The Palm Scribe

LSM Sambut Baik Komitmen PepsiCo terhadap Minyak Sawit Berkelanjutan

ilustrasi kalang minyak sawit berkelanjutan

Rainforest Action Network (RAN) telah menyuarakan apresiasinya atas komitmen terbaru perusahaan raksasa makanan dan minuman PepsiCo Inc dalam mendukung minyak kelapa sawit yang berkelanjutan, yang juga diharapkan dapat mendorong perubahan dalam industri minyak sawit umumnya.

“Kami mengapresiasi PepsiCo karena mengadopsi kebijakan komprehensif dan tindakan-tindakan terdepan yang jika diterapkan, akan mendorong perubahan dalam rantai pasok minyak sawitnya serta industri yang lebih luas,” ungkap Robin Averbeck, Direktur Kampanye Agribisnis Rainforest Action Network (RAN) dalam sebuah siaran persnya baru-baru ini,

Di bulan Februari ini, PepsiCo mengumumkan bahwa telah memperbarui komitmennya dengan mengadopsi kebijakan pengadaan minyak kelapa sawit yang komprehensif dan berjanji untuk melakukan serangkaian tindakan yang bertujuan untuk memastikan bahwa minyak sawit dalam rantai pasokannya tidak menyebabkan deforestasi, tidak menghancurkan gambut, melanggar hak asasi manusia atau hak-hak buruh.

Perubahan kebijakan PepsiCo merupakan puncak kampanye selama enam tahun dan perusahaan berharap hal itu juga akan membantu menunjukkan kepada industri kelapa sawit bahwa produksi minyak kelapa sawit dapat dan harus dilakukan secara bertanggung jawab.

Kebijakan ini akan diterapkan untuk seluruh rantai pasokan PepsiCo, dari pemasok langsung sampai ke produsen dan mencakup baik minyak sawit maupun minyak inti sawit, di seluruh dunia. Ini juga berlaku untuk semua pemasok di tingkat grup, termasuk sepanjang operasinya hingga pemasok pihak ketiga dan juga tidak hanya terbatas kepada minyak sawit yang dijual langsung ke PepsiCo.

Baca juga: PepsiCo Perbaharui Komitmen Untuk Mendorong Minyak Sawit Berkelanjutan

RAN mengatakan bahwa kebijakan ini juga akan mendorong mitra bisnis perusahaan -termasuk raksasa makanan seperti Indofood Indonesia, untuk menjadi berkelanjutan dalam pasokan minyak kelapa sawitnya.

Kebijakan baru ini dikembangkan bersama dengan RAN, Organisasi Penguatan dan Pengembangan Usaha-usaha Kerakyatan (OPPUK), dan Forum Hak-hak Buruh Internasional (ILRF).

“Realitas krisis iklim global semakin nampak dan negara kepulauan seperti Indonesia adalah yang pertama mengalami dampak terburuknya,” kata Herwin Nasution, Direktur OPPUK.

Dia mengatakan bahwa ketika minyak sawit bermasalah berkontribusi terhadap deforestasi dan perubahan iklim, tenaga kerja dalam sektor kelapa sawit di seluruh Indonesia juga akan terkena dampaknya. Herwin mengatakan bahwa organisasinya akan terus memantau implementasi kebijakan baru tersebut.

“Saat ini kita menghadapi tahun kritis 2020, janji-janji diatas kertas perlu diubah menjadi aksi nyata di lapangan yang berdampak pada pekerja dan lingkungan,” ujar Judy Gearhar, Direktur Eksekutif ILRF.

“PepsiCo dan perusahaan multinasional lainnya telah berjanji untuk memberantas kerja paksa, pelanggaran HAM dan deforestasi dari rantai pasoknya, jangan buang waktu,” imbuhnya.

RAN sejauh ini mendorong para pendukung mereka untuk mengambil tindakan. Lebih dari 100.000 orang telah menandatangani petisi yang menyerukan perusahaan untuk implementasi sistem berkelanjutan dan untuk meningkatkan kesadaran di komunitas mereka sendiri.

Mereka juga telah merundingkan kebijakan tentang minyak kelapa sawit dengan beberapa perusahaan manufaktur besar dan membantu membawa perubahan dalam industri minyak sawit dengan menetapkan harapan bahwa minyak sawit harus diproduksi tanpa melibatkan deforestasi, kerusakan lahan gambut, dan pelanggaran hak asasi manusia.

Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This