The Palm Scribe

Indonesia menangi sengketa perdagangan biodiesel di WTO

JAKARTA — World Trade Organization (WTO) mengabulkan gugatan Indonesia kepada Uni Eropa atas pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) produk biodiesel asal Indonesia. Panel Badan Penyelesaian Sengketa WTO menilai bahwa UE tidak konsisten dengan peraturan Perjanjian Anti Dumping WTO selama proses penyelidikan dumping hingga penetapan BMAD atas impor biodiesel dari Indonesia.

ILUSTRASI. Truk mengangkut tandan buah segar kelapa sawit untuk dioleh menjadi CPO.

Ada tujuh perkara yang digugat Indonesia. Panel memutuskan hanya enam ketentuan perjanjian anti-dumping WTO yang terbukti dilanggar Uni Eropa, yaitu:

1. Uni Eropa tidak menggunakan data yang disampaikan eksportir Indonesia dalam menghitung biaya produksi.

2. Uni Eropa tidak menggunakan data biaya-biaya yang terjadi di Indonesia pada penentuan nilai normal sebagai dasar penghitungan margin dumping.

3. Uni Eropa menentukan batas keuntungan yang terlalu tinggi untuk industri biodiesel di Indonesia.

4. Metode penentuan harga ekspor untuk salah satu eksportir Indonesia tidak sejalan dengan ketentuannya.

5. Uni Eropa menerapkan pajak yang lebih tinggi dari margin dumping.

6. Uni Eropa tidak dapat membuktikan bahwa impor biodiesel asal Indonesia mempunyai efek merugikan terhadap harga biodiesel yang dijual oleh industri domestiknya.

“Ini kemenangan telak Indonesia yang akan membuka lebar akses pasar dan memacu kembali kinerja ekspor biodiesel ke Uni Eropa, setelah sebelumnya sempat mengalami kelesuan akibat pengenaan BMAD,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam siaran pers, Jumat (26/1).

Enggartiasto berharap dengan kemenangan tersebut, akses pasar biodiesel ke Eropa akan semakin lebar dan bisa kembali memulihkan volume dan nilai ekspor, karena ketika BMAD ditetapkan sebesar 8,8 persen hingga 23,3 persen pada 2013 silam, ekspor biodiesel Indonesia ke Eropa melorot tajam.

Biodiesel adalah salah satu produk hilir industri minyak kelapa sawit. Bersama Malaysia, Indonesia merupakan pemain utama minyak sawit di dunia. Tahun lalu, total produksi minyak sawit Indonesia mencapai 41,98 juta ton, terdiri dari 38,17 juta ton minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan 3,05 juta ton minyak inti kelapa sawit atau palm kernel oil (PKO).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa turun sebesar 42,84 persen antara tahun 2013 hingga 2016, dari US$649 juta menuju US$150 juta pada tahun 2016. Nilai ekspor biodiesel Indonesia paling rendah ke Uni Eropa terjadi di tahun 2015, di mana nilai pengiriman biodiesel ke benua biru itu hanya US$68 juta.

“Jika peningkatan tersebut dapat dipertahankan dalam dua tahun ke depan, maka nilai ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2019 diperkirakan akan mencapai 386 juta dollar AS atau Rp 5,2 trliun dan pada tahun 2022 akan mencapai 1,7 miliar dollar AS atau Rp 22,9 triliun,” kata Enggartiasto.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan menuturkan, hasil putusan Panel WTO dapat menjadi acuan bagi semua otoritas penyelidikan anti dumping agar konsisten dengan peraturan WTO, terutama selama proses investigasi. Kasus ini, menurut Oke, perlu menjadi bahan evaluasi agar tidak gampang menuduh Indonesia sebagai pelaku praktik dumping.

“Komitmen kami dalam mengamankan pasar ekspor adalah mengawal ekspor Indonesia agar kembali dapat bersaing di pasar negara tujuan ekspor, seperti Uni Eropa,” ujar Oke kepada Kompas.

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menjelaskan, sebagai konsekuensi kemenangan Indonesia dalam sengketa biodiesel dengan UE tersebut, maka putusan Panel WTO harus diimplementasikan sejalan dengan ketentuan WTO.

“Uni Eropa diwajibkan melakukan penyesuaian BMAD yang telah dikenakan sebelumnya agar sejalan dengan peraturan Perjanjian Anti Dumping WTO,” kata Pradnyawati.

Share This