Perusahaan besar di sektor kelapa sawit seharusnya sepenuhnya bertanggung jawab atas keabsahan pasokan komoditas yang mereka terima dari pihak ketiga, organisasi lingkungan Eye on the Forest mengatakan.

Ilustrasi

Dalam laporan terakhirnya yang berjudul “Cukup Sudah,” yang diterbitkan bulan lalu, EoF mengatakan telah menemukan bawha produsen minyak kelapa sawit besar Indonesia, yang dikenal dengan “Big Four” —  GAR, Musim Mas, RGE dan Wilmar – sering membeli dari pabrik independen yang sudah pernah diberitakan menerima pasokan kelapa sawit ilegal

“Tentunya perusahaan besar seperti the Big 4 harus memiliki filter yang kuat sampai ke tingkat perkebunan, sehingga pasokan TBS/FFB dari tahap awal ini sudah bisa menjamin ketertelusurannya terhindar dari pasokan ilegal maupun tidak lestari,” kata Afdhal Mahyudin yang berbicara mewakili EoF, mengatakan kepada The Palm Scribe.

Ia juga mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan besar seharusnya meminimalisir peran agen agen independen yang dikatakannya cenderung menerima pasokan Tandan Buah Segar (TBS) tanpa proses screening yang berarti, untuk menghindari buah yang ilegal maupun tak di budidayakan secara berkelanjutan.

“Tindakan tegas terhadap agen independen tentu perlu diterapkan, karena EoF melihat ada supply demand yang besar dari the Big 4 membuat hal-hal ini diabaikan,” imbuh Mahyuddin.

Laporan EoF itu juga mengatakan bahwa perusahaan Big-Four sangat bergantung kepada pasokan eksternal untuk memenuhi permintaan fasilitas pengolahan dan perdagangan mereka karena kapasitas penyulingan mereka lebih besar dari pasokan TBS dan Minyak Mentah Sawit yang memenuhi peraturan pemerintah dan juga kebijakan nol deforestasi perusahaan.

Selain membeli dari agen, perusahaan juga sering membeli dari pabrik pabrik independen yang menerima pasokan dari agen agen yang kurang bonafide tersebut.

“Sebagian besar dari pasokan minyak sawit dunia dengan demikian tercemar oleh TBS yang ditanam secara ilegal di beberapa habitat terakhir binatang yang hampir punah seperti harimau, gajah dan orangutan, serta di lahan gambut di Sumatra yang kaya karbon dan juga mudah terbakar,” EoF mengatakan dalam laporan mereka.

Hanya dengan identifikasi dan segregasi yang ketat pada sumber TBS yang datang dari pihak pihak yang tidak dekenal, yang sering diperdagangkan agen, kontaminasi tersebut akan dapat dikurangi.

Mahyuddin mengatakan bahwa para pembeli tidak perlu menghukum perusahaan-perusahaan besar dengan tidak membeli dari mereka, tetapi cukup dengan menekan mereka dan pemasok lainnyak, untuk memenuhi kriteria keberlanjutan bagi pasokan mereka.

“Tekanan terhadap the Big 4 bisa dengan penerapan komitmen sawit lestari oleh mereka dan hal ini musti transparan dilaporkan progress yang telah dicapai kepada pihak pembeli dan RSPO sebagai Lembaga yang dianggap kredibel,” Mahyuddin mengatakan.

Ia berbicara mengenai  Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) yang didirikan pada tahun 2004 dengan tujuan mendorong pertumbuhan dan penggunaan produk sawit berkelanjutan melalui penerapan standar global dan keikutsertaan para pemangku kepentingan.

Mahyuddin juga mengatakan bahwa masyarakat madani juga dapat membantu dengan memonitor kemajuand dan fase fase yang telah dapat dicapai Big Four dalam memenuhi komitmen mereka.

Kemungkinan untuk memboikot bisa saja, namun alangkah baiknya kedua pihak mencari solusi, termasuk dengan pantauan ketat pihak CSO, termasuk EoF.

“Kemungkinan untuk memboikot bisa saja, namun alangkah baiknya kedua pihak mencari solusi, termasuk dengan pantauan ketat pihak CSO, termasuk EoF,” demikian sanggah Mahyuddin.

Share This