politik-sawit

Ilustrasi

Salim Ivomas Pratama (SIMP) resmi mengundurkan diri dari keanggotaan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) terhitung tanggal 8 Januari 2019. Sebelumnya, anak perusahaan Salim Ivomas, PT London Sumatera (Lonsum) mengajukan pengunduran diri dari RSPO pada akhir Januari 2019.

Pengunduran diri tersebut telah mengakhiri keanggotaan SIMP sejak tahun 2004 melalui keanggotaan Lonsum sebagai anak perusahaan yang kemudian dilanjutkan oleh SIMP pada tahun 2007.

SIMP yang didirikan pada Agustus 1992 adalah anak dari raksasa bisnis Indofood Sukses Makmur.

Kepala Divisi Sustainability SIMP, Muhammad Waras, melalui rilis yang diterima The Palm Scribe menyatakan bahwa perusahaannya tidak mempermasalahkan aturan maupun kriteria keberlanjutan dari RSPO, melainkan kecewa terhadap keputusan RSPO untuk menghentikan operasional produksi Lonsum.

Waras menilai Sidang Panel Keluhan (Complaint Panel) RSPO tidak menyertakan bukti dan waktu yang cukup bagi SIMP untuk menanggapi tuduhan terhadap Lonsum; Pertama, Sidang Panel Keluhan tersebut tidak memperhatikan tanggapan terhadap laporan audit yang telah ditujukan kepada Lonsum. Kedua, usaha SIMP untuk mengadakan pertemuan bersama Panel Keluhan untuk berdiskusi telah ditolak berulang kali. Ketiga, pihak Panel Keluhan tidak menjawab satupun pertanyaan terhadap verifikasi laporan audit antara tanggal 4 sampai dengan 6 Juni 2018.

Kedepannya, Waras menyatakan bahwa SIMP akan terus berkomitmen dan fokus dalam menjalankan produksi berkelanjutan. “Kami akan fokus mengimplementasikan standar keberlanjutan dalam koridor Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO),” ujarnya dalam rilis.

Indonesian Sustainable Palm Oil Sistem (ISPO) sering juga disebut sebagai “Versi Indonesia” dari RSPO. ISPO adalah kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar minyak sawit dunia, sekaligus berpartisipasi memenuhi komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi rumah kaca serta memberi perhatian terhadap masalah lingkungan.

ISPO dibentuk pada tahun 2009 oleh Indonesia untuk memastikan bahwa semua pihak dan pengusaha kelapa sawit memenuhi standar pertanian yang berkelanjutan.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSPO, Darrel Webber mengakui pihaknya telah terlambat dalam menanggapi pernyataan dari Lonsum maupun SIMP. Webber juga menjelaskan sudah mencoba untuk berkomunikasi via email maupun mengadakan pertemuan langsung, namun tidak berhasil.

Share This