The Palm Scribe

Indonesia Siapkan Sertifikasi Keberlanjutan Bagi Industri Hilir Sawit

Tumbuhan kelapa sawit untuk b30

Untuk mendorong pengakuan internasional atas sistem sertifikasi keberlanjutan minyak sawitnya dan meningkatkan daya saing komoditas ekspor ini, Indonesia kini sedang menyiapkan peraturan yang akan memperluas skema sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) hingga mencakup tidak saja sektor hulu tetapi juga sektor hilir industri sawit.

“Aturan teknis sertifikasi ISPO untuk industri hilir sedang kami susun,” demikian Emil Satria, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Kementerian Perindustrian mengatakan kepada The Palm Scribe Rabu (9/6.) ISPO saat ini hanya diberlakukan kepada perusahaan perkebunan sawit serta perkebunan sawit rakyat.

Aturan teknis sertifikasi ISPO bagi industri hilir yang memproses minyak sawit maupun menggunakan minyak sawit dan turunannya sebagai bahan baku, akan berupa Peraturan Menteri Perindustrian.

Sertifikasi ISPO saat ini diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 44 tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia, serta Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Sawit Berkelanjutan Indonesia.

“Kita harapkan tahun ini sudah bisa kita selesaikan,” imbuh Emil dalam sebuah pesan singkatnya.

Dalam diskusi daring Masa Depan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Menuju Pengakuan Internasional, Senin (7/6), sejumlah pakar industri sawit mengakui bahwa ISPO masih belum banyak diakui secara internasional.

Seperti beberapa pembicara lainnya, Emil mengatakan bahwa konsumen produk industri hilir minyak sawit global semakin sadar akan pentingnya aspek keberlanjutan. “Sustainability palm oil product ini akan menjadi determining value untuk memenangkan pasar kita di masa yang akan datang,” ujarnya.

Indonesia merupakan produsen, eksportir sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia. Indonesia dan Malaysia, produsen sawit terbesar kedua di dunia, bersama-sama memasok sekitar 85 persen minyak sawit dunia.

Namun resistensi terhadap komoditi ini semakin meningkat terutama di negara-negara non-produsen di Barat dimana banyak pemerintah maupun sebagian sektor swastanya mendiskriminasi minyak sawit serta produk yang mengandung komoditas tersebut

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.

Tinggalkan Balasan

Share This