Ekspor minyak sawit mentah Indonesia dan turunannya, tidak termasuk oleochemical dan biodiesel, sebanyak  14,16 juta ton di enam bulan pertama 2018 atau turun 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun yang lalu, Gabungan Produsen Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengatakan Selasa (21/8).

Ilustrasi

Bila volume ekspor oleochemical dan biodiesel  diikutsertakan, total ekspor minyak sawit dan turunannya tercatat seesar 15,30 juta ton, atau turun 2 persen dibanding periode yang sama di tahun 2017, demikian sebuah rilis pers yang diterbitkan Gapki di laman resminya.

Rilis tersebut juga menyatakan bahwa produksi minyak sawit Indonesia pada semester pertama 2018 mencapai 22,32 juta ton, atau naik 23 persen dibanding di enam bulan pertama tahun yang lalu,  dikarenakan faktor cuaca yang mendukung dan pengaruh El Nino pada tahun sebelumnya sudah mulai hilang.

Selama semester I 2018,  ekspor minyak sawit mentah  Indonesia dan turunannya ke India, salah satu pasar utamanya,  turun 33.16 persen menjadi 2.50 juta ton.

“Tergerusnya pasar India terutama disebabkan tingginya bea masuk yang diterapkan India untuk minyak sawit dengan alasan untuk melindungi industri refinery di dalam negeri,” demikian rilis GAPKI tersebut mengatakan.

GAPKI juga menambahkan bahwa isu deforestasi dan juga kebijakan phase out/penghapusan biofuel berbasis pangan oleh Parlemen Eropa sedikit banyak mempengaruhi pasar minyak sawit Indonesia di Uni Eropa.

Semester pertama tahun ini Uni Eropa membukukan penurunan volume impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia sebesar 12 persen menjadi 2,39 juta ton dalam paruh pertama 2018. Penurunan kinerja impor untuk periode yang sama juga dibukukan negara Afrika sebesar 10 persen, menurut GAPKI.

Kenaikan volume ekspor CPO Indonesia dan produk turunannya pada semester I 2018  dialami di pasar Cina yang menyerap 1,82 juta ton atau naik 23 persen dibanding enam bulan pertama di 2017. Kenaikan tersebut, menurt GAPKI disebaykan adanya penurunan pajak pertambahan nilai untuk minyak nabati dari 11 persen menjadi 10 persen berlaku sejak 1 Mei 2018.

“Selain itu eskalasi perang dagang antara Negeri Tirai Bambu ini dengan Negeri Paman Sam juga ikut mempengaruhi permintaan minyak sawit mentah dan turunannya.,” rilis GAPKI mengatakan dengan menambahkan bahwa untuk pertama kalinya sejak perang dagang berlangsung, China pada bulan Juni mengimpor biodiesel dari Indonesia sebesar 185.860ton.

Amerika Serikat juga membukukan kenaikan impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia sebesar 13 persen menjadi 611.080 ton  di semester pertama tahun ini.

Namun dengan menumpuknya stok kedelai akibat perselisihan dagang dengan Cina, pada giliannya impor minyak nabati oleh Amerika Serikat diperkirakan akan menjadi berkurang.

Kenaikan impor minyak sawit dari Indonesia pada semester pertama 2018 diikuti oleh Bangladesh sebesar 31persen, Paskistan 7 persen, dan negara Timur Tengah 4persen.

Volume ekspor CPO dan produk turunnya pada Juni 2018 tercatat 2,29 juta ton atau naik  7 persen dibandingkan dengan bulan Mei 2018 dengan India secara cukup mengejutkan meningkatkan impornya sebesar 95 persen dari bulan sebelumnya menjadi 467.810 ton. Diperkirakan kenaikan drastis terseubt karena desakan kebutuhan dalam negeri yang harus dipenuhi sementara impor tergerus cukup signifikan pada bulanb Mei karena pemberlakuan kenaikan tarif bea mazuk impor minyak nabati yang tinggi di bulan Maret.

Untuk bulan Juni, peningkatan impor CPO dan produk turunannya dari Indonesia dibandingkan dengan Mei juga dicatatkan oleh China 35persen, Uni Eropa 24 persen, Amerika 9 persen dan Pakistan 2persen

Produksi CPO dan PKO pada Juni 2018 diperkirakan turun 7 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi  3,95 juta ton. Meskipun bulan Juni ekspor mengalami peningkatan, namun belum mampu menurunkan stok. Stok minyak sawit terus menunjukan tren naik dan mencapai angka tertinggi pada Juni ini di 4,85 juta ton.

Share This