The Palm Scribe

Dukungan Pemerintah Penting bagi Tercapainya Minyak Sawit Berkelanjutan: RSPO

petani minyak kelapa sawit
Foto: AFP

Badan sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) menghimbau pemerintah di negara manapun, termasuk di Uni Eropa, untuk mendukung inisiatif-inisiatif sukarela seperti organisasi ini dalam usaha mereka membuat minyak sawit berkelanjutan sebagai norma dan dalam menciptakan rantai pasok komoditas ini yang bebas dari deforestasi.

“RSPO dan komite anggota pasar menekankan bahwa inisiatif-inisiatif sukarela seperti RSPO ini terbatas kemampuannya dan dukungan dari pemerintah-pemerintah mendesak dibutuhkan untuk merubah rantai pasok menjadi bebas dari deforestasi; untuk menjadikan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan sebagai norma,” demikian sebuah siaran pers RSPO yang diperoleh The Palm Scribe Kamis (30/1.)

Organisasi yang sertifikasi minyak kelapa sawit berkelanjutannya paling luas diakui di dunia ini  mengatakan lebih lanjut bahwa melalui aksi aksi regulatoris mereka, semua pemerintah memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi yang sudah ditawarkan oleh RSPO.

Menurut siaran pers tersebut, RSPO pada hari Rabu (29/4) menerbitkan kertas posisi sebagai jawaban atas komunikasi yang dikeluarkan Komisi Uni Eropa yang berisi berbagai langkah dan inisiatif mereka yang ditujukan untuk mengurangi dampak iklim pada berbagai komoditas, termasuk kelapa sawit, bagi konsumen di Eropa.

Komunikasi yang berjudul “Meningkatkan Aksi UE untuk Melindungi dan Memperbaiki Hutan-hutan Dunia,” juga ditujukan untuk membantu pencapaian Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa serta juga Persetujuan Iklim COP21 Paris organisasi dunia tersebut.

“Para pemerintahan memainkan peran yang kritis dalam mendidik public, membingkai kembali narasi minyak kelapa sawit serta pemenuhan komitmen sukarela dari industri,” demikian RSPO.

Negara-negara produsen minyak kelapa sawit utama seperti Indonesia dan Malaysia telah menuduh Uni Eropa mendiskriminasikan minyak kelapa sawit, termasuk dengan rencana mereka untuk menghapuskan secara bertahap biofuel yang berbasis minyak kelapa sawit dari program energi terbarukan mereka bagi transportasi pada tahun 2030.

Baca juga: Iki Rekomendasikan Penundaan B40

Banyak pihak swasta di Uni Eropa juga menuduh kelapa sawit sebagai biang deforestasi besar-besaran yang terjadi dalam beberapa dasawarsa ini dan tidak lagi menjual produk-produk berisi minyak kelapa sawit sebagai bagian dari usaha mereka menghentikan deforestasi.

“Untuk meminimalisir resiko deforestasi global lebih lanjut, RSPO percaya bahwa kolaborasi antar industri komoditas pertanian, mata rantai pasok, dan dengan pemerintahan dan LSM, adalah mendasar untuk menghentikan deforestasi dan melindungi hutan habitat binatang liar serta kawasan keanekaragaman hayati,” organisasi tersebut menambahkan.

Kepala Operasi RSPO untuk Eropa, Inke van der Sluijs menambahkan bahwa “dengan mengadvokasi minyak kelapa sawit berkelanjutan, para pemerintahan akan mendorong rantai pasok yang bebas dari deforestasi dan menentukan masa depan hutan-hutan kita.”

Van der Sluijs juga mengatakan bahwa RSPO tetap akan bekerja sama erat dengan anggota-anggotanya dalam mengembangkan sarana dan mendorong inovasi untuk membantu melindungi hutan-hutan dunia serta komunitas setempatnya.

Pada saat yang sama, RSPO juga mengakui bahwa lanskap yang berkelanjutan tidak akan dapat dicapai tanpa ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, dan karenanya terus bekerja untuk mendukung agar lebih banyak petani kecil tersertifikasi hingga dapat meningkatkan produktivitas mereka, pendapatan para petani miskin serta mengurangi resiko konversi lahan yang mengancam hutan dan keanekaragaman hayati.

“Untuk mendorong perubahan yang sangat mendesak ini, RSPO, sektor bisnis dan pemerintahan, harus bekerja sama secara proaktif untuk menjawab tantangan-tantangan yang muncul karena terus berkembangnya lanskap,” demikian RSPO mengatakan.

Baca lebih banyak tulisan mengenai RSPO.
Indusrti perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This