Bagaimana kehidupan orangutan di lahan konservasi  yang berdekatan dengan perkebunan dan permukiman manusia?

Maharani melihat dari balik dahan pohon. (Foto: Nardiyono/PT ANJ)

Bagi sekitar 47 orangutan di Ketapang, Kalimantan Barat, Hutan 657, merupakan rumah alami tempat mereka dengan bebas dapat menjalani kehidupan, walaupun bertetangga dengan kawasan perkebunan dan permukiman manusia.

Tak pelak lagi, hal ini merupakan hasil nyata dari usaha yang dilakukan perusahaan perkebunan kelapa sawit bersama para pemangku kepentingan lainnya demi menjaga keutuhan kawasan konservasi dalam areal konsesi.

Hutan 657, yang namanya mengikuti luasannya, yaitu 657 hektare, mencerminkan hasil nyata dari usaha yang dapat dilakukan perusahaan perkebunan bersama para pemangku kepentingan lainnya dalam upaya menjaga keutuhan kawasan konservasi dalam areal konsesi.

Hutan ini merupakan kawasan konservasi yang berada di dalam areal Hak Guna Usaha (HGU) PT Kayung Agro Lestari (KAL), anak usaha PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (PT ANJ.)  Areal tersebut merupakan bagian dari total hutan konservasi PT KAL seluas 3.884,52 hektare dengan tiga desa di sekitarnya, yakni Laman Satong (624 keluarga), Kuala Satong (769 keluarga), dan Kuala Tolak (1.300 keluarga).

Nardiyono, Manajer Konservasi PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (Foto: Fuad Arrasyid/The Palm Scribe)

Hutan konservasi itu semula akan digunakan sebagai areal perkebunan kelapa sawit. Namun, karena hutan tersebut kemudian diketahui merupakan habitat orangutan, maka pengembangan di lokasi tersebut pun dihentikan dan PT KAL memutuskan untuk menjadikannya sebagai areal konservasi.

Menurut Nardiyono, Manajer Konservasi PT ANJ, selain ke-47 individu orangutan (Pongo pygmaeus), di hutan 657 ini juga terdapat 102 orangutan lagi di areal hutan konservasi seluas 2.330 hektare yang masih termasuk konsesi KAL. Sebelas ekor di antaranya merupakan pindahan dari lahan masyarakat di sekitar hutan konservasi ini.

Orangutan adalah spesies yang sudah dikategorikan terancam punah karena jumlahnya yang terus menyusut. Pada tahun 2004, menurut data WWF, diperkirakan total populasi orangutan di seluruh pulau Kalimantan, baik di wilayah Indonesia maupun Malaysia, hanya tersisa sekitar 54 ribu individu.

Bersama mitra kerja samanya semenjak tahun 2015, yaitu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Ketapang dan Yayasan Internasional Animal Rescue Indonesia (YIARI),  PT KAL mengelola hutan konservasi tersebut dengan mengerahkan 12 personil, terdiri dari 9 petugas lapangan, 2 orang staf, dan seorang manajer.

Sebagian besar petugas lapangan ini, menurut Nardiyono, dulu bekerja sebagai penebang kayu yang telah berhasil ditarik perusahaan dan beralih profesi menjadi pekerja konservasi. “Mereka sekarang menjadi penjaga kawasan yang dulunya mereka rambah,” kata Nardiyono.

Para penjaga itu setiap hari rutin berpatroli mengelilingi hutan. Mereka bertugas memonitor dan mengetahui situasi hutan, mencegah terjadinya gangguan terhadap hutan dan seluruh isinya, serta mengambil tindakan tertentu jika ada pelanggaran/kejahatan di dalam hutan.

Selain bagi orangutan, kawasan konservasi ini menjadi rumah bagi satwa liar lain, seperti beruk (Macaca nemestrina), babi jenggot (Sus barbatus), owa ungko (Hylobates agilis), burung madu kelapa (Anthreptes malacensis), dan burung kipasan belang (Rhipidura javanica).

Hutan yang rindang dan sejuk ini rapat dipenuhi pepohonan setinggi 10-15 meter dari berbagai jenis, di antaranya ramin (Gonystyllus bancanus), ubah (Syzygium confertum), teban payak (Vitex heterophylla), asam kandis (Garcinia parvifolia), jelutung (Dyera costulata), dan jungkang (Palaquium sp) dan semak belukar. Hutan dan lahan gambut merupakan pusat dari daerah jelajah orangutan, karena menghasilkan tanaman berbuah besar yang menjadi sumber makanan orangutan.

“Buah jungkang adalah makanan favorit orangutan di sini,” kata Hendriyana Rachman, staf konservasi PT KAL. Ragam asupan makanan orangutan juga meliputi tumbuhan pakis (Polypodiopsida), rayap, dan ulat jungkang.

Buah jungkang di tangan Hendriyana Rachman, staf konservasi PT Kayung Agro Lestari. (Foto: Fuad Arrasyid/The Palm Scribe)

Hendriyana bercerita bahwa orangutan umumnya selalu berpindah tempat setiap harinya. Seekor orangutan jantan dewasa dalam satu hari dapat menempuh jarak jelajah sampai dengan tiga kilometer, sementara yang betina hanya antara 1,5-2 kilometer. Mereka berayun dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari makan dan membangun sarang dari susunan ranting dan dedaunan, di pucuk-pucuk pohon yang kuat. Orangutan umumnya hanya menggunakan sarang sekali saja dan tidak pernah beristirahat di sarang yang sama berkali-kali. “Jika berpindah tempat, orangutan akan membuat sarang baru,” kata Hendri.

