The Palm Scribe

RSPO Berusaha Menjadi Magnet Bagi Petani Kecil Kelapa Sawit

Foto: AFP

Skema sertifikasi keberlanjutan di bidang kelapa sawit, Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) kini sedang berupaya menarik lebih banyak petani kecil kelapa sawit untuk bergabung dalam program keberlanjutan.

“Standar baru untuk petani kecil mungkin bisa diperkenalkan November ini bila tidak ada halangan,” ujar Imam El Marzuq, manajer pelibatan komunitas RSPO kepada The Palm Scribe dalam sebuah wawancara baru baru ini.

Pemegang gelar sarjana kehutanan dari Universitas Gadjah Mada yang sudah lebih dari tujuh tahun berkecimpung dengan permasalahan petani kecil kelapa sawit ini, mengatakan bahwa RSPO sangat menyadari rasio petani kecil kelapa sawit yang sudah menerima sertifikasi keberlanjutan adalah sangat kecil dibandingkan jumlah mereka secara keseluruhan.

Petani kecil, baik swadaya maupun plasma, mengelola sekitar 42 persen kebun kelapa sawit di Indonesia.

Data RSPO sendiri memperlihatkan bahwa sampai bulan Juli 2019, petani kecil yang sudah bersertifikasi di dunia berjumlah 144.943 orang, dengan 5.114 diantaranya adalah petani kecil swadaya, yang tergabung dalam 23 kelompok. Total produksi mereka mencapai 8,37 persen dari pasokan kelapa sawit dunia.

Untuk memotivasi petani kecil memperoleh sertifikasi, RSPO kini sedang menyiapkan sebuah standar sertifikasi keberlanjutan yang khusus bagi petani kecil, baik swadaya maupun plasma.

“Dalam standar sebelumnya, tidak disebutkan petani kecil secara spesifik. Namun dalam standar yang baru, mereka akan berdiri sendiri,” ujarnya mengacu kepada Prinsip dan Kriteria RSPO terbaru yang disahkan pada bulan November tahun lalu.

“Dalam strategi untuk petani kecil , bila dilihat dari potensinya, pencapaian yang ada masih sangat kecil karena itu diperlukan rancangan strategis untuk menarik mereka untuk ikut dalam keberlanjutan,” imbuh Imam.

Dalam standar yang sedang dipersiapkan, proses sertifikasi bagi petani kecil tidak lagi harus melengkapi semua persyaratan 100 persen sebelum memperoleh sertifikasi. Kini proses ini dibagi kedalam tiga tahapan terpisah, masing-masing dengan membawa keuntungan tersendiri bagi si petani. Dalam pendekatan bertahap ini, menurut Imam, petani kecil akan dapat mencapai kepatuhan penuh dalam jangka waktu tertentu.

“Mereka tidak perlu harus menyelesaikan prosesnya secara menyeluruh dulu sebelum dapat memperoleh keuntungannya,” ujarnya.

Ketiga tahapan tersebut adalah Eligibilitas (E);  Tonggak Capaian A (TC A); dan Tonggak Capaian B (TC B), dimana yang terakhir ini berarti kepatuhan penuh kepada prinsip dan kriteria keberlanjutan.

Pada tahap dasar, yaitu tahap E, kelompok petani kecil harus dapat memenuhi semua persyaratan dasar untuk mendapatkan sertifikasi, mereka juga harus bergabung dalam suatu kelompok atau organisasi untuk dapat disertifikasi.

Indikator yang harus dipenuhi termasuk legalitas kelompok seperti dokumen legal, sistim pengambilan keputusan yang transparan dan sistim pengeloloaan yang baik dan sebagainya.

Para petani kecil ini juga harus menandatangani dokumen yang menyatakan semua kepemilikan lahan mereka beserta status kepemilikan/penggunannya dan apakah terdapat konflik disitu. Dokumen ini juga berisi komitmen mereka kepada keberlanjutan, termasuk tidak akan membuka perkebunan baru atau perluasan kebun di  hutan primer, daerah dengan Nilai Konservasi Tinggi, daerah penyangga, tanah curam maupun di lahan gambut, serta tidak  adanya kerja paksa atau pekerja anak.

Begitu eligibilitas ini diakui, para petani kecil ini memperoleh ruang untuk menjual separuh dari produksinya dalam bentuk label eligibilitas, semacam kredit terkait RSPO.

Dalam sistim ini, Tandan Buah Segar (TBS) tidak diperdagangkan secara fisik namun dijual dalam bentuk kredit kepada pihak ketiga yang memiliki komitmen untuk mendorong keberlanjutan diantara para petani kecil. Pembeli kredit ini kemudian akan berhak untuk menempelkan label pada produknya yang menyatakan bahwa pembeli tersebut turut serta dalam program keberlanjutan bagi petani kecil, dan mereka juga tetap dapat menjual TBS mereka di pasaran seperti biasa.

Dalam tahap kedua, para petani kecil ini diberi waktu sampai dua tahun untuk dapat memenuhi semua indikator yang dipersyarakan bagi TC A.

Indikator ini mencakup pembentukan sistim kontrol internal serta mengikuti serangkaian pelatihan dan kursus mengenai penjualan, dinamika kelompok, praktik terbaik bagi organisasi petani kecil dan juga mengenai operasional, monitoring, dan perencanaan bisnis serta pencatatan.

Pemenuhan indikator ini akan memberikan ruang bagi petani untuk menjual separuh dari TBS mereka sebagai TBS berkelanjutan kepada pabrik kelap sawit yang juga tersertifikasi, serta juga dapat menjual separuh TBS mereka untuk memperoleh kredit RSPO.

Dalam tahapan TC B, atau tahap terakhir yang harus dapat dicapai dalam waktu satu tahun, petani kecil akan mendapatkan sertifikasi keberlanjutan.

Pada tahap ini semua anggota kelompok harus dapat memperlihatkan kemampuan untuk 100 persen tunduk kepada indikator keberlanjutan. Mereka akan dapat menjual seluruh produksi mereka sebagai produk tersertifikasi dan disamping itu juga dapat menjual 100 persen TBS mereka untuk memperoleh kredit RSPO.

Pada tahap ini semua kelompok petani harus dapat beroperasi sesuai dengan praktek pengelolaan terbaik bagi kelompok, mengelola kebun mereka secara efektif serta mennyimpan catatatan produksi dan transaksi bagi semua TBS mereka. Mereka juga harus mempraktekan budidaya yang baik serta mampu melacak tingkat produktivitasnya. Lahan mereka juga harus bebas dari konflik apapun serta memiliki batas batas yang jelas.

Para pekerja juga harus memiliki akses kepada kartu identitas mereka, serta memiliki kebebasan bergerak. Tidak boleh ada pekerja anak (dibawah 15 tahun) serta para pekerja muda juga harus menerima gaji serta fasilitas lainnya seperti perumahan, layanan kesehatan dan pendidikan, serta tidak boleh dipekerjakan di bagian yang dapat membahayakan mereka secara mental dan fisik.

“Belajar dari statistik, kita memerlukan lebih banyak petani untuk bergabung dan karena itu kita perlu memotivasi mereka,” ujar Iman, dengan menambahkan bahwa biasanya keuntungan ekonomis merupakan motivasi utama bagi para petani kecil ini dan karenanya, membuka akses kepada keuntungan ini pada tahap sedini mungkin merupakan kunci menarik mereka ke dalam keberlanjutan.

Share This