The Palm Scribe

Kecil Kemungkinan Perubahan Posisi UE terhadap Minyak Sawit

bendera Uni Eropa

Komisi Eropa kini sedang dalam proses menerima masukan dan opini terhadap rancangan “Delegated Act” tentang kriteria keberlanjutan bagi biofuel. Namun demikian, kecil kemungkinan terjadi perubahan posisi Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit yang sudah dianggap sebagai tanaman penyebab deforestasi, seorang diplomat Indonesia menyampaikan.

“Peluang bagi UE untuk mengubah posisinya terhadap minyak sawit yang sudah dianggaphigh risk Indirect Land-Use Change(ILUC, seperti tertera dalam draft Delegated Act tersebut) sangat kecil,” kata diplomat yang berbasis di Brussel tersebut kepada The Palm Scribe melalui surel atas pertanyaan kami.

Indonesia telah mengkritik penggunaan resiko ILUC sebagai kriteria penetapan keberlanjutan minyak nabati, termasuk kelapa sawit dengan mengatakan bahwa kriteria ini tidak saja diterapkan secara diskriminatif tetapi juga merupakan kriteria yang belum banyak diakui dan digunakan kecuali di Uni Eropa dan Amerika Serikat.

“Namun demikian, tidak ada kejelasan ataupun penjelasan atas informasi terkait variabel yang digunakan dalam formula untuk penghitungan high risk ILUC, yaitu terkait dengan variabel produktivitas yang digunakan dalam formula tersebut,” jelas diplomat Indonesia tersebut.

Pejabat Indonesia juga sudah menyatakan bahwa pemerintah berencana membawa masalah ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Lynn Rietdorf, Press officeruntuk Aksi Iklim dan Energi Komisi Eropa, dalam surelnya kepada The Palm Scribe, mengatakan bahwa rancangan Delegated Actmenetapkan kriteria tertentu untuk mementukan apakah tanaman pengasil minyak nabati memiliki risiko yang tinggi, dengan demikian menyebabkan deforestasi. Definisi risiko tinggi ILUC ini didasarkan atas ekspansi produksi yang artinya lahan dengan cadangan karbon tinggi.

Rietdorf merujuk kepada sebuah annex untuk penetapan formula perhitungan resiko ILUC, namun sang diplomat mengatakan bahwa variabel yang digunakan dalam formula tersebut jelas diskriminatif.­

Menurut diplomat tersebut variabel yang digunakan “Secara langsung dan eksplisit telah mendiskriminasi kelapa sawit karena angka yang ditetapkan untuk kelapa sawit sudah melebihi ambang batas kategori low risk ILUC.”

Ia juga menambahkan bahwa dalam annex tersebut, ekspansi produksi rata-rata bagi kelapa sawit sejak tahun 2008 sudah ditetapkan sebesar empat persen sedangkan porsi ekspansinya kedalam lahan dengan stok karbon tinggi ditetapkan sebesar 18 persen.

Rancangan Delegated Act menetapkan bahwa tanaman penghasil minyak yang beresiko ILUC tinggi adalah yang ekspansi produksi rata-rata per tahunnya sejak tahun 2008 lebih besar dari satu persen. Porsi ekspansi tersebut kedalam lahan dengan cadangan karbon tinggi juga melebihi 10 persen.

Diplomat Indonesia tersebut juga menambahkan bahwa terdapat informasi yang mengatakan adanya pandangan bahwa penyusunan Delegated Actterkesan tidakoptimal yang ditunjukkan oleh statement Uni Eropa yang menyatakan bahwa rancangan tersebut tidak didukung oleh impact assessment.

“Mekanisme konsultasi penyusunan rancangan Delegated Actdengan para pemangku kepentingan sawit di Uni Eropa dan pihak produsen dianggap sudah terpenuhi (dijadikan UE sebagai “pembenaran”) melalui terselenggaranya EU expert stakeholders workshop tanggal 19 November 2018, padahal tidak semua stakeholders hadir dan tidak ada referensi jelas dalam rancangan tersebut atas masukan yang diberikan selama dan sesudah pelaksanaan stakeholder workshop dimaksud,” imbuhnya.

Periode konsultasi publik untuk rancangan Delegated Act tersebut akan berakhir pada tanggal 8 Maret 2019.

Renewable Energy Directive (RED) Uni Eropa yang telah direvisi menetapkan kebijakan umun bagi promosi dan penggunaan energi dari sumber-sumber terbarukan untuk UE. Ia menetapkan batasan batasan bagi biofuel, bioliquidsdan biomassa yang beresiko ILUC tinggi, yang memiliki laju ekspansi yang tinggi kedalam lahan dengan cadangan karbon tinggi.

Pembatasan-pembatasan ini akan mempengaruhi jumlah bahan bakar minyak yang dapat dihitung negara anggota UE kedalam porsi energi terbarukan nasional mereka dan dalam energi terbarukan yang digunakan oleh sektor transportasi mereka.

Pembatasan-pembatasan ini membekukan volume minyak yang dihasilkan dengan tanaman beresiko ILUC tinggi di tahun 2019 selama periode 2021-2023 untuk kemudian secara perlahan dihilangkan hingga mencapai nol persen pada tahun 2030.

Share This