The Palm Scribe

Pabrik Minyak Sawit Mini: Solusi Independensi Petani Sawit Mandiri

Pabrik mini kelapa sawit

Banyak petani kelapa sawit mandiri masih bergantung kepada pabrik kelapa sawit besar untuk mengolah hasil kebun walaupun jauh dari perkebunan mereka. Hal ini merupakan masalah yang menekan pendapatan, namun ketersediaaan pabrik minyak sawit mini membuka kemungkinan mengatasi permasalahan tersebut.

Perkebunan petani, termasuk petani swadaya, yang kini mencapai sekitar 40 persen dari luasan total perkebunan kelapa sawit di Indonesia, pada umumnya tersebar dan tidak berada dekat pusat-pusat pengolahan kelapa sawit yang biasanya berlokasi di tengah atau di dekat perkebunan perusahaan besar.

“Perkebunan sawit ini kan tersebar, aksesnya jauh-jauh, nah kita buat sentralisasi sendiri di masing-masing perkebunan, jadi menghemat fuel costnya juga,” ujar PT Naga Jaya Lestari Business Director Nadhariyat Syafei, salah satu perusahaan yang kini menawarkan konsep pabrik mini yang dapat dibangun dengan investasi sekitar Rp900 juta.

Pabrik sawit mini memungkinkan lebih banyak pusat pengolahan kelapa sawit didirikan dan mendekati perkebunan petani swadaya hingga tidak saja mengurangi biaya transportasi tetapi juga memberikan pilihan harga jual bagi petani.

“Kita disini menawarkan added value, kami mengolah langsung dan menjual dalam bentuk CPO (Crude Palm Oil) dan bukan TBS (Tandan Buah Segar),” ucap Syafei kepada The Palm Scribe sambil menjelaskan bahwa dengan demikian petani dapat meningkatkan harga jualnya hasil produksinya.

Pada saat ini usaha yang ditawarkan Syafei banyak diminati petani kecil maupun pengusaha sawit lokal dan sudah tersebar di beberapa daerah seperti Aceh, Riau, Kalimantan, serta Sulawesi.

“Total pabrik mini kami ada 15 saat ini, 4 sudah running, sisanya dalam tahap konstruksi,” ujar Syafei. Pembuatan sebuah pabrik diakuinya dapat memakan waktu 3 sampai dengan 7 bulan tergantung kondisi geografis dan tahap pemasangan alat.

“Dalam membangun pabrik tentu kita melihat aspek sustainability, perizinan lahan, dan minimal 400 hektar,” jelasnya, yang terakhir terkait dengan jaminan pasokan TBS yang dibutuhkan untuk operasi yang menguntungkan.

Pabrik mini saat ini memiliki kapasitas hingga lima ton per jamnya dan menghasilkan CPO yang memenuhi standar kualitas ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) serta dapat dioperasikan oleh hanya lima orang.

Syafei juga berani menjamin bahwa limbah yang dihasilkan tidak merusak lingkungan.

“Sesuai dengan prosedur, kita meminimalisasi limbah dengan mengolahnya menjadi HACPO (High Acid Crude Palm Oil) dan buangannya sebenarnya sangat sedikit, yaitu 4 kubik per hari,” jelasnya.

Namun Syafei juga mengakui terdapat beberapa kendala bagi pembangunan pabrik mini, diantaranya ketersediaan listrik yang belum memadai dan edukasi para petani lokal. “Edukasi petani yang kurang, petani tanam-tanam aja tapi gak tau manfaatnya, artinya kita mengedukasi bahwa mereka punya value pada kesejahteraan,” ujar Syafei.

Teknologi yang digunakan merupakan hasil kerja dari tim Syafei, bukan didatangkan dari negara lain. “Teknologinya kami buat sendiri dan sengaja tidak kami patenkan untuk membantu para petani,” ujar Syafei yakin.

“Lima tahun ke depan semoga bisa tersebar di seluruh Indonesia, petani sawit semakin semangat dan dari segi development, saya ingin industri sawit ini merambah ke digital,” demikian ujar Syafei yang juga mempunyai keinginan agar para petani mandiri di industri sawit mempunyai peran di era perdagangan bebas.

Vincentius, ketua koperasi petani sawit di Sanggau, Kalimantan Barat berpendapat adanya konsep pabrik mini tersebut dapat membuat peran petani dalam industri lebih besar.

“Pabrik kecil ini sangat membantu kami menjadi subjek dalam industri. Sebelumnya kami hanya menjadi objek dan tentunya tidak terikat konglomerasi,” ujar Vincentius yang sudah berinvestasi dan bekerja sama menggunakan pabrik mini kelapa sawit.

Berbincang dengan The Palm Scribe, ia mengaku kendala yang dihadapi sebagian besar petani untuk mendapatkan pabrik mini ini adalah isu pendanaan, sebab menurutnya belum ada peraturan yang mengatur bantuan pendanaan bagi petani dalam investasi seperti ini.

Dirinya juga mengaku sebagai murni petani mandiri yang tidak tergabung asosisasi atau organisasi serikat manapun. “Kita gak gabung ke siapapun. Apa untungnya? Apa fungsinya? Semuanya itu organisasi titipan, kok,” ujarnya berani.

Namun demikian, CEO PT. Bentang Alam Indonesia Agus Sari mengkritisi kualitas yang dihasilkan dari pabrik mini tersebut. “Pasar ekspor yang baik pasti membutuhkan RSPO, bukan cuma ISPO. Perlu diobservasi adalah apakah mini mills ini bisa comply dengan RSPO,” ujarnya mengacu kepada standar Rountable on Sustainable Palm Oil yang diakui secara internasional.

“Tapi seperti teknologi lainnya, selalu bermata dua. Dia bisa juga mempermudah produksi minyak dari kebun sawit ilegal ya. Legal enforcement tetap mesti diadakan,” tegasnya.

One thought on “Pabrik Minyak Sawit Mini: Solusi Independensi Petani Sawit Mandiri

Comments are closed.

Share This