RSPO

Perhelatan tahunan dari RSPO yang betujuan untuk menyatukan visi berkelanjutan di industri kelapa sawit

Petani kecil sawit serta penyempurnaan prinsip dan kriteria Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) menjadi fokus dalam perhelatan tahunan organisasi ini, yaitu pertemuan Roundtable 16 (RT16) yang akan diselenggarakan di Kota Kinabalu, Malaysia pada tanggal 12 – 15 November 2018.

“Pada tahun ini kami akan berfokus pada perkembangan prinsip dan kriteria RSPO yang sudah kami teliti selama kurang lebih 18 bulan,” Tiur Rumondang, Direktur RSPO Indonesia, mengatakan dalam sebuah wawancara tertulis dengan The Palm Scribe.

Rumondang menjelaskan bahwa beberapa poin yang terkandung dalam rancangan prinsip dan kriteria (P&C) yang akan melalui voting anggota ini diantaranya terkait penghentian deforestasi, perlindungan dan konservasi lahan gambut, serta penghormatan hak-hak asasi manusia. P&C RSPO yang kini sedang berlaku terakhir ditetapkan pada tahun 2013.

Ia menambahkan bahwa rancangan P&C kali ini disebut-sebut sebagai “inisiatif multi-pemangku kepentingan yang paling inklusif dan bertujuan untuk menangani celah celah yang masih ada dalam standar, melalui bahasa yang lebih jelas dan indikator kepatuhan yang lebih ketat.”

Sesuai dengan tema pertemuan, yaitu “Komitmen Terbarukan untuk Mencapai Transformasi Pasar (A Renewed Commitment to Achieving Market Transformation),” RT16 mempertemukan pelaku-pelaku kunci industri sawit seperti produsen, pemasok, pengecer, investor, serta aktivis lingkungan, untuk membicarakan isu, tantangan, dan peluang yang terkait produksi kelapa sawit berkelanjutan.

Perkembangan industri kelapa sawit yang dinamis membuat perhelatan Roundtable setiap tahunnya mempunyai ciri khas tersendiri, ujar Rumondang.

RT15 misalnya, mengusung tema “Inklusivitas dan akuntabilitas” yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi dari dan kerjasama antara para pelaku industri kelapa sawit di seluruh dunia.

Selain itu, RT15 juga membangun landasan dasar bagi elemen elemen fokus kunci peninjauan kembali P&C organisasi.

“RT tahun lalu merupakan saat merenung diri serta mengritik diri terkait praktik-praktik dulu maupun yang masih berlaku, dengan tujuan memperbaikinya serta mencari jalan agar solusi setempat dapat menyelesaikan permasalahan setempat dalam konteks kerangka internasional seperti yang disediakan RSPO,” ujar Rumondang.

Disamping penetapan P&C yang baru, RT16 juga akan membicarakan bagaimana menarik lebih banyak petani kecil kelapa sawit kedalam RSPO melalui strategi khusus dan standar bagi petani kecil yang kini sedang dipersiapkan.

Perhelatan tahunan Roundtable dari RSPO yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2003 semakin berkembang sesuai dengan berjalannya waktu dan kini merupakan salah satu momentum bagi setiap aktor dalam industri kelapa sawit untuk berkumpul menentukan visi industri ini.

RT pertama yang diadakan di Kuala Lumpur pada tahun 2003, sudah dihadiri lebih dari 200 peserta dari 16 negara.

“Tujuan dan konsep umum dari setiap perhelatan Roundtable adalah melibatkan, mendiskusikan, memusyawarahkan, berkolaborasi dan mencapai konsensus atas berbagai isu saat ini maupun kedepannya, dan solusi terkait budidaya, produksi dan perdagangan kelapa sawit berkelanjutan,” jelas Rumondang.

Share This