Kepastian bahwa Indonesia berencana membuat moratorium pembukaan hutan (termasuk untuk kelapa sawit) menjadi​ ​permanen setelah berkali-kali diperpanjang sejak tahun 2011, merupakan tindakan berani yang akan memungkinkan industri​ ​kelapa sawit untuk tidak saja fokus meningkatkan produktivitasnya, tetapi juga akan membantu menafikkan argumentasi mengenai deforestasi dan kerusakan keanekaragaman hayati yang selama ini terus merongrong industri ini.

Saya percaya bahwa sudah waktunya bagi industri dan pemerintah di negara produsen minyak kelapa sawit untuk mulai​ ​mengurangi, atau malah menghentikan sama sekali, pembukaan lahan baru. Masih banyak sekali ruang untuk meningkatkan​ ​produktivitas melalui intensifikasi, terutama di Indonesia dan Malaysia, dua negara produsen terbesar yang memasok hampir 90 persen kebutuhan dunia.

Statistik menunjukkan bahwa produktivitas rata-rata kelapa sawit di Indonesia belum beranjak sejak 25 tahun yang lalu,​ ​dengan tingkat produktivitas kini sama dengan seperempat abad yang lalu, yaitu sekitar 3,4 ton per hektar. Malaysia pun​ ​hanya mampu meningkatkan produktivitasnya sebesar 0,3 ton per hektarnya, atau sebesar 8,6 persen diwaktu yang sama.

Rendahnya produktivitas ini sebagian besar karena tidak adanya peremajaan tanaman yang berarti. Berdasarkan profil umur​ ​tanaman rata-rata, Indonesia perlu meremajakan sekitar 150.000 sampai 200.000 hektar dalam setahun. Saya meragukan hal​ ​ini dapat dilakukan dan juga yang tak kalah mengkhawatirkan adalah bahwa di tahun 2022 Indonesia akan perlu meremajakan​ ​perkebunan seluas 650.000 hektar, juga pada tiga tahun berikutnya.

Dalam peremajaan ini, juga diperlukan pengunaan bibit unggul tersertifikasi dengan produktivitas tinggi serta tahan penyakit.​ ​Namun bila luasan yang perlu diremajakan sebesar luas Jabodetabek dan tersebar di beberapa pulau, dari Sumatra sampai​ ​Papua, maka penyediaan bibit seperti ini akan sulit terjaga secara konsisten.

Yang jelas, minyak kelapa sawit tetap akan dibutuhkan, tidak ada keraguan sama sekali mengenai hal ini. Suka atau tidak, minyak​ ​kelapa sawit sudah sedemikian meresap dalam kehidupan kita sehari-hari dan banyak orang bahkan tidak menyadarinya lagi.

Ketika kita mandi dengan sabun di pagi hari, minyak kelapa sawit ada di sana. Ketika anda merias wajah, ia juga ada di sana. Ketika​ ​sarapan, selai coklat, margarin, susu bubuk, mie dan minyak yang kita pakai menggoreng telur semuanya mengandung minyak​ ​kelapa sawit. Belum lagi krim tangan, dan berbagai obat obatan, bahkan kadang listrik dan bahan bakar yang kita gunakan dihasilkan dengan produk dari kelapa sawit. Kita belum sampai pada pembicaraaan soal makan siang.Kelapa sawit membutuhkan lebih sedikit lahan tetapi menghasilkan lebih banyak minyak dari tanaman penghasil minyak​ ​manapun.

Walaupun kacang kedelai memiliki tingkat produksi minyak terdekat dengan kelapa sawit, dunia pasti tidak akan mampu dan mau untuk menggantikan perkebunan kelapa sawit yang luas totalnya sekitar 18 juta hektar dengan kedelai, atau tanaman​ ​penghasil minyak lainnya, yang membutuhkan sampai 100 juta hektar untuk menghasilkan jumlah minyak yang sama.

Lahan kita sudah habis digunakan. Titik.

Pada dasarnya, lahan peruntukkan kelapa sawit juga terbatas. Memang tidak banyak lahan di dunia ini yang lebih cocok untuk​ ​ditanami kelapa sawit seperti yang ada di Indonesia dan Malaysia. Namun Malaysia sudah hampir kehabisan lahan untuk ditanami kelapa sawit, dan karenanya masalah deforestasi dan kehilangan habitat nampaknya menjadi masalah yang lebih cocok​ ​dibebankan kepada Indonesia.

