Bagi Jamartin Sihite, bekerja di bidang konservasi alam dan lingkungan merupakan sesuatu yang sangat wajar. Semenjak kanak-kanak, Sihite kecil sudah percaya bahwa manusia harus berbuat sesuatu bagi lingkungan yang telah dirusaknya dan bahwa manusia memang menggantungkan hidupnya pada alam.

CEO BOSF Jamartin Sihite. (Foto: BOSF)

“Saya selalu bekerja dalam bidang yang berhubungan dengan pelestarian alam dan seisinya. Saya sejak kecil berpendapat bahwa manusia wajib ‘membayar kembali’ berbagai kerusakan yang kita timbulkan kepada alam. Jika kita ingin memanfaatkan hasil alam, kita harus melakukannya dengan bertanggung jawab, dan juga dengan tertib memeliharanya, agar kekayaan alam tidak habis,” katanya kepada The Palm Scribe dalam sebuah wawancara tertulis baru-baru ini.

“Keseimbangan antara pemanfaatan hasil alam dan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan itu adalah sebuah keniscayaan,“ imbuh pegiat konservasi yang benar-benar berdedikasi dan memiliki gairah yang tinggi dalam mendukung pelestarian spesies yang dilindungi, seperti kadal raksasa komodo, serta orangutan Sumatra dan Kalimantan yang terkenal itu.

Sihite bergabung dengan Borneo Orangutan Survival (BOS) pada 2010 sebagai presiden direktur PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), sebuah perusahan bentukan BOS Foundation untuk memperoleh hak konsesi atas ekosistem bagi rehabilitasi dan pelepasan orangutan yang telah mampu bertahan di alam liar.

Selama sepuluh tahun pertamanya, BOS sudah menyelamatkan dan melepaskan kembali ke alam liar sebanyak sekitar 400 individu orangutan. Mereka dilepaskan kembal di kawasan hutan lindung Gunung Seratus dan Sungai Wain di Kalimantan Timur. Pada tahun 2002, BOS terpaksa menghentikan program pelepasan kembali orangutan ke alam liar karena tidak tersedianya hutan yang seusai untuk melepaskan kera besar ini.

Di bawah pimpinan Sihite, yang kemudian menjadi CEO Bos Foundation di tahun 2011, yayasan tersebut berhasil mendapatkan konsesi seluas 86.400 hektare di hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Hal ini kemudian memungkinkan program pelepasan orangutan ke alam liar kembali dapat berjalan pada tahun 2012.

Orangutan yang dilepaskan umumnya telah menjalani proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi milik BOS Foundation di Samboja Lestari, Kalimantan Timur selama paling tidak tujuh tahun.

BOS Foundation kemudian juga berangsur-angsur mendapatkan hutan tambahan kembali, termasuk di Bukit Batikap di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah dan mulai 2016, diperoleh kawasan baru di Taman Nasional Bukit Baka and Bukit Raya  di Katingan, Kalimantan Tengah.

“Sebanyak 301 orangutan kini telah dilepaskan di daerah-daerah baru ini. Dengan pelepasan terakhir ini, sudah lebih dari 2.200 orangutan yang dilepaskan ke alam oleh BOS Foundation semenjak berdirinya di tahun 1991,” ujar Sihite.

BOS Foundation kini mengelola human seluas sekitar 500.000 hektare dan menjalankan dua pusat rehabilitasi orangutan, satu di Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan satunya lagi di Samboja Leste di Kalimantan Timur.

Sihite menamatkan pendidikan tinggi di jurusan konservasi tanah di Institut Pertanian Bogor pada tahun 1989. Ia segera bekerja pada berbagai proyek sebagai ahli ekologi atau sebagai ilmuwan lingkungan bagi beberapa organisasi termasuk WWF Indonesia dan WCS. Pada saat yang sama ia juga meneruskan pendidikannya hingga meraih gelar PhD dalam ilmu lingkungan pada tahun 2004.

Sembari mengejar gelar PhD, ia mengajar pada Fakultas Arsitektur Lansekap di Universitas Trisakti, dan menduduki berbagai posisi, termasuk sebagai team leader, wakil direktur konservasi Komodo dan kemudian sebagai penasihat senior pada Nature Conservancy.

Secara profesional, perkenalannya dengan orangutan yang kemudian mendominasi kariernya, terjadi ketika ia bekerja sebagai wakil Chief of Party dalam proyek USAID-OCSP (Orangutan Conservation Services Program) tahun 2007-2010. Ia kemudian meneruskan persinggungannya dengan kera besar ini dengan menjadi presiden direktur RHOI pada Oktober 2010 dan berselang satu tahun kemudian menjadi CEO BOS Foundation hingga kini.

Ketika ditanya mengenai harapan jangka panjangnya, ia mengatakan bahwa adalah impiannya bahwa pada satu ketika di masa yang akan datang, “Saya berharap, agar konservasi orangutan ini bisa segera usai. Kami tidak perlu menyelamatkan orangutan lagi. Semua orangutan yang saat ini kami rehabilitasi, bisa kami kembalikan ke hutan, atau bagi yang tidak bisa dilepasliarkan karena penyakit, cacat tubuh, atau kurangnya keterampilan hidup liar, di suaka khusus orangutan.“

Ia juga berharap agar tidak ada lagi kawasan hutan, terutama yang memiliki nilai konservasi tinggi (HCV: High Conservation Value) mengalami pembukaan lahan (landclearing).

Seperti halnya pegiat konservasi lainnya, Sihite menikmati kepuasan dalam pekerjaannya di kala dapat melihat perubahan positif yang terjadi dalam bidang lingkungan. Hal-hal seperti pelepasan kembali orangutan ke alam liari, dan melihat hutan yang Sudan direhabilitasi,  juga memberikan kepuasan batin yang mendalam.

“Namun itu baru kemenangan-kemenangan kecil. Perjuangan dan jalan kita masih panjang. Panjang sekali,” katanya.

Share This