The Palm Scribe

Produksi Minyak Sawit Indonesia diperkirakan 49 juta ton tahun 2021: GAPKI

Tumbuhan kelapa sawit untuk b30

Gabungan Pengusaha Minyak Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan bahwa produksi minyak sawit Indonesia di tahun 2021 akan naik 4.18 persen mencapai 49 juta ton dibandingkan produksi tahun lalu yang mencapai 47,034 juta ton.

“Analisa kita, produksi masih akan naik walaupun tidak sangat besar, tetapi akan naik,”Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan dalam konferensi pers virtual Kamis (4/2), dengan perkiraan mencapai 49 juta ton minyak kelapa sawit mentah (CPO.)

Ia mengatakan bahwa harga sawit yang baik di tahun 2019 memungkinkan pemeliharaan kebun, terutama pemupukan, yang lebih baik di tahun berikutnya hingga produktivitas tanaman pun menjadi lebih baik. Cuaca juga diperkirakan mendukung dan harga tetap menarik, hingga produksi diperkirakan akan meningkat.

Disamping CPO, Indonesia juga diperkirakan akan menghasilkan 4,65 juta ton Palm kernel oil (PKO) dibandingkan dengan 4,55 juta ton tahun sebelumnya

Walaupun Indonesia, seperti di belahan dunia lainnya mengalami pelemahan ekonomi akibat pandemic COVID-19, sektor konsumsi dalam negeri diproyeksikan akan meningkat

“Paling tidak bila dibandingkan dengan tahun lalu, akan mengalami peningkatan,” ujar Joko dengan memperkirakan konsumsi domestik minyak sawit,  termasuk oleokimia dan biodiesel, akan dapat mencapai 18,504 juta ton di tahun 2021 

Ia mengatakan bahwa program mandatory B30 pemerintah merupakan pendorong utama kenaikan konsumsi minyak sawit dalam negeri. “Dengan komitmen pemerintah untuk melanjutkan program B30, konsumsi biodiesel diperkirakan sebesar 9,2 juta KiloLiter yang setara dengan 8 juta ton minyak sawit, “ujarnya.

Penggunaan oleokimia diperkirakan akan mencapai 2 juta ton di dalam negeri sementara untuk ekspor diperkirakan akan mencapai 4,5 juta ton.

“Kenaikan ekspor akan sangat tergantung apakah vaksin (COVID_19) in akan bisa mengcover sebagian besar wilayah dunia atau tidak. Menurut saya permintaan akan sangat tergantung kepada program vaksinasi yang sekarang sedang dijalankan,” ujarnya dengan mengatakan bahwa bila program vaksinasi in berhasil, maka demand akan pulih dan meningkat.

Ia memproyeksikan ekspor akan meningkat di tahun 2021 dengan perkiraan ekspor CPO mencapai 7,500 juta ton dibandingkan dengan 7,171 juta ton tahun lalu.  Ekspor produk olahan CPO diproyeksikan akan naik 13.73 persen menjadi 24 juta ton sementara ekspor produk turunannya seperti laurik dan oleokimia, diperkirakan akan mencapai 6 juta ton.  

Joko juga memperinci beberapa isu penting yang akan menjadi fokus kegiatan GAPKI tahun ini 2021.  GAPKI, tuturnya akan mengawal penerapan Undang-Undang Cipta Kerja (UUCK) yang telah diundangkan tahun lalu dan penerbitan Peraturan Perundangan turunannya. GAPKI akan mengamankan undang-undang dan turunannya agar penerapannya dapat mencapai tujuan penerbitan undang-undang itu sendiri yaitu meningkatkan investasi serta perampingan prosedur bisnis maupun investasi.

GAPKI, tambahnya, juga akan terus menguatkan penerapan keberlanjutan dengan mempercepat Sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) bagi semua anggotanya, dan juga memperkuat kemitraan untuk peningkatan percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Berbicara mengenai tahun 2020, Joko mengatakan walaupun negara mengalami pandemi, sektor sawit di negeri ini masih tetap dapat beroperasi dan bertahan dengan baik.

“2020 konsumsi dalam negeri itu sebenarnya naik dibanding 2019, ini perlu juga kita syukuri karena di semua sektor turun konsumsi dalam negeri kita naik,” kata Joko dengan menambahkan bahwa kenaikan ini ditopang oleh kenaikan konsumsi biodiesel menyusul kebijakan B30 pemerintah yang dipertahankan serta kenaikan konsumsi oleokimia.

Konsumsi oleokimia naik 60.51 persen menjadi 1,695 juta ton di tahun 2020 sedangkan konsumsi biodiesel naik hampir 24 persen mencapai 7,226 juta ton.

Sementara itu Kebijakan pembatasan skala besar (PSBB) akibat Covid-19 menyebabkan penurunan konsumsi untuk pangan turun 14,52 persen menjadi 8,428 juta ton di tahun 2020.

Melemahnya permintaan dunia akan minyak sawit karena melambatnya ekonomi di masa pandemi dan beberapa sebab lainnya, juga menekan ekspor minyak sawit Indonesia di tahun 2020.

Ekspor CPO turun dari 7,399 juta ton di tahun 2019 menjadi 7,171 juta ton tahun 2020, sementara volume ekspor olahan CPO juga turun dari 23,736 juta ton menjadi 21,103 juta ton. 

Ekspor laurik turun 4,5 persen menjadi 1,831 juta ton sementara ekspor biodiesel anjlok 97,2 persen menjadi 31.000 ton. Ekspor Oleokimia sebaliknya, naik 20,3 persen menjadi 3,871 juta ton tahun 2020

Joko juga menekankan bahwa minyak kelapa sawit berkontribusi besar terhadap keuangan negara dengan menyumbangkan $22,9 miliar kepada neraca perdagangan Indonesia di tahun 2020.

“Poinnya adalah bahwa sawit penting dan dominan berkontribusi kepada neraca perdagangan Indonesia,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa kontribusi dari minyak sawit yang $22,9 milyar itu memungkinkan Indonesia mencetak surplus pada neraca perdagangannya di tahun 2020 sebesar $21.7 miliar.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This