Tingkat produktivitas yang masih jauh dari optimal merupakan ciri banyak perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan penggunaan aplikasi digital untuk mencatat data dan memungkinkan pemantauan nyata akan dapat mengatasi beberapa aspek dari permasalahan yang banyak memiliki potensi menimbulkan kerugian ini.

“Banyak perkebunan kelapa sawit di sini yang tidak mengoptimasikan lahan mereka,” ujar Ferron Haryanto, eksekutif sebuah perusahaan yang berusaha mencari jawaban atas kelemahan tersebut.

Dalam percakapannya dengan The Palm Scribe, Haryanto, CEO dari PT. eKomoditi Solutions Indonesia, mengatakan bahwa diantara banyak aspek yang mempengaruhi produktivitas kebun, adalah adanya “pekerja hantu” dan “tandan hantu”.

“Pekerja hantu” yang dimaksud adalah adanya absensi kehadiran pekerja, meskipun pekerja tersebut tidak hadir pada saat itu. Sementara “tandan hantu” adalah ketidaksamaan angka produksi buah yang sampai dari lapangan ke pabrik.

Untuk mengatasi permasalahan ini, PT eKomoditi Solutions menciptakan sebuah program digital yang diberi nama Electronic Plantation Control System (ePCS) yang memungkinkan pengguna untuk mengamati secara nyata kondisi perkebunannya sekaligus memberikan sarana bagi pencatatan data yang efisien.

Program digital ini tidak memerlukan sinyal internet karena dilengkapi dengan Global Positioning System (GPS) yang terhubung langsung dengan satelit.

Data lapangan tercatat dan terkumpul dalam sebuah QR Code

Gambaran nyata perkebunan yang ada diperoleh dengan pengambilan gambaran udara secara berkala dengan menggunak drone. Data yang dihimpun kemudian disimpan di pusat data yang terdapat di kantor pusat perusahaan.

Untuk memudahkan pemauntauan, wilayah perkebunan dibagi kedalam beberapa wilayah yang ditandai dengan warna tertentu.

Dengan perlengkapan khusus, data dapat dicatatkan langsung dilapangan dengan menggunakan QR code yang harus dibawa secara manual ke pusat pengumpulan data di kantor pusat dan dengan demikian menghilangkan ketergantungan kepada jaringan internet yang serkingkali tidak ada atau tidak stabil di pelosok nusantara ini.

Untuk menghindari adanya “pekerja hantu” sistem ini juga dilengkapi dengan pemindai mata, atau Iris Scanner, yang digunakan untuk memastikan kehadiran pekerja setiap harinya dengan Alat  peminday ini, yang ditempelkan langsung ke mata pekerja, langsung mengirimkan data identifikasi mata tersebut ke sebuah telepon genggam berbasis android.

“Teknologi ini memungkinkan pengelola perkebunan untuk melihat potensi yang belum terlihat pada lahannya dan membuat keputusan langsung yang akan berdampak terhadap perusahaannya,” ucap Haryanto.

Iris Scanner

Aplikasi digital ini juga dapat meningkatkan traceability value dalam industri kelapa sawit.

“Kita dapat melacak kemana saja buah kelapa sawit didistribusikan dari perkebunan sampai dengan restoran yang menggunakannya,” ujar Haryono kepada The Palm Scribe.

Iapun menambahkan bahwa dengan penggunaan aplikasi diital ini “umur perkebunan bisa lebih tahan lama, sementara lahan yang digunakan bisa lebih sedikit,” karena effisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi,

Selain itu, ia mengatakan bahwa penggunaan ePCS juga mendukung keberlanjutan dalam industri kelapa sawit, terutama dalam bidang kemanusiaan karena ia juga mencatat berbagai data para pekerjanya, seperti dimana mereka bekerja, apa yang dikerjakannya,  besaran pengupahannya dan banyak lagi data pekerja lainnya.

“Keberlanjutan untuk manusianya, apakah mereka aman? Apakah mereka bekerja di lingkungan yang mendukung? Apakah mereka dibayar? Jadi dengan memiliki sistem teknologi ini membuat pekerja juga menjadi aman dalam segala aspek,” jelas Haryono.

Seperti halnya teknologi manapun penerapan ePCS ini memang membutuhkan biaya yang bergantung kepada infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki si pengguna.

“Kita melalukan penilaian terlebih dahulu kepadaclient kami sebelum memberikan harga. Apakah mereka sudah memiliki infrastruktur IT dan memiliki staff IT, kalau tidak kita bisa menyediakannya dengan harga yang lebih tentunya,” ucap Haryanto sambil menjelaskan bahwa harga minimal rata-rata aplikasi ePCS adalah sekitar Rp500 juta.

Menurutnya, harga tersebut masih termasuk murah bila dibandingkan dengan nominal risiko kerugian di lapangan dalam jangka waktu satu tahun.

Haryanto juga menilai kelapa sawit adalah industri besar yang penuh potensi di Indonesia. “Industri ini sangat menantang karena setiap tahunnya banyak hal yang baru dan teknologi mempunyai peluang besar untuk masuk disini,” tutupnya.

Aplikasi digital ini sudah mulai ditawarkan semenjak empat tahun yang lalu, namun Haryanto menolak memberitahukan berapa jumlah aplikasi yang sudah terjual sampai kini.

Share This