The Palm Scribe

Penerapan ESG Perusahaan Kelapa Sawit di Indonesia Menunjukkan Kemajuan Berarti

Sebuah peringkat terbaru mengenai penerapan program lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit, yang dikeluarkan platform daring independen SPOTT yang dikembangkan Zoologial Society of London (ZSL) memperlihatkan kemajuan pesat di antara perusahaan tersebut di Indonesia dalam mengarah kepada praktik keberlanjuan.

Ranking tahunan Sustainability Policy Transparency Toolkit (SPOTT) terbaru yang diterbitkan bulan ini menilai transparansi dalam kebijaksanaan ESG 100 perusahaan perkebunan, pengolah dan pedagang minyak kelapa sawit di dunia. Dalam pernyataannya SPOTT juga mengingatkan bahwa kebijakan dan komitmen belum tentu terterjemahkan secara efektif di lapangan.

Dari 20 perusahaan Indonesia yang dinilai oleh SPOTT ini, perusahaan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) sebagai perusahaan Indonesia yang menunjukkan kenaikan signifikan dari peringkat 46 tahun lalu dengan skor 37,4 persen menjadi ranking ke 16 dengan skor 75,3 persen dalam ranking SPOTT tahun 2020. 

“Kami bertekad untuk mengintegrasikan ESG dalam segala aspek usaha sebagai cara kami berbisnis,” ujar Direktur Utama DSNG Andrianto Oetomo dalam sebuah pernyataan tertulisnya dengan menambahkan bahwa peringkat yang diperoleh perusahaannya merupakan cerminan keseriusan dan komitmen DSNG dalam meningkatkan praktek kelola ESG yang baik.

Skor DSNG per aspek yang dinilai adalah 71,8 persen untuk aspek Lingkungan, 80,6 persen untuk aspek sosial dan 59,0 persen untuk aspek tata kelolanya. Dalam perhitungan SPOTT tahun ini, DSNG juga menjadi perusahaan kelapa sawit yang melakukan upaya perubahan dengan nilai paling tinggi, yaitu 38,7 persen.

Perusahaan berkantor pusat di Indonesia di peringkat selanjutnya adalah Asian Agri Group pada peringkat ke 22 dengan skor 71,2 persen, diikuti oleh  Austido Nusantara Jaya di peringkat 26 dengan skor 68,1 persen, Eagle High Plantation Tbk di peringkat 31 dengan skor 62,6 persen dan Triputra Agro Persada Group di peringkat 33 dengan skor 62,1 persen.

Tiga ranking pertama ditempati oleh New Britain Palm Oil Ltd yang berkantor pusat di Papua New Guinea, dengan score 94,4 persen, Daabon Group dari Kolombia dengan 89,8 persen dan Wilmar Internasional yang berkantor pusat di Singapura dengan 88,9 persen.

Tiga perusahaan dengan operasi besar di Indonesia namun berkantor pusat di Singapura juga berada diantara ke 16 posisi teratas. Mereka adalah Musim Mas Group pada posisi ke 6 dengan skor 85,7 persen, Apical pada posisi ke 8 dengan skor 82,5 persen dan Golden Agri pada posisi ke 10 dengan 81,2 persen.

Dalam laporan SPOTT ini juga diberitakan bahwa dari 100 perusahaan yang dinilai, 60 companies memiliki kebijakan keberlanjutan yang jelas yang diterapkan pada seluruh operasi mereka, 57 perusahaan memiliki kebijakan sejenis yang juga diterapkan kepada semua pemasoknya, 41 perusahaan  memiliki satu atau lebih eksekutif yang bertanggung jawab atas keberlanjutan operasi perusahaan serta 39 perusahaan merupakan anggota skema atau inisiatif industri untuk meningkatkan keberlanjutan produksi minyak kelapa sawit.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.

Tinggalkan Balasan

Share This