambung-menyambung ketika pembicara demi pembicara dalam Konferensi Kelapa Sawit Indonesia ke-13 dan Prakiraan Harga Tahun 2018, mengingatkan tentang kondisi industri kelapa sawit yang semakin terpuruk.

Ketika konferensi yang diprakarsai oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan mengambil tema “Pertumbuhan Melalui Produktivitas: Kemitraan dengan Petani Kecil” usai, tampaknya sudah jelas bagi semua yang hadir bahwa industri ini kemungkinan besar sedang menuju sebuah krisis.

Sebuah krisis yang berakar pada produksi kelapa sawit yang mengecewakan dalam beberapa tahun terakhir ini, sementara permintaan akan minyak nabati dunia terus menanjak dengan pasti.

Meskipun terjadi kenaikan nyata dalam produksi kelapa sawit setelah tingkat produksi yang rendah akibat cuaca yang tidak bersahabat dalam satu dua tahun ini, pasokan kelapa sawit masih ketat dan perkiraan pasokan di masa mendatang juga tidak kalah terbatasnya.

Dorab Mistry, seorang pakar persawitan dari Godrej International Limited, salah satu grup industri terkemuka di India, merupakan salah satu pembicara di konferensi ini yang mengemukakan perkiraan yang paling kelam dalam industri persawitan. Ia mengatakan bahwa pada Juni tahun depan, pasokan minyak sawit akan mengalami peningkatan paling ketat yang pernah dialami industri ini.

Sampai saat ini, kelapa sawit masih merupakan tanaman penghasil minyak konsumsi yang paling efisien, baik berdasarkan luas lahan yang dibutuhkan maupun dari ongkos produksi. Kelapa sawit mampu menghasilkan minyak terbanyak per hektare serta dapat dipanen sepanjang tahun. Namun produksinya ternyata pas-pasan untuk menutupi kebutuhan yang ada. Produksi minyak sawit Indonesia, kini penghasil dan sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia, terhambat oleh produktivitas yang rendah serta semakin terbatasnya lahan yang tersedia untuk perluasan areal tanam. Stok yang ada pun rendah.

Pembicara lain, Fadhil Hasan (Direktur Eksekutif Gapki), mengatakan bahwa produksi nasional Indonesia pada 2018 diperkirakan akan meningkat sedikit, dari sekitar 36,5 juta ton tahun ini menjadi 38,5 juta ton tahun depan. Artinya, ada kenaikan sekitar 5,5 persen.

Selain tingkat pertumbuhan produksi sawit yang rendah, pasaran minyak nabati mungkin masih akan menderita karena kedelai, salah satu sumber utama minyak nabati lain, sudah tujuh tahun belakangan ini mengalami panen raya.

Terbatasnya pasokan minyak nabati dunia tentu saja akan berakibat kepada kenaikan harga, dan mungkin saja kenaikan ini akan cukup curam, dan dengan demikian menekan harga barang konsumsi lain, serta mengurangi pengeluaran.

Tetapi kemungkinan terjadinya krisis sebenarnya juga merupakan kesempatan yang baik bagi industri sawit untuk tumbuh lebih baik. Setelah beberapa tahun mengalami pertumbuhan produksi yang tak seberapa, kesempatan untuk dapat tumbuh dengan pesat sebaiknya jangan sampai terabaikan.

Pertumbuhan dapat dicapai dengan dua cara.

Cara pertama adalah melalui produktivitas. Namun beberapa pembicara dalam konperensi sawit di Bali telah menunjukkan bahwa produktivitas kelapa sawit sudah tidak beranjak naik selama sepuluh tahun terakhir ini. Usaha untuk meningkatkan produktivitas tidak saja akan memerlukan komitmen yang tinggi, tetapi juga kerja dan biaya investasi yang tinggi pula. Bahkan, bila melihat pengalaman pertumbuhan produktivitas pada tanaman-tanaman penghasil minyak nabati lainnya, kenaikan produktivitas saja tidak akan cukup untuk menutupi kencangnya kenaikan permintaan, serta hanya akan mampu menambahkan satu dua persen saja pada pertumbuhan produksi tahunan.

Cara kedua adalah melalui ekstensifikasi, perluasan lahan tanam bagi kelapa sawit. Menanam lebih banyak lagi lahan dengan kelapa sawit ini.

Dengan terbatasnya kontribusi produktivitas yang lebih tinggi, serta besarnya biaya investasi yang diperlukan, ekstensifikasi menjadi seperti pilihan tunggal yang tersisa. Kecuali, tentu saja, bila dunia tiba-tiba berhenti menggunakan minyak nabat.

