Bagi sinematografer Amerika Patrick Fries, kunjungan singkatnya ke Kalimantan, terutama dengan praduga yang sudah dimilikinya mengenai kelapa sawit, tak mampu banyak merubah pandangannya, namun berhasil menekankan pentingnya untuk segera meningkatkan produktivitas bila ingin mengurangi laju deforestasi oleh perluasan perkebunan komoditi nasional ini.

Patrick Fries

Direktur Arrowhead, perusahaan film dan komunikasi interaktif in, baru-baru ini mengunjungi kabupaten Ketapang dan Sintang di Kalimantan Barat, dua daerah dengan perkebunan sawit yang luas, untuk menyiapkan sebuah film dokumenter mengenai sawit yang dipesan oleh kantor perwakilan Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa  (UNDP) di Bangkok.

Walaupun terlalu singkat untuk dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai industri sawit Indonesia, kunjungannya ke Kalimantan, menurut Fries telah memperlihatkan kepadanya begitu luasnya perkebunan tanaman tunggal sawit disana serta betapa pentingnya tanaman ini dalam memperbaiki kehidupan masyarakat setempat.

“Dilihat dari perspektif saya…sangat disayangkan, sangat menyedihkan untuk melihat bahwa apa yang dahulunya pernah berupa hutan perawan kini telah menjadi perkebunan tanaman tunggal semua. Sulit untuk menghadapi hal ini,” Fries mengatakan kepada The Palm Scribe disela-sela kegiatannya mewawancarai beberapa pemuda pemudi di Universitas Indonesia untuk melengkapi film dokumenternya.

Fries dengan cepat menambahkan bahwa ia juga sempat menyaksikan komunitas yang sangat miskin yang menggantungkan harapannya pada sawit untuk dapat melepaskan diri dari jeratan kemiskinan.

“Kami telah melihat mereka… bagaimana miskinnya orang orang ini dan betapa pentingya komoditi ini. Tak ada keraguan apapun bahwa (komoditi ini) telah membawa perubahan kedalam kehidupah jutaan manusia,” ujarnya.

Baginya, menjamurnya tanaman kelapa sawit ini di Kalimantan Barat mengingatkannya kepada California Gold rush di akhir abad ke 19.

“Kesan pertamaku adalah, Ya Tuhan, ini seperti gold rush bagi mereka, semua orang memiliki lima atau sepuluh benih kelapa sawit di halaman muka rumah mereka dan mereka berharap akan dapat memetik keuntungan darinya,” Fries berkata.

Datang dari Barat dengan “intuisi dan gambaran yang sudah terbentuk” mengenai industri kelapa sawit, Fries mengatakan dia kemudian menyadari perlunya mencari presenter orang Indonesia untuk film dokumenternya, agar dapat memastikan bahwa filmnya juga memperlihatkan perspektif Indonesianya.

Pilihannya kemudian jatuh kepada Nadine Zamira Syarief, warga negara Indonesia yang berprofesi dalam bidang keberlanjutan dan komunikasi yang kini sedang bekerja bagi Rainforest Alliance di Washington.

Zamira mengatakan bahwa disatu pihak, ia mengalami rasa depresi melihat pemandangan skala deforestasi dan konversi lahan yang demikian besarnya, tetapi dilain pihak, pembicaraannya dengan petani dan pekerja perkebunan selama kunjungannya memperlihatkan betapa pentingnya tanaman sawit ini dalam kehidupan mereka.

“Mereka mengatakan bahwa kini mereka memiliki penghasilan tetap. Walaupun minim sementara perusahan perkebunannya menghasilkan ratusan juta dollar, tetapi penghasilan ini merupakan penghasilan yang sebelumnya tidak mereka miliki. Penghasilan ini merupakan sebuah pengaman bagi mereka yang tadinya tidak mereka miliki,” ujar perempuan ini.

“Adalah sangat berbeda untuk membaca mengenai hal ini dan berbicara langsung dengan mereka dan mendengar mereka mengatakan: ya, sekarang saya dapat menyekolahkan anak anak saya, sekarang saya mampu memperoleh pelayanan kesehatan… Jadi pada dasarnya, mereka mengatakan bahwa sawit adalah kehidupan, kepada siapa  mereka menggantungkan asa dan impian mereka. Hidup kami adalah industri ini.”

