The Palm Scribe

Pemerintah Menerapkan Campuran Biodiesel Lebih Rendah Bagi Kereta Api

Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral menerapkan kebijakan pencampuran lima persen biodiesel dalam solar bersubsidi, menurut sebuah laporan yang diunggah di laman resmi Gabungan Pengusahan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

ilustrasi

Laporan tersebut mengutip Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Rida Mulyana mengatakan bahwa kebijakan tersebut di ambil menyusul instruksi dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan.

“Pak Menteri mengatakan, daripada nunggu campuran 20 pesen enggak jalan, dimulai dulu 5 persen untuk lokomotif kereta,” Mulyana mengatakan dalam laporan yang diunggah di akhir pekan ini.

Mulyana mengatakan bahwa solar dengan campuran 5 persen biodiesel (B5) akan berlaku sampai bulan Juli 2018, sementara pemerintah menguji campuran 20 persen.

“Sekarang, masih uji coba B20. Yang akan dijalankan B5, uji tes dilakukan dengan empat lokomotif, kita lihat perbedaannya,” seru Mulyana,

Menurutnya, setelah uji coba pencampuran dengan solar pada lokomotif kereta selesai dilakukan, maka semua lokomotif kereta akan menggunakan bahan bakar campuran. Dalam setahun, total konsumsi biodiesel pada transportasi kereta diperkirakan 20,000 kiloliter per tahun.

Kebijakan mencampurkan dengan bahan bakar solar bersubsidi untuk operasi dibidang pertambangan, sudah menyerap biodiesel yang dibuat dari kelapa sawit sebesar 2,86 juta kiloliter di tahun yang lalu, sementara untuk tahun ini diharapkan konsumsi minyak kelapa sawit diharapkan dapat mencapai 3,5 juta kiloliter.

Pencampuran biodiesel kedalam solar tidak saja akan mengurangi permintaan atas solar tetapi juga menaikkan konsumsi minyak kelapa sawit, menguatkan harganya serta mengurangi emisi gas kaca.

“Kenaikan CPO akan menguntungkan petani swit, bagaimana caranya mendongkrak harga biodiesel sendiri,” tandasnya.

Share This