Namun, betapa pun sederhananya solusi seperti ini terlihat, ekspansi lahan perkebunan di Indonesia ini sebenarnya juga menghadapi permasalahan yang serius. Industri kelapa sawit di negeri ini sebenarnya sudah tidak bisa lagi tumbuh dan salah satu penyebabnya adalah alasan keberlanjutan. Industri kelapa sawit kini sudah diatur dengan sangat ketat oleh pemerintah dan kelompok-kelompok keberlanjutan dengan persyaratan-persyaratan mereka yang tidak akan memungkinkan pertumbuhan apa pun terjadi.

Rendahnya pertumbuhan, serta menurunnya industri sawit Indonesia dapat dilihat dari luasan penanaman kembali kelapa sawit. Dari sekitar 600,000 hektare perkebunan kelapa sawit akan segera memasuki masa yang tidak lagi produktif, hanya 150.000 hektare yang diremajakan. Sementara itu, 150.000 hektare lagi juga membutuhkan penanaman kembali yang mendesak. Hal ini berarti tidak adanya sama sekali pertumbuhan luasan lahan perkebunan kelapa sawit. Dalam empat tahun ke depan, perkebunan seluas 600.000 hektare lagi juga harus diremajakan.

Salah satu pertanda kerusakan yang sedang terjadi dalam industri sawit adalah keterpakuannya kepada rasio ekstrasi minyak (OER) yang tinggi. Rasio ini mengukur jumlah minyak yang dapat dihasilkan dari berat tandan buah tertentu. Berat ini sebenarnya terutama ditentukan oleh kandungan air dalam tandan buah ini. Rasio ini kini dianggap penting dalam mengukur produksi minyak. Padahal sebenarnya tidak begitu. Rasio ini sebenarnya mengukur tingkat pembusukan buah. Ketika tandan buah berhenti tumbuh, mereka mati dan airnya pun menguap. Akibatnya OER-nya juga akan menguat.

Ada tiga solusi untuk menggairahkan kembali sektor kelapa sawit dan meningkatkan produksi nasional.

Pertama, mengubah pemahaman tentang keberlanjutan. Keberlanjutan berarti pertumbuhan dan sesuatu yang sudah tidak dapat tumbuh lagi tidak berkelanjutan. Artinya mati. Keberlanjutan harus dapat menemukan titik di mana ia dapat merasa nyaman dengan penanaman kelapa sawit dan adanya pertumbuhan kembali di sektor ini. Kalau tidak, yang akan terjadi adalah lonjakan harga di masa mandating, karena produksi menjadi stagnan, sementara permintaan terus membubung.

Solusi kedua adalah mekanisasi. Produktivitas harus ditingkatkan melalui mekanisasi. Ini memerlukan perubahan pola piker, karena sekarang ini mekanisasi diartikan sebagai hilangnya mata pencarian orang dan karenanya merupakan dampak negatif yang harus dihindari. Sebenarnya dengan berkurangnya tenaga kerja, pekerja yang tersisa bisa memperoleh pendapatan yang lebih besar dan karenanya akan memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan, sehingga dapat menciptakan kesempatan kerja di tempat lainnya. Malah bertambah, bukannya berkurang.

Solusi ketiga adalah memusatkan perhatian kepada mutu. Kebalikan dari pembusukan yang berkaitan dengan OER adalah mutu asam lemak bebas atau Free Fatty Acid (FFA). Semakin segar tandan buah sawit, semakin baik mutunya. Ketika tandan buah ini masih segar, OER-nya mungkin rendah, tetapi karena kandungan FFA-nya juga rendah, ia juga dianggap bermutu baik.

Dalam perubahan pola pikir ini, seperti halnya memindahkan pusat perhatian kita kepada kehidupan daripada fokus kepada kematian, karena penekanannya kini terhadap mutu dan bukan kepada OER.

Pemanenan, transportasi, dan penanganan tandan buah segar yang lebih cepat akan mengurangi kemungkinan rusaknya tandan buah segar, sehingga kandungan FFA-nya akan tetap rendah. Walaupun sebenarnya kandungan FFA yang lebih tinggi tidak mengurangi mutu bagi mereka yang mengkonsumsi minyak mentah sawit itu secara langsung. Yang bermasalah adalah para penyuling minyak ketika mereka hendak menetralisasi kandungan FFA yang tinggi dalam kelapa sawit.

Ketika semua di sekeliling Anda membusuk dan terus berkurang, terbuka kesempatan untuk berbuat sesuatu yang baru dan berkembang. Tidak saja untuk mendapakan pangsa pasar yang lebih baik, tetapi juga untuk menciptakan pasar-pasar baru. Kita sudah melihat hal ini terjadi di sektor ritel, transportasi, perjalanan, dan baru-baru ini dalam bidang keuangan. Siapa pun yang dapat mengambil kesempatan di sektor kelapa sawit, dia akan meraih keuntungan besar.

Penulis: Sebastian Sharp, Kepala Hubungan Investor, PT Eagle High Plantations Tbk.

Share This