The Palm Scribe

Sawit di Eropa: ditolak parlemen, diterima pasar

Aliansi Kelapa Sawit Eropa (European Palm Oil Alliance/EPOA) menyatakan dukungannya kepada Indonesia dalam menangani kampanye hitam terhadap industri sawit.

ILUSTRASI. Seorang pekerja sedang mengangkut sawit ke truk.

“Atas nama industri minyak sawit, kami meminta persaingan yang sehat. Kami menentang diskriminasi terhadap produk minyak nabati tertentu seperti kelapa sawit.” Ujar Ketua EPOA Frans Claassen kepada Warta Ekonomi. Hadirnya dukungan EPOA ini bukan semata untuk mempromosikan sawit untuk kepentingan ekonomi, melainkan memberikan fakta dan konsepsi yang benar terhadap industri sawit..

EPOA menolak keputusan Parlemen Eropa dengan alasan 70% produk sawit Indonesia yang masuk Eropa sudah mempunyai CSPO. “Kami adalah kawan Anda di Eropa. Kawan yang sesungguhnya adalah kawan yang saling membutuhkan,” kata Ketua EPOA Frans Claassen kepada Bisnis Indonesia. Larangan impor sawit oleh Uni Eropa juga dapat membahayakan nasib hampir 5 juta petani di Indonesia.

Pelarangan impor sawit ke Eropa terbilang mengejutkan, sebab dalam beberapa tahun terakhir Benua Biru tersebut merupakan salah satu importir CPO terbesar dari Indonesia. Sikap EPOA menunjukkan adanya perbedaan kepentingan antara pemerintah dan pelaku usaha di Eropa.

produksi sawit di pasar internasional sampai saat ini dikuasai oleh Indonesia dan Malaysia. Kuantitas sawit yang dihasilkan dari kedua negara tersebut mencapai 90% dari total produksi sawit dunia. Negara tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia adalah China, India, Pakistan, dan Belanda. Perkembangan industri sawit di Indonesia terbilang cepat dan stabil, dalam beberapa tahun terakhir sawit juga menjadi komoditas yang mendatangkan devisa terbesar bagi Indonesia. Oleh karenanya, sawit merupakan industri penting bagi Indonesia dan pasar internasional.

Pelarangan impor sawit oleh Eropa tentunya berdampak terhadap penjualan komoditas ekspor sawit Indonesia kedepannya, namun bukan berarti industri sawit dalam negeri Indonesia akan terguncang. Luasnya pangsa pasar sawit Indonesia juga membuktikan bahwa kualitas produk sawit yang ditawarkan Indonesia mempunyai standard internasional, masih banyak peluang pasar yang dapat diekspansi oleh Indonesia dengan modal tersebut; misalnya pasar sawit di Amerika Utara.

Amerika Utara saat ini sedang fokus untuk menggalakkan penggunaan produk sawit ramah lingkungan melalui pembentukan Jaringan Minyak Sawit Berkelanjutan Amerika Utara (North America Sustainable Palm Oil Network/NASPON). Pembentukan ini tentunya merupakan peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor sawit.

Hubbungan dagang Indonesia dengan negara di Amerika Utara terbilang erat. Pada tahun 2015 nilai ekspor sawit Indonesia ke Amerika mencapai hampir 60 ribu ton dan sampai saat ini penjualan sawit Indonesia ke negara Paman Sam tersebut cukup stabil, bahkan meningkat menjadi 83 ribu ton pada pertengahan tahun 2017.

sumber: RSPO Indonesia

Tiur Rumondang, RSPO Director Indonesia, mengatakan kepada The Palm Scribe bahwa Indonesia juga memiliki peran besar dan memiliki kesamaan visi dengan NASPON untuk menjaga dan memelihara lingkungan, serta menggalakkan program produk sawit bersertifikat. “Lebih dari 50% CSPO dunia diproduksi di Indonesia dan ini akan membantu NASPON dalam memenuhi tujuannya,” ujar Tiur Rumondang,

Jadi walaupun sampai sekarang industri sawit masih mendapat cap negatif dan perlakuan diskriminatif, Indonesia akan tetap mempunyai peluang besar untuk terus mengembangkan komoditas sawit berkelanjutan, karena tingginya kualitas CPO dan permintaan internasional.

Share This