The Palm Scribe

RSPO: Giliran Pembeli Kelapa Sawit Buktikan Komitmen Mereka Pada Keberlanjutan

Datuk Darrel Webber, Chief Executive Officer dari RSPO pada RT17

BANGKOK – Setelah produsen kelapa sawit memperlihatkan komitmen mereka untuk menaati standar keberlanjutan yang ketat dibawah sistim Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), kini giliran pembeli untuk membuktikan komitmen mereka dengan membeli lebih banyak lagi minyak kelapa sawit berkelanjutan, seorang eksekutif RSPO mengatakan pada hari Rabu (6/11) saat penutupan acara RT17.

“Para produsen sudah memperlihatkan komitmen mereka pada standar yang jauh lebih ketat, adalah adil dan bahkan sesuatu yang mutlak perlu, jika pembeli memperlihatkan komitmen mereka sekarang,” ujar Anne Rosenberg, salah satu Ketua Bersama RSPO ketika menutup Pertemuan Meja Bundar Tahunan ke 17 (RT17) mengenai Kelapa Sawit Berkelanjutan.

“Letakkan uang dimana mulut anda berada, kurang lebih begitu. Belilah lebih banyak minyak kelapa sawit berkelanjutan,” himbaunya kepada para pembeli minyak sawit yang mengikuti RT17.

Tema konferensi tahun ini adalah “Berbagi Tanggung Jawab: Mengubah Komitmen Menjadi Aksi,” dan Rosenberg mengatakan bahwa RSPO sudah mulai menangani, mencoba mendefinisikan peran dan tanggung jawab yang jelas begi semua kategori keanggotaan dan mencari bagaimana memastikan adanya akuntabilitas sebagai bagian dari semangat berbagi tanggung jawab.

“Tak satupun kelompok pemangku kepentingan yang sanggup mengerjakan ini sendirian, kita perlu berhenti saling menyalahkan dan harus menjadi lebih akuntabel,” serunya.

Ia mengatakan bahwa sebenarnya kesadaran tentang usaha membuat minyak kelapa sawit berkelanjutan menjadi sebuah norma merupakan tanggung jawab kolektif, adalah apa yang pada awalnya menyatukan berbagai pemangku kepentingan dalam mendirinkan RSPO.

Rosenberg, yang berasal dari LSM, mengatakan bahwa salah satu cara bagi anggota RSPO yang berasal dari kelompok ini untuk lebih terlibat dalam mempromosikan kebelanjutan adalah dengan membantu meningkatkan kesadaran mengenai minyak kelapa sawit berkelanjutan. Ini menurutnya adalah bagian dari tanggung jawab dari kalangan LSM.

“Kita semua tahu bahwa kelapa sawit berkelanjutan sangat membutuhkan rebranding dan bagain dari tantangan ini adalah bagaimana mengkomunikasikan kepada konsumen, pesan-pesan yang kadang penuh nuansa, bahwa walaupun ada masalah-masalah yang harus dihadapi, mendukung kelapa sawit yang berkelanjutan adalah pendekatan yang lebih baik guna mengubah arah industri ini ke arah yang benar, daripada melakukan boikot total,” ujarnya.

Pesan seperti ini, imbuhnya, akan menjadi jauh lebih berarti dan terpercaya bila datang dari LSM sosial atau lingkungan, daripada dari sebuah perusahan, yang merupakan pemain di industri ini.

Ia mengatakan bahwa perusahaan juga harus lebih transparan dan melaporkan kemajuan-kemajuan yang telah mereka capai menuju keberlanjutan secara konsisten dan terukur.

Konferensi RT17 yang dimulai para hari Minggu (4/11) dengan serangkaian persiapan pertemuan, diikuti oleh Rapat Umum Anggota  RSPO ke-16. Diantara agenda utama rapat umum anggota ini adalah pengambilan suara mengenai standar sertifikasi keberlanjutan RSPO yang baru bagi petani kecil kelapa sawit.

Selama berlangsungnya konferensi RT17 ini, banyak terdengar himbauan agar organisasi ini lebih inklusif dan berusaha menarik lebih banyak lagi petani kecil kelapa sawit dalam keanggotaannya. Petani kecil kelapa sawit mengelola sekitar 40 persen dari luas perkebunan kelapa sawit di dunia, tetapi sering kali tidak terjamah oleh usaha-usaha mencapai industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Share This