The Palm Scribe

Petani Independen Bersertifikat RSPO Naik 52%

Foto: AFP

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mengatakan bahwa organisasinya terus mempromosikan inklusi petani yang lebih besar sambil memastikan bahwa persyaratan untuk keberlanjutandapat terpenuhi. RSPO juga menambahkan bahwa jumlah petani swadaya bersertifikasi RSPO naik 52 persen pada periode 1 Juli, 2018 – 30 Juni 2019 sementara jumlah total petani telah meningkat sebesar 165% selama periode tersebut.

“Saya sangat senang melihat pertumbuhan seperti ini dalam beberapa bagian penting dari rantai nilai minyak sawit berkelanjutan, khususnya yang berkaitan dengan petani kecil, tepat sebelum Standar Petani Kecil Mandiri diajukan untuk diadopsi pada konferensi tahunan kami pada bulan November ini. Saya yakin kita akan melihat angka-angka ini terus meningkat di tahun-tahun mendatang,” ujar Chief Executive Officer RSPO, Datuk Darrel Webber di Kuala Lumpur pada rilis Laporan Dampak 2019 RSPO.

Laporan tersebut menyatakan bahwa per 30 Juni 2019 terdapat 2.777 Petani Kecil Mandiri terdaftar dalam Sertifikasi Kelompok di Indonesia, sementara di Malaysia jumlahnya berdiri di 643, dan di Thailand di 1.884. Belum ada data yang tersedia tentang jumlah petani swadaya di sektor minyak kelapa sawit Indonesia, tetapi data resmi memperkirakan bahwa 35 persen dari produksi minyak sawit dihasilkan oleh petani kecil dan bahwa perkebunan mereka menyumbang 41 persen dari sekitar 14,68 juta hektar perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Laporan dampak, menurut siaran pers yang dikeluarkan oleh RSPO dari Kuala Lumpur juga mencatat pertumbuhan signifikan di area bersertifikat RSPO di Afrika, yaitu sebesar 56%. Total area bersertifikasi RSPO secara global, tumbuh lebih dari 22 persen setiap tahunnya menjadi 3,89 juta hektar di 16 negara, dengan volume produksi 14,29 juta metrik ton (MT) Minyak Sawit Berkelanjutan Bersertifikat (CSPO) dan 3,21 juta MT dari Kernel Kelapa Sawit Berkelanjutan Bersertifikat (CSPK). RSPO juga menyetujui 19 anggota petani baru selama tahun keuangan terakhir, dengan total 171 petani di organisasi tersebut pada 30 Juni 2019.

Pertumbuhan keanggotaan naik 11 persen mencapai 4.349 anggota pada 30 Juni 2019, dengan Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris dalam jajaran tiga besar. Laporan ini juga menunjukkan peningkatan 25 persen pada pemegang lisensi Merek Dagang RSPO sejak periode pelaporan terakhir, serta pertumbuhan dua persen dalam keseluruhan permintaan dan penggunaan selama periode pelaporan ini.

“Tanpa lebih banyak tekanan dan permintaan dari pasar, kemungkinan hasilnya adalah minyak sawit yang tidak berkelanjutan,” kata Webber.

Laporan tersebut mengklaim bahwa anggota RSPO telah melanjutkan upaya mereka untuk menghindari pembukaan lahan dan penanaman baru di lahan gambut dan kawasan konservasi, sehingga menghemat 1,4 juta ton CO2, atau setara dengan mengeluarkan 300.000 kendaraan penumpang dari jalanan dalam setahun.

RSPO akan mengadakan Konferensi Tahunan ke 17 tentang Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan (RT17) di Bangkok, Thailand, dengan tema, “Tanggung Jawab Bersama: Mengubah Komitmen Menjadi Tindakan”. Dengan target keberlanjutan tahun 2020 yang semakin dekat, RT17 akan menjadi platform yang ideal bagi perwakilan dari industri minyak sawit global untuk membahas tantangan dan peluang terbaru yang dihadapi sektor minyak sawit berkelanjutan.

Konferensi ini akan diikuti dengan acara Majelis Umum Tahunan ke-16 RSPO (GA16) di mana para anggota akan memberikan suara pada sejumlah resolusi, termasuk usulan Standar Petani Kecil Independen RSPO.

Standar Petani Independen RSPO (ISH) Standar telah melalui beberapa putaran konsultasi publik dan dijadwalkan untuk diadopsi oleh Majelis Umum pada bulan November 2019.

Share This