Fries mengatakan bahwa kunjungannya ke kabupaten Ketapang dan Sintang juga menyadarkannya tentang apa yang juga mungkin akan terjadi di daerah-daerah lainnya yang masih belum terjamah dan berhutan.

“Saya kira, sebagian besar industri ini sudah berjalan dan tidak akan ada titik balik lagi. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh dan luas hal ini akan berkembang,” katanya dengan mengambil contoh Papua, salah satu daerah yang masih banyak tertutup hutan namun dimana deforestasi kini mulai marak terjadi demi kepentingan perkebunan dan kegunaan komersil lainnya.

Fries mengatakan bahwa setelah luput dari perhatian dunia untuk waktu yang lama,industri kelapa sawit kini berada dalam sorotan global.

“Tetapi suatu hal yang saya perhatikan adalah sepertinya kita tidak belajar dari kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi di belahan lainnya planet ini, dari Brasil, ke Eropa dan ke Amerika Serikat, bahwa sekali kita menghancurkan hutan, hutan tersebut tidak akan mungkin kembali lagi,” ujarnya.

Banyak perusahaan, sambungnya, kini menyadari bahwa membuldozer hutan perawan mempunyai akibatnya. Tidak saja bagi perusahaan yang sudah go public, tetapi juga perusahaan lainnya karena mereka kini menyadari bahwa konsumen dapat memilih membeli atau tidak sebuah produk berdasarkan apakah produk tesebut dihasilkan melalui proses yang berkelanjutan.

Namun, mencoba merubah kebiasaan dan praktik bertani yang sudah mendarah daging di kalangan petani kecil, merupakan hal yang berbeda dan sulit, walaupun para petani tersebut menyadari juga bahwa dengan melakukan praktik bertani yang berkelanjutan, hasil produksi mereka akan meningkat.

“Saya kira mereka belum dapat merasakan dampaknya, betapa praktik pertanian yang baik, atau sertifikasi yang baik akan dapat meningkatkan nilai produk mereka,” Zamira berkata. Ia juga bercerita bahwa di banyak daerah yang dikunjunginya, sudah terjadi kelebihan pasokan sawit, dan banyak para petaninya diperdayai oleh pabrik minyak sawit.

Ia mengatakan bahwa sertifikasi juga mempunyai sisi buruknya. Setelah tersertifikasi, para petani kebanyakan akan menghadapi kesulitan untuk menjual produk mereka karena tidak adanya pabrik sawit yang tersertifikasi didaerah mereka atau pabrik sawit yang ada tidak perduli apakah buah sawitnya tersertifikasi atau tidak.

Petani kecil, menurut Fries menghasilkan sekitar 40 persen dari pasokan minyak sawit dunia, tetapi produktifitas kebun mereka masih sangat rendah, jauh dibawah produktivitas kebun perusahaan besar.

“Saya pikir, kalau memang (industri) ini akan tetap ada, ya, saya berharap industri ini dapat menghasilkan sebanyak mungkin. Memastikan bahwa tiap hektar menghasilkan  hasil yang maksimal… jadi pada akhirnya memang kembali kepada besaran hasil,” ujarnya.

Apakah masih ada harapan baik? Fries terdiam cukup lama sebelum menjawab.

“Pelajaran dari cerita ini bagi saya adalah tidak ada bagus atau buruk. Ada bagus dan ada buruk,” jawabnya, dengan menambahkan bahwa dalam perjalanannya, ia juga bertemu dengan orang orang yang sedang berubah pola pikirnya, dan hal ini memberinya harapan bahwa masih dapat terjadi perubahan dalam bagaimana komoditi ini dikelola.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa kelapa sawit ini merupakan bisnis besar, yang penting bagi perekonomian nasional dan bahwa tidak akannada titik baliknya, Dan walaupun ada rencana aksi nasional, kebijakan, program dan berbagai proyek, deforestasi terus saja berjalan dengan cepat.

“Saya tidak akan mengatakan bahwa saya meninggalkan lapangan dengan perasaan ada harapan…. Harapan saya satu satunya adalah bahwa teknologi akan terus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas kebun. Kalau dapat menghasilkan enam ton per hektar daripada hanya lima hektar, disitulah solusinya.”

“Tetapi harus segera. Inilah masalahnya,” tutupnya.

Share This