The Palm Scribe

Menlu: Kelapa sawit tetap bagian dari negosiasi IEU-CEPA

Pemerintah Indonesia akan tetap memasukkan kelapa sawit dalam negosiasi yang sedang berjalan untuk Persetujuan Kemitraaan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA) walaupun Gabungan Produsen Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) telah menyatakan harapan mereka agar pembicaraan mengenai hal ini sebaiknya dipisahkan dari jalur negosiasi utama supaya tidak menghambat tercapainya persetujan dan ekspor komoditas Indonesia lainnya ke pasar Uni Eropa.

“Kami juga konsentrasi ke IEU-CEPA. Kami hanya memastikan bahwa sawit akan menjadi salah satu elemen yang dinegosiasikan dengan Uni Eropa,” ujar Mentri Luar Negeri Retno Marsudi dalam Rakernas Kadin Hubungan Internasional di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (19/11) seperti dikutip oleh Okezone.com.

Sekretaris Jendral GAPKI Kanya Lakhsmi Sidarta sebelumnya mengatakan kepada The Palm Scribe bahwa para produsen sawit sebenarnya menginginkan pembicaraan mengenai minyak kelapa sawit dipisahkan dari jalur negosiasi utama IEU-CEPA agar cepat diperoleh persetujuan, dengan demikian tidak menghambat ekspor komoditas Indonesia lainnya ke pasar Uni Eropa, disebabkan masalah minyak kelapa sawit telah menjadi ganjalan dalam perundingan IEU-CEPA.

“Kita semua perlu duduk dan merumuskan cara terbaik untuk mengakomodasi bisnis dan diplomasi karena keduanya diperlukan untuk diplomasi Indonesia yang kuat,” staf ahli untuk kementerian luar negeri, Ina Krisnamurthi mengatakan kepada The Palm Scribe, sebagai tanggapan atas usulan untuk memisahkan minyak sawit dari perjanjian IEU-CEPA.

Uni Eropa berencana untuk secara bertahap menghilangkan biofuels yang menggunakan minyak kelapa sawit dari program energi terbarukan mereka bagi sektor transportasi. Delegated Act RED II Uni Eropa mendasarkan kebijakan yang diambil ini pada anggapan mereka bahwa produksi minyak kelapa sawit berada di balik penggundulan hutan secara masif yang terjadi di negara-negara produsen minyak kelapa sawit.

Indonesia dan Malaysia, dimana keduanya adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, menuduh Uni Eropa berlaku diskriminatif terhadap minyak kelapa sawit. Apalagi setelah beredar sebuah dokumen internal Uni Eropa yang menunjukkan bahwa organisasi kawasan tersebut berencana menganggap minyak dari kedelai, serta minyak biji bunga matahari dan biji rapa, yang keduanya banyak dihasilkan oleh negara anggota UE, sebagai minyak yang berkelanjutan. Minyak kedelai di Uni Eropa terutama dipasok dari Amerika Serikat, salah satu mitra dagang terpenting Uni Eropa.

Pemerintah Indonesia telah menargetkan negosiasi IEU-CEPA untuk selesai pada tahun 2020, dan kini sedang giat mencari jalan untuk mempercepat tercapainya persetujuan tersebut.

Sejumlah laporan media telah mengemukakan adanya keluhan-keluhan dari pengusaha di sektor komoditas di luar minyak kelapa sawit, yang menginginkan penyeleseaian cepat dari perundingan IEU-CEPA ini. Ekspor Minyak sawit mentah (CPO) Indonesia dan produk turunannya hanya menyumbang 11.8 persen dari pendapatan total dari ekspor Indonesia ke Uni Eropa yang pada tahun lalu mencapai $17 milyar. Komoditas ekspor utama Indonesia lainnya ke Uni Eropa termasuk produk tekstil, alas kaki, meubel, serta produk perikanan.

Share This