The Palm Scribe

Jamal Balfas: Replanting Sawit Mengurangi Deforestasi dan Menyediakan Kayu Alternatif

Seorang peneliti mengatakan bahwa batang pohon kelapa sawit dari proses peremajaan perkebunan sawit di Indonesia, negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, bisa dijadikan pasokan bahan baku alternatif yang akan mampu menggantikan penggunaan kayu sehingga akan mengurangi tekanan terhadap hutan di negera ini.

Jamal Balfas, seorang peneliti yang sudah menekuni alternatif penggunaan limbah kelapa sawit semenjak 1997, mengatakan bahwa batang pohon kelapa sawit dari program peremajaan tanaman sawit memiliki berbagai kegunaaan: bahan pangan yang menghasilkan pati, sebagai bahan bakar dengan pelet dari serbuk limbah, biomas maupun sebagai pengganti kayu.

“Sawit bisa menggantikan kebutuhan akan core (lapisan inti) yang secara tradisional dibuat dari kayu hutan. Kita bisa menggantikan 80 persen kebutuhan core ini dengan kayu sawit. Itu efek lingkungannya, bisa mengurangi tekanan yang diakibatkan oleh kebutuhan akan kayu hutan,” ujar Jamal.

Ia menjelaskan dalam wawancaranya dengan The Palm Scribe belum lama ini bahwa core, atau lapisan tengah yang biasanya berfungsi sebagai pengisi dan insulasi pada daun pintu laminasi, dapat digantikan dengan mudah oleh kayu kelapa sawit yang dikeringkan dalam tungku pengering, hingga bersifat “spongy.” Bila ingin melindungi dan menguatkan lapisan ini, rongga-rongga yang ada dapat diisi dengan resin. Veneer kayu kelapa sawit juga digunakan sebagai lapisan dalam dari plywood.

“Keunggulan terpenting dari bahan kayu sawit ini adalah bahwa pasokannya banyak dan stabil,” tukas lelaki kelahiran Bogor yang sudah bekerja di Pusat Litbang Hasil Hutan semenjak tahun 1984 ini.

Dengan perkiraan bahwa setiap tahunnya perlu diremajakan sekitar 500.000 sampai 600.000 hektar lahan sawit,  akan ada pasokan sebesar lebih dari 100.000 meter kubik per tahunnya, jauh melebihi pasokan kayu hutan.

Penggunaan paling umum dari kayu kelapa sawit sebagai pengganti kayu adalah dalam bentuk laminated veneer lumber (LVL) yaitu kayu olahan yang menggunakan beberapa lapisan kayu yang dirakit dengan perekat sebagai bahan komponen struktural bangunan pengganti kayu gergaji. Bila ingin menggunakan kayu kelapa sawit yang solid, diperlukan  prosess yang berbeda dari proses jenis jenis kayu lainnya.

Batang kelapa sawit harus terlebih dahulu dikeringkan dalam tungku pengering agar pati yang dikandungnya berubah menjadi lem alami, kemudian batang tersebut harus ditekan untuk memadatkannya menjadi kayu solid. Sebuah proses yang lebih rumit dan mahal dibandingkan dengan proses untuk kayu lainnya.

Menurut Jamal, LVL dari kayu kelapa sawit memiliki tingkat kepadatan yang setara dengan kayu setingkat kruin atau kamper dan di pasaran, produk LVL ini masih lebih tinggi dibandingkan yang berasal dari kayu.

Peneliti yang mengantongi gelar Master of Science dari Australian National University ini, menjelaskan bahwa kayu kelapa sawit sifatnya tidak saja memiliki kandungan air yang tinggi, juga struktur seratnya yang menyilang serta bergerumbul sulit digergaji.

Walau sekarang ini proses untuk membuat kayu solid maupun veneer dari kelapa sawit masih jauh dari ekonomis, tetapi bila kelak pasokan kayu dari hutan sudah sangat menipis, potensi pengunaan kayu kelapa sawit ini akan menjadi sangat tinggi.

Dengan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Litbang Pengembangan Hasil Hutan sedang merancang dan merakit mesin pemroses kayu kelapa sawit untuk skala industri.

Dalam mengeksploitasi bahan yang berlimpah namun sumbernya berpindah pindah seiring dengan lokasi peremajaan, kini sedang dikembangkan mill yang dapat memproses batang kayu sawit menjadi veneer, lapisan kayu tipis, yang dapat dipindah-pindahkan mengikuti daerah yang tanamannya diremajakan.

Jamal bercerita bahwa pada awalnya, ia meneliti kayu kelapa sawit menyusul adanya larangan membakar paska replanting di Sumatra Utara. Namun, pada saat itu ketersediaan kayu lainnya masih banyak hingga penggunaan batang kelapa sawit untuk pengganti kayu belum dilirik oleh umum.

Ini tidak berarti belum pernah veneer dari kelapa sawit diproduksi pada skala masal. Sebuah perusahaan di Kota Pinang, Sumatra Utara, pernah mengekspor ribuan kubik plywood dari kelapa sawit, namun kegiatan ini terhenti setelah tidak ada lagi replanting di perkebunan mereka. Hal yang sama juga terjadi pada sebuah persusahaan di Palopo, Sulawesi Selatan.

Tahun lalu sebuah pabrik plywood mencoba untuk memproduksi dengan kayu sawit, “Namun mereka melihat bahwa proses pengolahan sawit tak semudah untuk kayu biasa,” ujar Jamal.

Veneer sawit yang ideal memiliki ketebalan 5-6 milimeter, jauh lebih tebal dari ketebalan antara 0.24 milimeter sampai sekitar tiga millimeter untuk berbagai jenis kayu biasa, sehingga dibutuhkan penyesuaian mesin pemrosesnya bila ingin beralih ke kayu kelapa sawit.

Sifat dan struktur seratnya juga cepat merusak mata gergaji mesin pemotongnya sementara pengangkutan batang kelapa sawit juga dianggap kurang efisien. Jamal menggambarkannya seperti mengangkut “tong air” karena walaupun batangnya besar, kandungan kayunya sedikit.

Jamal meyakini prospek terbaik bagi kayu kelapa sawit sementara ini adalah untuk dijadikan veneer, tetapi masih harus dicari bagaimana dapat membuat veneer yang bagus secara efektif.

“Yang dibutuhkan adalah bagaimana menghasilkan veneer yang ketebalannya merata diseluruh permukaan, solid dan tak pecah. Kalau kita bisa mendapatkan ini dari sawit, selesai masalahnya, akan dapat digunakan untuk banyak macam produk kayu,” ujar Jamal.

Jamal juga tak berputus asa dan kembali bekerja sendirian di laboratorium mekaniknya, untuk mencoba menemukan mesin ideal bagi kayu kelapa sawit yang juga akan dapat menyelamatkan hutan di negerinya.

Share This