The Palm Scribe

Petani Kelapa Sawit Menyambut Baik Mandatori B30

palm oil plant for the b30

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyambut baik penerapan B30, campuran 30 persen minyak kelapa sawit dalam biodiesel dan rencana pemerintah untuk terus meningkatkan rasio penggunaan minyak kelapa sawit sebagai campuran biodiesel, dengan mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut mendorong naik permintaan domestik akan minyak kelapa sawit mentah (CPO ) dan akan berdampak baik bagi jutaan petani perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

“Penerapan B30 dan B selanjutnya akan menciptakan permintaan domestik akan CPO yang akan sangat besar, selanjutnya menimbulkan multiplier effect terhadap 16.5 juta petani perkebunan kelapa sawit,” demikan Ketua APKASINDO Gulat Manurung mengatakan dalam keterangan tertulisnya kepada The Palm Scribe Senin (13/1.)

Gulat mengatakan bahwa dampak program B30 ini yang mulai diberlakukan tahun ini dirasakan baik pekebun kelapa sawit kecil maupun menengah serta para pekerja yuang bekerja di pabrik-pabrik kelapa sawit. Pemerintah juga berencana untuk terus melaksanakan uji coba bioldiesel dengan kadar campuran minyak kelapa sawit yang lebih tinggi lagi. Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral mengatakan uji coba B40 dan B50 akan dimulai di tahun ini juga.  

Ia mengatakan bahwa program B30, sudah mampu melambungkan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani dan bahkan sudah cukup mampu menghemat devisia negara sebesar Rp 110 trilyun dari penghematan impor minyak solar.

“Mandatori B30, B40, B50 dan seterusnya, adalah harapan, peluang, sekaligus tantangan bagi industri perkebunan kelapa sawit,” ujar Gulat.

Peluang mendukung ketahanan pangan sekaligus kemandirian energi nasional harus dimanfaatkan dengan baik, ujarnya. “Tidak ada kata terlambat,” sambungnya.  

Indonesia, menurutnya sudah terlalu lama terbuai dengan impor minyak solar dan bangga dengan statusnya sebagi eksportir CPO terbesar di dunia, namun kurang menyadari bahwa ketergantungan pada impor dan ekspor ini rentan terhadap fluktuasi harga di pasar internasional, maupun kepentingan pembeli.

“Selama ini kita hanya mainan dagang bagi mereka, tiba saatnya remote control dipegang oleh Indonesia,” sergahnya. 

Namun, Gulat juga mengingatkan bahwa pemerintah perlu cermat menjaga rasio ketersediaan bahan baku dengan kebutuhan, agar pabrik biodiesel tidak mengalami kesulitan dalam mencari dan mendapatkan bahan baku.

Ia menyebutkan perlunya mempercepat realisasi program peremajaan sawit rakyat, memastikan bahwa Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (APROBI) terus menyediakan fatty acid methyl esters (FAME) sebagai campuran biodiesel, pembangunan pabrik pengolahan sawit dan turunannya perlu didukung, kepastian hukum diberikan dan tata niaga TBS diperbaiki. 

Penyelesaian masalah perkebunan kelapa sawit dalam kawasan hutan juga harus diselesaikan segera, tambahnya.

Berita lainya mengenai B30 dapat ditelusuri disini.
Industri Perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This