The Palm Scribe

Perlakuan Brutal Pada Buruh Wanita Dalam Produksi Minyak Sawit

pasokan sawit

Sebuah investigasi yang dilaksanakan oleh Associated Press (AP) telah menguak perlakuan brutal dan tak adil yang kerap dialami buruh wanita di industri kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. 

Associated Press melakukan investigasi komprehensif pertama yang berfokus pada perlakuan brutal terhadap wanita dalam produksi minyak sawit, termasuk momok tersembunyi pelecehan seksual, mulai dari pelecehan verbal dan ancaman hingga pemerkosaan. Ini adalah bagian dari pandangan yang lebih mendalam tentang industri yang mengungkap pelanggaran yang meluas di kedua negara, termasuk perdagangan manusia, pekerja anak, dan perbudakan langsung,” tulis AP di laman investigasi mereka.

Selain tindakan asusila, pekerja wanita di sektor kelapa sawit juga menghadapi ketidakadilan dalam hal bayaran, tidak adanya jaminan kesehatan, hingga pemaksaan buruh dibawah umur yang terus terjadi hingga sekarang.

AP memberikan contoh dimana seorang gadis remaja berumur 16 tahun menceritakan bagaimana bosnya memaksanya untuk berhubungan badan di salah satu perkebunan sawit Indonesia, dan mengancamnya untuk tidak memberitahukan siapapun dengan menggunakan kapak ditempelkannya pada leher si korban.

Di perkebunan lain, seorang wanita bernama Ola (bukan nama sebenarnya) mengeluh bahwa dia tidak pernah mendapatkan alat pelindung diri yang layak setelah bertahun-tahun melakukan penyemprotan pestisida, hingga ia kini menderita demam, batuk, dan mimisan yang berlanjut.

Ita, seorang ibu muda, berduka setelah dua kali mengalami keguguran dikarenakan ia terus-menerus harus membawa beban yang beratnya melebihi berat tubuhnya bila ia tidak ingin mengalami pemecatan.

Buruh wanita dibebani dengan pekerjaan yang cukup sulit dan berbahaya di industri sawit, menghabiskan berjam-jam di air yang tercemar bahan kimia, membawa beban yang sangat berat sehingga, seiring waktu rahim mereka runtuh dan menonjol, hasil investigasi itu memperlihatkan. Semua pekerjaan ini juga dikerjakan tanpa bayaran yang pantas, sebatas upah minimum harian.

Hotler “Zidane” Parsaoran dari kelompok LSM Indonesia Sawit Watch mengatakan “hampir semua perkebunan memiliki masalah dengan buruh, tapi kondisi buruh wanita jauh lebih buruk daripada buruh pria.”

Kedua negara  memiliki tanggapan yang berbeda atas apa yang terjadi di balik layar industri minyak kelapa sawit. Pemerintah Malaysia mengatakan bahwa mereka tidak menerima laporan apapun mengenai tindakan asusila yang terjadi di perkebunan. 

Sedangkan pemerintah Indonesia mengakui adanya pelanggaran asusila, fisik dan seksual dan ini masih merupakan masalah yang terus tumbuh, dan solusinya masih terus dicari.

Industri minyak kelapa sawit termasuk industri yang cepat dan terus tumbuh dikarenakan kegunaannya yang beragam, mulai dari sebagai bahan baku minyak goreng, bahan campuran bahan bakar diesel, bahan baku pembersih, hingga bahan baku berbagai produk kecantikan dan perawatan diri. 

“Di hampir setiap perkebunan sawit, pengawas pekerja pada umumnya merupakan pria yang membuka pintu untuk tindakan asusila dan pelecehan seksual,” tulis AP di laman investigasinya.

Rosita Nengsih, direktur Lembaga Bantuan Hukum Perempuan, Anak dan Keluarga di provinsi Kalimantan Barat, mengatakan sebagian besar korban enggan melaporkan pemerkosaan kepada pihak berwenang, dan lebih memilih atau terpaksa untuk mengambil jalur “solusi perdamaian.”

Bahkan keluarga korban mungkin dibayar. Kadang-kadang orang tua memaksa putrinya menikahi pemerkosa untuk mengurangi rasa malu, seringkali setelah kehamilan terjadi.

Nengsih mengingat kasus yang melibatkan dua gadis Indonesia berusia 13 tahun yang bekerja di perkebunan Malaysia bersama orang tua mereka dan mengatakan bahwa mereka berulang kali diperkosa oleh pengawas yang sama hingga keduanya hamil dalam selang waktu empat bulan.

“Tidak ada yang terjadi pada pemerkosanya,” katanya. “Dia masih bebas,”

Kondisi yang dialami oleh para wanita tersebut, sangat kontras dengan gerakan “Pemberdayaan Wanita” atau “Kesetaraan Wanita” yang banyak di promosikan oleh merek-merek produk kecantikan ternama seperti L’Oréal ataupun Unilever yang banyak menggunakan minyak kelapa sawit dalam proses produksi mereka.

Merek sabun Unilever yang populer, Dove, misalnya mencantumkan bahwa: “Dove percaya bahwa kecantikan adalah untuk semua orang.” Dan L’Oréal mengatakan sedang berupaya untuk membasmi pelecehan seksual “karena kita semua sepadan.”

Beberapa perusahaan besar dalam industri kecantikan seperti L’Oreal, Unilever, Procter & Gamble, Avon dan Johnson & Johnson kesemuanya banyak menggunakan minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia.

Industri kecantikan, make up, dan perawatan tubuh saat ini mulai marak di pasaran dan terus tumbuh, walaupun banyak penelitian memperlihatkan bahwa pertumbuhan tersebut tidak diikuti oleh kesadaran masyarakat bahwa banyak sekali produk keseharian mereka mengandung minyak kelapa sawit masih rendah.

Banyak dari wanita yang “diberdayakan” untuk membantu industri kecantikan harus mengangkut beberapa tangki pestisida kimia beracun dengan berat lebih dari 13 kilogram untuk menyemprotkannya pada kebun sawit, dan dapat mengangkut sampai 240 Liter setiap harinya.  

“Hidup kami sangat sulit,” tutur Ola, yang telah bekerja sebagai buruh harian di Indonesia selama 10 tahun dan setiap hari merasakan sakit ketiga bangun karena berulang kali harus mengangkat beban berat. “Setelah penyemprotan, hidung saya kadang berdarah. Saya pikir itu terkait dengan pestisida,” tuturnya pada jurnalis AP.

Dia tidak dapat memakai masker karena terlalu panas sehingga sulit untuk bernapas. Dia mengatakan perusahaan tidak menyediakan perawatan medis untuk pekerja lepas, sedangkan ia sendiri  tidak punya uang untuk membayar biaya dokter.

Di tempat lain, seorang jurnalis memberikan lipstik seharga 250 Ribu Rupiah kepada seorang pekerja bernama Defrida dan memberitahunya bahwa lipstik itu mengandung minyak sawit. Defrida mengamati dengan cermat selongsong perak dan lipstik merah jambunya – pertama dengan rasa tertarik, tetapi kemudian dengan jijik.

Wanita yang harus menyemprotkan pestisida di lahan seluas 30 hektar untuk dapat membeli satu selongsong lipstik itu hanya bisa memohon kepada mereka yang membeli produk yang mengandung kelapa sawit itu untuk ikut memikirkan nasib para pekerja yang sesama wanita di industri sawit.

“Ya Tuhan!” serunya. “Tolong perhatikan hidup kita.”

Baca lebih banyak tulisan oleh Didiet Nugraha.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.

Tinggalkan Balasan

Share This