The Palm Scribe

IPOC 2019: Antara Rendahnya Harga Komoditas dan Stigma Negatif Kelapa Sawit

Industri kelapa sawit Indonesia akan mengadakan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) ke-15 akhir bulan ini di tengah rendahnya harga komoditas dan citra negatif kelapa sawit secara global, yang dipandang sebagai penyebab utama deforestasi serta kebakaran hutan dan lahan yang baru-baru ini melanda negara ini.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menjadwalkan IPOC 2019 dengan tema “Industri Minyak Kelapa Sawit: Mengelola pasar, Meningkatkan Daya Saing” di Nusa Dua, Bali, pada 30 Oktober hingga 1 November 2019.

“Melihat apa yang telah dialami industri sawit dalam dua tahun terakhir, dengan  rendahnya harga Minyak Sawit Mentah (CPO) yang telah mempengaruhi bisnis secara keseluruhan, serta kebakaran lahan dan hutan yang sedang berlangsung, IPOC di Bali menjadi sangat penting untuk industri ini,” ujar Ketua GAPKI, Joko Supriyono pada konferensi pers di Jakarta pada Kamis (17/10).

Joko mengatakan bahwa selain harga rendah dan kebakaran, industri minyak sawit Indonesia juga dilanda masalah lain, termasuk rencana Uni Eropa untuk secara bertahap menghapuskan biofuel berbasis minyak kelapa sawit dari sektor transportasi, serangan gencar dari “kampanye hitam” yang dilakukan oleh organisasi non-pemerintah (LSM) dalam kaitannya dengan deforestasi, pembukaan lahan dengan api, pelanggaran hak asasi manusia, dan lainnya.

Indonesia adalah produsen, eksportir, dan konsumen minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi mencapai 34,7 juta ton pada Agustus 2019, atau 14 persen lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. GAPKI juga menunjukkan bahwa ekspor untuk periode yang sama mencapai 22,7 juta ton atau 3,8 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. China dan India masih menjadi importir CPO Indonesia terbesar.

Kedua negara tersebut mengonsumsi 11,7 juta ton CPO dalam delapan bulan pertama 2019, atau meningkat 44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Minyak kelapa sawit adalah kontributor utama pendapatan negara, tetapi harga global yang rendah dan kampanye negatif terhadap minyak sawit dan industrinya telah mengancam ekspor dan pendapatan negara.

Joko mengatakan bahwa rendahnya harga minyak kelapa sawit global menjadi penting bagi industri untuk menemukan strategi untuk meningkatkan daya saing komoditas tersebut. IPOC 2019 diharapkan membahas cara untuk mengembangkan daya saing minyak kelapa sawit, dengan penekanan pada industri hilir, pasokan global, dan permintaan minyak nabati, tren pasar global, serta proyeksi harga.

Ketua komite IPOC 2019, Mona Surya mengatakan kepada wartawan pada kesempatan yang sama bahwa konferensi yang dijadwalkan akan dibuka oleh Ma’ruf Amin yang akan dilantik sebagai Wakil Presiden Indonesia hanya sepuluh hari sebelum pertemuan, akan membahas beberapa masalah penting dalam industri, termasuk dampak perang dagang AS-Cina, regulasi yang lebih ketat di negara-negara pengimpor, serta aspek geopolitik dan ekonomi yang akan berdampak pada masa depan industri minyak sawit.

Konferensi ini juga akan membahas prospek harga 2020 dan tren global, dengan menyoroti pasokan dan permintaan minyak nabati dunia, dan pameran industri minyak sawit dari para pemangku kepentingan terkait.

Mona mengatakan bahwa sekitar 1.500 delegasi dari 25 negara diharapkan menghadiri konferensi yang akan menghadirkan pembicara internasional terkemuka seperti James Fry dari LMC International, Thomas Mielke dari Oilworld, Dorab Mistry dari Godrej International Ltd, Pietro Paganini dari John Cabot University of Rome, Otto Hospes dari Universitas Wageningen, Erliza Hambali dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Arif P Rachmat dari Kamar Dagang Indonesia.

I Gusti Bagus Ngurah Makertiharth dari Institut Teknologi Bandung (ITB) akan membahas sesi khusus tentang bioenergi, dengan pembaruan pada penelitian terbaru tentang bahan bakar hijau, yaitu bio premium bensin dan bio avtur untuk pesawat, yang dibuat dari CPO menggunakan “Katalis Merah-Putih” yang dikembangkan oleh tim dari universitas.

Share This