Walaupun secara statistik, sebenarnya industri kelapa sawit sudah tidak banyak menanami lahan baru di dua tahun terakhir ini,​ ​moratorium permanen diharapkan akan menghentikan pembukaan lahan baru sama sekali. World Resources International​ ​(WRI) tahun lalu mengatakan bahwa ada tanda tanda yang memberi harapan di Indonesia pada tahun 2017, yaitu terjadinya​ ​penurunan kehilangan tutupan hutan primer sebesar 60 persen dibanding tahun sebelumnya.

Penurunan ini sepertinya​ ​disebabkan sebagian karena adanya moratorim pembukaaan lahan gambut yang dicanangkan di tahun 2016. Kehilangan hutan​ ​primer di daerah gambut yang dilindungi menurun sebesar 88 persen antara 2016 dan 2017, sebuah tingkat penurunan tertinggi selama​ ​ini.

Tetapi harus juga ditekankan bahwa tahun 2017 tersebut merupakan tahun dimana fenomena iklim El Nino tidak​ ​terjadi, sehingga terdapat kondisi yang lebih basah dan jauh lebih sedikit kebakaran hutan dan lahan dibandingkan tahun​ ​tahun sebelumnya. Pendidikan, kampanye mengenai undang undang dan peraturan mengenai kehutanan serta​ ​penegakan hukum yang lebih ketat oleh polisi setempat juga membantu mencegah penggunaan api untuk​ ​membersihkan​ ​atau membuka lahan.

Mengurangi, kalau tidak menghentikan penanaman kelapa sawit yang baru, juga akan membantu menguatkan harga​ ​minyak kelapa sawit global, karena sumber komoditas menjadi terbatas. Sebuah produk yang merupakan kebutuhan pokok​ ​dan tidak ada penggantinya bahkan untuk jangka waktu yang panjang, selalu didefinisikan sebagai produk dengan harga yang tidak elastis karena konsumen tak akan keberatan untuk membelinya, walaupun harganya relatif tinggi.

Kapanpun, akan terdapat stok minyak kelapa sawit sekitar lima sampai tujuh juta ton (10 sampai 12 persen dari produksi​ ​tahunan) dan sekitar 75 sampai 90 juta ton stok kedelai di dunia (22 sampai 27 persen dari produksi tahunan.) Bila dibandingkan​ ​dengan kedelai, dilihat dari konsumsi dasar bulanan, hanya akan terdapat stok minyak kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan​ ​1,5 bulan dibandingkan stok kedelei untuk 3,5 bulan.

Bila mencermati harga Minyak Kelapa Sawit Mentah (CPO) yang dikaitkan dengan stok bulanan CPO di Malaysia antara tahun 2010​ ​dan 2015, akan jelas terlihat bahwa harga CPO sangat terkait dengan besaran stok yang ada.

Tiap penjual, pembeli maupun analis minyak kelapa sawit akan jauh lebih memperhitungkan besaran stok CPO, dibandingkan​ ​faktor cuaca untuk memperkirakan harga, karena asumsi dasar mereka adalah bahwa selama semua sumber kelapa sawit belum diperhitungkan dalam jangka waktu masa penyerahan tertentu, minyak kelapa sawit tetap akan mengalir masuk ke​ ​pasaran dan akan sulit tercapai keseimbangan.

Singkatnya, kurva pasokan untuk minyak kelapa sawit sangat elastis, tetapi ketika​ ​pasokan menjadi terbatas, kurva itu akan menjadi curam dan tiap tahunnya kurva permintaannya akan semakin mengarah ke​ ​kanan. Anda tidak perlu untuk tahu mengenai hukum permintaan yang susut untuk dapat memahami bahwa ketika sebuah produk​ ​menjadi jarang, sementara permintaan secara relatif tidak berubah, tentunya harga akan melambung.

Jadi lebih sedikit, ternyata lebih baik.

Saya kira biarkanlah kekuatan pasar menentukan harga yang layak untuk pasokan terbatas dari minyak kelapa sawit yang​ ​diproduksi secara berkelanjutan dan bertanggung jawab karena begitu dunia menyadari bahwa lahan untuk menanam kelapa​ ​sawit menjadi terbatas, niat baik akan muncul dan serangan serangan akan mereda.

* Denys Munang, adalah Direktur Keberlanjutan & Hubungan Investor di PT Eagle High Plantations Tbk

Share This