Minimnya kesadaran masyarakat di Papua akan pentingnya pola hidup sehat, menjadikan kesehatan tetap bercokol sebagai salah satu permasalahan utama di Papua dan menghadirkan tantangan yang berat bagi dokter muda yang berbakti disana, seperti Lidya Fransisca.

Lulusan Universitas Atmajaya ini menyadari betul kurangnya kesadaran ini dan tingginya perbedaaan antara mutu dan kesadaran kesehatan masyarakat Papua dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia.

“Di sini, setiap daerah itu mempunyai awareness yang berbeda. Masyarakat kita ini yang di Papua unik, kita menghadapi masyarakat yang mempunyai tingkat pendidikan yang mempunyai gap yang jauh, karena ini daerah terpencil,” ujar wanita yang akrab disapa Lidya tersebut.

Lidya Fransisca berbicara tentang kondisi kesehatan di Papua

Lidya menambahkan bahwa menurutnya masyarakat lokal terpencil di Papua Barat mempunyai mood yang seringkali berubah dan berdampak terhadap berjalannya pola hidup sehat.

Ia juga mengatakan bahwa permasalahan yang ada di Papua juga berbeda dengan kebanyakan daerah lainnya di Indonesia.

“Kalau di Jakarta, penyakitnya lebih degenerative, seperti jantung koroner, hypercholesterol, sementara kalau di Papua adanya penyakit klasik, seperti malnutrisi, batuk, pilek, cacingan, dan penyakit yang berbasis lingkungan sekitar,” ujar Lidya yang keluarganya berasal dari Papua namun ia sendiri lama tinggal di Jakarta dan menempuh pendidikan disana.

Dengan rasa keterkaitan yang erat yang dimiliki dengan tanah timur Indonesia tersebut, Lidya pun memilih meninggalkan ibukota dan bekerja di daerah asal keluarganya. Iapun tidak memilih untuk bergabung dengan instansi kesehatan seperti dokter pada umumnya, melainkan bergabung dengan Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII), sebuah organisasi yang bergerak di bidang kesehatan ibu dan anak, gizi serta Water Access Sanitation Hygiene (WASH).

Bersama YPCII, Lidya aktif membangun kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat di daerah Sorong, di Papua Barat. Dalam program pembangunan kesadaran akan pola hidup sehat di Papua ini, YPCII bekerja sama dengan PT Austindo Nusantara Jaya (ANJ), sebuah perusahaan agrobisnis yang memiliki operasi di Papua Barat, termasuk mengelola perkebunan kelapa sawit.

Ia menilai saat ini, perannya sudah membawa dampak positif yang terlihat di masyarakat sekitar perkebunan kelapa sawit perusahaan.

“Secara umum, sekarang kami melihat kebanyakan masyarakat lebih tahu, ternyata kasih makan anak itu harus seperti ini, kalau memandikan itu seperti ini,” ujarnya semangat sambil menjelaskan bahwa fokusnya saat ini adalah menyebarkan informasi pola hidup sehat yang nantinya akan menimbulkan kemauan untuk hidup sehat dan kemudian menjadikannya sebuah kebiasaan hidup.

Namun, Lidya mengakui bahwa membangun kesadaran masyarakan akan pola hidup sehat bukan pekerjaan yang mudah. Lidya mengaku menyadari bahwa pembangunan kesadaran pola hidup sehat di Papua tidak akan dapat berjalan dalam waktu yang singkat. Membawa perubahan ini juga memerlukan perhatian lebih dari semua pihak agar hasil maksimal dapat tercapai di masa depan.

“Pembelajaran di Papua ini unik, penangkapan daya serap masyarakat disini agak sulit, nanti ingat terus lupa lagi, kedepannya butuh pendampingan teratur dan berkala oleh perusahaan maupun pemerintah,” ujarnya sambil berharap.

Bagi ANJ, yang mengelola perkebunan sawit di daerah di mana Lidya bekerja, salah satu tujuan perusahaan dalam beroperasi di Papua, adalah untuk membantu pembangunan kualitas masyarakat sekitar, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

Pada bidang kesehatan dan pendidikan, selain bermitra dengan YPCII dalam program pembangunan kesadaran pola hidup sehat, ANJ menginisiasi program akses terhadap air bersih, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan peningkatan kapasitas sekolah dasar hingga menengah atas.

Share This