The Palm Scribe

Produksi Minyak Sawit Indonesia akan Meningkat 25% Dalam Dasawarsa Mendatang: FAO

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan bahwa produksi minyak sawit Indonesia, produsen terbesar komoditas ini di dunia, akan tumbuh 25 persen dalam satu dasawarsa mendatang hingga tahun 2029, salah seorang pakarnya mengatakan Selasa (15/12)

“Pertumbuhan produksi di Indonesia diperkirakan akan sebesar sekitar 25 persen, dengan pertumbuhan produktivitas menyumbang 75 persen dari itu,” demikian kata Holdger Matthey, pakar ekonomi senior dan Team Leader Aliran Pasar dan Perdagangan FAO.

Berbicara pada konferensi daring the Future-Proofed Palm Oil 2020 mengenai proyeksi produksi minyak sawit di tahun 2029, Holdger mengatakan bahwa negara produsen komoditas ini kedua terbesar di dunia, yaitu Malaysia, diperkirakan akan tumbuh delapan persen dalam dasawarsa yang sama.

“Untuk pertumbuhan 25 persen di Indonesia dalam sepuluh tahun mendatang, lima persen diantaranya  datang dari (perluasan) lahan dan sisanya dari perbaikan produktivitas,” ujarnya, dengan menambahkan bahwa pertumbuhan yang rendah di Malaysia disebabkan oleh kecilnya perluasan lahan serta meningkatnya biaya buruh pekerjanya.

Holdger mengatakan bahwa di tahun 2029, Indonesia dan Malaysia akan tetap merupakan kedua produsen terbesar minyak sawit, dengan menghasilkan 83 persen dari produksi global di tahun tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa produksi dari produsen produsen baru juga akan meningkat tetapi lebih untuk memenuhi pasar domestic dan regional.

Holdger mengatakan bahwa secara global, pertumbuhan produksi memang diperkirakan akan datang dari perbaikan produktivitas karena luas areal tanam diperkirakan akan stabil. Namun ia mengatakan bahwa di Kolombia misalnya, diperkirakan porsi yang signifikan dari pertumbuhan produksi akan berasal dari ekspansi lahan.

Thailand, Kolombia dan Nigeria merupakan negara produsen minyak kelapa sawit yan baru menanjak dan walaupun produksi ketiganya memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan secara volume, total produksi ketiganya masih jauh dibawah produksi kedua negara produsen utamanya – Indonesia dan Malaysia.

FAO, menurutnya, percaya bahwa minyak sawit akan tetap menjadi komponen penting konsumsi minyak nabati di negara negara produsen maupun importir dan bahwa permintaan akan minyak nabati, termasuk minyak sawit, akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya populasi dunia

Minyak sawit, menurutnya, merupakan sumber kalori penting, terutama di negara negara berpendapatan rendah, Di tahun 2029 diperkirakan  minyak sawit akan menyumbankan sekitar 3,4 persen konsumsi kalori di negara negara berpendapatan menengah bawah dan berpendapatan rendah.

Selain bahan pangan, minyak sawit juga merupakan bahan pembuatan biofuel dan minyak ini diperkirakan akan terus stabil menyumbangkan 30 persen dari bahan asupan bagi biodiesel. Selain itu minyak sawit juga banyak digunakan di sektor kosmetik maupun perawatan badan.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This