Namun, Katherine Scott, kandidat PhD dari Oxford Brookes University, mendapatkan bahwa orangutan di Hutan 657 “memperlihatkan perilaku yang agak berbeda dari biasanya.” Scott, yangsudah dua pekan berada di Hutan 657 untuk meneliti orangutan, mengamati bahwa beberapa orangutan di hutan konservasi ini memakai ulang sarangnya.

“Ini perilaku yang tak lazim, tetapi saya belum mengetahui penyebabnya. Saya baru dua minggu di sini,” ujar Scott yang sebelumnya adalah manager riset pada Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP).

Katherine Scott, kandidat PhD dari Oxford Brookes University, menjelaskan perilaku orangutan di Hutan 657. (Foto: Fuad Arrasyid/The Palm Scribe.

Menurut Scott, orangutan di Hutan 657 ini juga lebih banyak memakan bji-bijian dan serangga daripada buah-buahan. Walaupun Scott juga belum mengetahui apa penyebab perilaku makan yang agak berbeda ini, ia menilai hutan konservasi dapat menyediakan sumber makanan yang cukup untuk seluruh orangutan penghuninya, dengan banyaknya pohon besar, daun-daun muda, buah, biji, serangga, dan air.

“Secara umum mereka terlihat normal dan sehat. Tak ada tanda-tanda stres dan kekurangan makanan,” kata Scott. “Tidak ada individu yang terluka. Ukuran tubuhnya normal,” imbuhnya.

Orangutan Kalimantan adalah bagian dari keluarga kera besar (great ape) dan merupakan mamalia arboreal terbesar. Spesies ini memiliki rambut panjang dan kusut berwarna merah gelap kecokelatan, dengan warna pada bagian wajah mulai dari merah muda, merah, hingga hitam. Berat orangutan jantan dewasa bisa mencapai 50 hingga 90 kg dan tinggi badan 1,25 hingga 1,5 m. Sedangkan yang betina memiliki berat 30 – 50 kg dan tinggi 1 m.

Kehadiran orangutan kini semakin rawan gangguan di habitatnya sendiri. Beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh orangutan adalah kehilangan habitat akibat pembalakan liar, perambahan hutan dan kebakaran hutan, perburuan, dan perdagangan orangutan untuk dijadikan binatang peliharaan. Namun, nampaknya hal-hal ini tidak lagi dihadapi oleh orangutan yang menghuni Hutan 657.

Scott mengatakan, isu orangutan, lingkungan, dan manusia sangat rumit, tak sesederhana yang dipikirkan orang awam. Ia mengapresiasi komitmen PT KAL dalam merawat hutan konservasi dan orangutan penghuninya. “Bayangkan jika tak ada perusahaan yang menjaga, kehidupan orangutan liar niscaya akan rawan konflik dengan manusia,” kata Scott.

“Perusahaan seperti PT KAL ini layak diapresiasi karena sudah menetapkan standar dan semua pihak mematuhinya,” kata Scott. Tetapi perusahaan harus tetap terus menjaga agar pohon-pohon tak ditebang dan orangutan dijaga agar jangan sampai menjadi korban perburuan liar, serta mencegah kebakaran hutan. Orangutan, kata Scott, harus tetap dijauhkan dari semua potensi ancaman.

Maharani adalah salah satu penghuni kawasan konservasi ini. Seperti lazimnya perilaku orangutan lainnya, Maharani yang sedang hamil itu, terlihat aktif berayun dari satu pohon ke pohon lainnya mencari makanan. Ia sesekali juga mengeluarkan teriakan keras. Jakun orangutan memang dapat digelembungkan, menghasilkan suara keras, untuk memanggil dan memberitahukan posisinya.

Maharani beserta kawan-kawannya, yang sehat dan aktif seperti itu, merupakan pemelihara hutan yang baik, membantu penyebaran tanaman melalui biji buah yang mereka makan, entah yang dijatuhkannya ke tanah dengan tidak disengaja atau yang dikeluarkan bersama kotoran mereka.

Orangutan juga membantu pertumbuhan pohon baru di hutan lebat yang tak dapat ditembus sinar matahari. Saat makan atau membuat sarang, orangutan mematahkan dahan pohon dan mengambil daun-daunan. Bagian atas pohon menjadi terbuka sehingga sinar matahari dapat sampai di permukaan tanah. Pohon-pohon kecil yang semula tak mendapatkan sinar matahari pun terbantu pertumbuhannya.

Hutan 657 merupakan contoh nyata yang dapat menunjukkan bahwa bila perusahaan, seperti halnya PT KAL dan para pemangku kepentingan lainnya,  memiliki komitmen dalam menjaga keberlangsungan kawasan konservasi, masa depan  orangutan, seperti Maharani dan teman-temannya, tak akan perlu dikhawatirkan lagi.

Share This