The Palm Scribe

Hasil Studi Mendukung Penggunaan Lahan Terlantar Untuk Perkebunan Sawit

Sebuah studi yang dilakukan dua lembaga penelitian dari Swiss, memperlihatkan bahwa mengubah lahan bekas penggembalaan ternak menjadi perkebunan kelapa sawit dapat bersifat karbon netral, dengan demikian mendukung penggunaan lahan-lahan terdegradasi dan terlantar sebagai alternatif berkelanjutan bagi produksi komoditas ini.

Studi baru oleh Institut Teknologi Federal Swiss Lausanne (EPFL) dan the Institut Federal Swiss untuk Penelitian Kehutanan, Salju dan Lanskap (WSL), memperlihatkan bahwa jejak karbon dari perkebunan kelapa sawit diatas lahan terlantar, dalam hal ini bekas padang penggembalaan ternak di Kolumbia, tidak berubah bila dibandingkan dengan ketika konversi lahan terjadi, EPLF News mengatakan di laman resminya Kamis (231/11).

“Studi kami adalah yang pertama mengamati jejak karbon produksi kelapa sawit dalam jangka panjang — yakni selama dua siklus penanaman, karena pohon kelapa sawit harus diganti tiap 25-30 tahun,” ujar Juan Carlos Quezada, mahasiswa program doktoral pada Ecological Systems Laboratory (ECOS) EPFL dan penulis utama laporan penelitian ini. “Ini juga yang pertama menyelidiki bagaimana melakukan konversi kebun kelapa sawit mempengaruhi mutu tanah dan kesuburannya dalam jangka panjang, dengan mengamati lapisan-lapisan tanah, tidak hanya permukaan saja.”

Studi yang merupakan bagian dari proyek Oil Palm Adaptive Landscapes (OPAL) yang juga menyertakan mitra dari  Swiss, Indonesia, Kolumbia dan Kamerun, mengamati tanah di kebun kelapa sawit selama bertahun-tahun dalam usaha mengembangkan metode budidaya tanaman ini secara lebih berkelanjutan. Kelapa sawit banyak dituduh menyebabkan deforestasi besar-besaran di negara-negara penghasil minyak kelapa sawit di beberapa dasawarsa terakhir ini. Studi dilakukan di sebuah perkebunan sawit berumur 56 tahun di daerah Los Llanos, Kolumbia, sebuah negara penghasil minyak kelapa sawit ke-empat terbesar di dunia yang dulunya merupakan padang pengembalaan ternak.

Produksi minyak kelapa sawit juga banyak dikritisi para pegiat lingkungan karena jejak karbonnya yang besar serta dampak negatifnya pada keaneka ragaman hayati. Sebuah studi di tahun 2018 yang juga dilakukan oleh EPFL dan WSL menunjukkan bahwa menanam pohon kelapa sawit di lahan yang mengalami deforestasi, tidak dapat menutupi kapasitas penyimpanan karbon yang hilang.

Studi baru ini, yang hasilnya diterbitkan dalam jurnal ilmiah multidisiplin Science Advances pada Rabu (20/11), menghitung jejak karbon tanaman ini sejak bekas padang penggembalaan ternak ini dikonversi menjadi kebun kelapa saiwt dan menemukan bahwa kapasitas penyimpanan karbon perkebuanan ini — dengan juga memperhitungkan vegetasi dan stok tanahnya — tidak berubah dibandingkan ketika lahan tersebut masih digunakan untuk mengembala ternak.

“Masalahnya terletak pada dampak karbonnya yang negatif dan kehilangan keaneka ragaman hayati yang ditimbulkan oleh deforestasi. Tetapi negara-negara produsen minyak kelapa sawit yang utama memiliki bekas padang penggembalaan ternak yang luas yang dapat di konversikan dengan baik, sehingga membatasi kehilangan karbon besar-besaran akibat deforestasi,” Alexander Butler, yang merupakan salah satu penulis studi ini, dikutip dalam tulisan yang diunggah di laman EPFL News ini.

Di daerah tropis, padang penggembalaan — terutama yang sudah terlantar dan terdegradasi — biasanya merupakan padang rumput luas dengan beberapa pohon tersebar diatasnya. Menanam pohon kelapa sawit yang dapat mencapai tinggi 15 meter, dengan densitas tinggi di padang penggembalaan ini dapat meningkatkan laju tangkapan karbon per unit luasan akibat akar, batang dan dedaunan pohon kelapa sawit maupun vegetasi disekelilingya, artikel itu menyatakan.

Ketika akar dan bagian lainnya dari pohon sawit yang tua membusuk, akan menyuburkan tanah dan dapat mengimbangi sebagian dari karbon yang hilang ketika lapisan teratas lahan pengembalaan ini dikonversikan. Dalam jangka panjang, jumlah karbon yang tersimpan dalam ekosistim tak berubah bila dibandingkan dengan tingkat simpanan sebelum lahan terkonversi.

Indonesia dan Malaysia, dua produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia yang bersama-sama menyumbangkan lebih dari 85 persen pasokan minyak kelapa sawit dunia, tidak memiliki banyak bekas padang penggembalaan yang luas namun memiliki banyak lahan terdegradasi yang telah ditebang habis dan dibiarkan terlantar.

“Kita harus ingat bahwa kelapa sawit sendiri tidak berbahaya, baik bagi kesehatan kita bila dimakan dalam jumlah yang tidak banyak, maupun bagi perekonomian. Kita tidak hanya berbicara mengenai perusahaan multinasional — pendapatan dari ratusan petani kecil di Kolumbia dan negara-negara lain bergantung pada ini,” Butler yang juga mengepalai ECOS.

Share This