The Palm Scribe

GAPKI Ingin Semua Anggota Bersertifikat ISPO Pada Tahun 2020


Gabungan Produsen Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menargetkan semua anggotanya untuk sudah tersertifikasi dari Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) pada akhir 2020, ujar GAPKI dalam sebuah laporan yang diunggah di laman resminya.

“Saat ini sudah 67 persen atau 502 perusahaan anggota GAPKI yang telah meraih sertifikasi ISPO. Target akhir 2020 seluruh anggota GAPKI sudah mendapatkan sertifikasi ISPO,” Ketua Umum Gapki Joko Supriyono dikutip dalam laporan di laman resmi GAPKI pada hari Rabu (28/8).

Berbicara pada acara pemberian sertifikat ISPO kepada beberapa perusahaan di Jakarta, Joko mengatakan bahwa ISPO sudah menjadi keharusan bagi seluruh produsen minyak kelapa sawit di Indonesia. Sertifikasi ini juga menjadi semakin penting ditengah usaha usaha menenpis berbagai tuduhan terhadap minyak kelapa sawit dan industrinya.

Para pengkritik, kebanyakan dari negara-negara non-produsen kelapa sawit, menuduh komoditas ini sebagai pemicu deforestasi besar besaran di negera penghasil kelapa sawit dalam beberapa dasawarsa terakhir ini.

“Kalau sudah tersertifikasi ISPO, berarti sudah clear and clean,” ujar Joko, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

Aziz Hidayat, ketua sekretariat ISPO mengatakan bahwa sejauh ini sudah 556 perusahaan, enam kooperasi swadaya dan empat koperasi petani plasma yang sudah menerima sertifikasi ISPO, dengan mencakup luasan perkebunan sebesar 5.2 juta hektar. Statistik resmi menempatkan jumlah luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada kisaran 14 juta hektar, dimana sekitar 40 persen dari luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia dikelola oleh petani kecil.

Aziz mengakui bahwa tantangan dalam meraih target sertifikasi cukup besar, diantaranya masalah legalitas tanah yang merupakan hambatan utama bagi petani kecil swadaya untuk memperoleh sertiifkasi, masalah akses ke pembiayaan, dan juga keenggannan petani kecil untuk  berorganisasi.

Share This