The Palm Scribe

Pengangkatan Mahendra Siregar Kabar Baik Bagi Sawit Indonesia

Mahendra Siregar, center, in IPOC 2019.

Diantara sederetan nama dalam daftar pejabat tinggi yang akan membantu Presiden Joko Widodo dalam periode keduanya, terdapat sebuah nama yang tidak asing lagi bagi industri kelapa sawit Indonesia – teknokrat dan mantan diplomat Mahendra Siregar.

Penunjukannya sebagai Wakil Menteri Luar Negeri pada tanggal 25 Oktober yang disertai dengan beberapa penugasan khusus yang terperinci, termasuk mengamankan keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia, merupakan kabar baik bagi semua pihak yang terlibat dengan salah satu komoditi utama Indonesia tersebut.

Mahendra sudah lama dikenal sebagai salah satu pembela industri kelapa sawit yang pintar dan vokal, ketika orang Indonesia lainnya masih sibuk berpolitik atau mengamankan kepentingan mereka sendiri.

Ia masih menjabat sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat ketika ditunjuk untuk menduduki jabatan wakil menteri luar negeri ini. Sebelumnya, ia pernah menjadi deputi bidang kerjasama ekonomi dan pembiayaan internasional dibawah menteri koordinator ekonomi, hingga 2009 dan wakil menteri bidang keuangan dan perdagangan antara 2011 dan 2013.

Pengalaman kerjanya berhubungan dengan dua bidang utama, yaitu urusan luar negeri, karena ia seorang diplomat antara tahun 1986 dan 2001, dan urusan ekonomi yang dimulainya dengan menjadi salah seorang deputi dibawah menteri koordinator bagian ekonomi di tahun 2001 dan berlanjut kemudian dengan mengetuai Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2014-2015.

Ia pun menjadi direktur eksekutif Dewan Negara Produsen Minyak Kelapa Sawit (CPOPC) dari tahun 2016 hingga akhir 2018, jabatan yang membuatnya sangat dekat dengan sektor kelapa sawit.

Berbicara kepada wartawan setelah menemui Presiden Joko Widodo, Mahendra Siregar mengatakan bahwa ia ditugaskan untuk menduduki jabatan wakil menteri luar negeri dan diberi tiga tugas khusus yang harus diselesaikannya dalam waktu setahun. Tugas-tugas ini tidak saja juga sangat mendetil tetapi juga disertai dengan Key Performance Index yang tak kalah rincinya.

Salah satu penugasannya yang penting adalah untuk menjaga dan mengamankan keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia, sebuah sektor yang sudah menjadi salah satu kontributor utama kepada perekonomian negara dan pundi pundi pemerintah. Ekspor minyak kelapa sawit Indonesia menyumbang sekitar $20 milyar tiap tahunnya dan angka ini perlu diperbesar terus, ujarnya.

Namun industri ini juga menderita akibat harga komoditi yang terus turun di pasaran dunia belakangan ini, serta akibat serangan dan dakwaan yang bertubi-tubi yang dialamatkan kepada komoditas ini serta industrinya. Karena merupakan negara produsen, eksportir sekaligus konsumen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Tentu saja Indonesia banyak terdampak oleh hal ini. Kebakaran hutan dan lahan yang luas tahun ini, juga tidak banyak membantu melawan serangan-serangan ini.

Secara sekilas, Mahendra nampak sebagai orang yang tepat bagi jabatan ini. Ia memenuhi persyaratan-persyaratan utamanya; Pertama-tama, diplomasi ekonomi sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pemegang gelar Master dalam bidang ekonomi dari Universitas Monash di Australia ini. Kabinet Presiden Jokowi yang terlihat sangat berat ke bidang ekonomi juga sangat jelas memperlihatkan keinginannya untuk meningkatkan peran diplomasi ekonomi kementerian luar negeri, termasuk untuk mendukung industri kelapa sawit.

Bagi Mahendra, kelapa sawit bukanlah barang baru. Sebagai direktur eksekutif CPOPC yang beranggotakan Indonesia, Malaysia dan Kolombia, ia berhadapan dengan masalah komoditi dan industrinya ini dan terus bergelut melawan kampanye negatif yang kebanyakan dilancarkan dari negara-negara yang bukan produsen kelapa sawit.

Sebagai petinggi organisasi tersebut, pendiriannya jelas dan terang benderang bagi semua, Ia sudah menjadi pejuang bagi industri kelapa sawit, dan seringkali tidak mencerminkan latar belakang diplomasinya dalam menyuarakan pendapatnya. Ia dikenal selalu vokal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dalam mengkritisi rencana Uni Eropa untuk secara bertahap menghapus biofuel dari minyak kelapa sawit dari program energi transportasinya, dengan menuduh organisasi kewilayahan itu sebagi diskriminatif dan mengeluarkan kebijakan yang didasarkan atas kepentingan sendiri, yaitu melindungi industri minyak nabatinya. Ia juga sudah berulangkali menekankan bahwa serapan biofuel Uni Eropa dari Indonesia kecil dan mudah digantikan oleh pasar baru atau pasar lainnya.

Memperbaiki imej kelapa sawit di mata dunia internasional, dan juga mungkin di dalam negeri, bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan sendiri. Hal ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak di dalam negeri. Karena Mahendra berpengalaman menduduki berbagai posisi di berbagai kelembagaan yang terkait urusan kelapa sawit ini, maka ia seharusnya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bagaimana lembaga-lembaga tersebut bekerja dan juga mengetahui bagaimana sebaiknya mereka dapat bekerjasama dan saling berkoordinasi.

Pengalamannya di bidang perdagangan internasional dan dalam mencoba menarik investor asing, juga mungkin memberinya wawasan mendalam mengenai bagaimana sebaiknya mempromosikan kelapa sawit.

Namun, diluar pengalamanya tersebut, apakan Mahendra memiliki kemampuan yang diperlukan untuk memenuhi target-target yang telah ditetapkan?

Yang jelas, Mahendra ini adalah seorang pejuang. Ketika memimpin BKPM, ia berhasil mengatasi kesulitan membuat investor asing percaya, ketika mereka sebenarnya khawatir terhadap mengentalnya rasa nasionalisme dan ketidakpastian di bidang politik menjelang pemilihan umum tahun 2014. Ia juga berhasil melaksanakan permintaan Jokowi ketika itu untuk menyederhanakan proses pemberian izin investasi dan hal ini dikemudian hari berhasil membuat posisi Indonesia naik 15 anak tangga dalam Doing Business Index Bank Dunia tahun 2017.

Ia mungkin mantan diplomat, namun ia sudah memperlihatkan bahwa ia tidak pernah ragu dalam menyatakan pendapatnya, meskipun itu mungkin tidak enak bagi pihak lain. Pendiriannya juga selalu jelas dan negeri ini memang membutuhkan pemimpin yang tidak saja memiliki pendirian yang jelas tetapi juga konsisten dan dipegang teguh.

Namun, sebaik apapun pemimpin di negeri ini, pengalaman membuktikan bahwa ia sangat bergantung pada dukungan dari bawahannya untuk dapat melaksanakan rencana-rencananya. Dan salah satu kelemahan Mahendra mungkin adalah, karena Ia sering berganti posisi di berbagai lembaga, ia tidak mampu membangun jaringan bawahan yang loyal yang dapat mendukung keputusan dan kebijakannya.

 

Tinggalkan Balasan

Share This