Darrel Webber adalah CEO dari Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) dan salah satu figur senior yang sudah lama berkecimpung dalam industri kelapa sawit. Pengalaman luasnya, termasuk sebagai manajer penjualan Pepsi dan Manajer Proyek World Wildlife Fund (WWF) menjadikannya ahli komoditi yang dikenalnya secara mendalam.

Darrel Webber

Sebagai CEO dari RSPO, Webber melihat perkembangan industri kelapa sawit di Indonesia berdampak signifikan terhadap pasar global tetapi sekaligus juga menghadapi banyak tantangan.

“Indonesia adalah pasar yang sangat penting. Sebagai produsen minyak sawit terbesar yang memasok 54 persen produksi kelapa sawit bersertifikat RSPO secara global,  minyak dan lemak, yang permintaannya terus menanjak,“ Webber mengatakan kepada The Palm Scribe  dalam sebuah wawancara tertulis.

Industri kelapa sawit, menurutnya, telah berhasil mendorong perekonomian Indonesia namun keberhasilan ini juga meningkatkan perhatian dunia kepada dampak-dampak sosial dan lingkungan yang mungkin diakibatkannya.

“Kami menyadari tantangan di kawasan ini. Tetapi juga terdapat banyak kesempatan untuk para pemain industri maupun konsumen di Indonesia untuk meningkatkan permintaan atas CSPO (minyak sawit tersertifikasi) dan untuk mencapai visi RSPO untuk menjadikan kelapa sawit berkelanjutan sebuah norma,” serunya.

Salah satu permasalahan yang ada di Indonesia masih banyaknya petani kecil sawit yang belum terverifikasi sistem produksinya sehingga rawan berpotensi mencuatkan isu kerusakan lingkungan.

Webber mengatakan bahwa walaupun petani kecil, terutama petani swadaya, memasok 40 persen dari minyak sawit dunia, tingkat produktivitas kebun mereka masih rendah. Mereka juga biasanya kesulitan mendapatkan akses kepada keahlian, pembiayaan, pasar, dan berbagai infrastruktur yang diperlukan bagi praktik tanam yang berkelanjutan.

RSPO menurutnya, selama beberapa tahun terakhir ini, telah bekerja keras untuk merangkul para petani kecil melalui program peningkatan kesadaran akan pentingnya praktik tanam berkelanjutan, pelatihan dan pendidikan, penyediaan pembiayaan  serta berbagai pendekatan seperti RSPO Smallholder Support Fund, Guidance for Group Certification of FFB Production, dan Smallholder Academy.

“Usaha-usaha ini sudah dapat memberikan nilai tambah bagi petani kecil tetapi RSPO menyadari bahwa usaha-usaha ini masih belum bisa menyebabkan inklusi secara besar besaran dari petani kecil seperti yang diharapkan RSPO dan pemangku kepentingannya,” diakuinya.

“Kami percaya bahwa jumlah petani kecil yang akan masuk kedalam sistim RSPO akan meningkat sebagai akibat langsung dari kerja kami untuk menyederhanakan pendekatan sertifikasi kami maupun solusi kami seperti pendekatan yuridis,” imbuhnya.

Indonesia pada dasarnya juga mempunyai sertifikasi produksi kelapa sawit berkelanjutannya sendiri, yaitu Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Sertifikasi ini kini sedang gencar dipromosikan oleh banyak pihak agar seluruh pelaku usaha kelapa sawit dalam negeri memprioritaskan untuk memiliki sertifikasi ISPO terlebih dahulu dibandingkan dengan yang lain.

Webber melihat hal tersebut bukan sebagai sebuah persaingan, melainkan bentuk dukungan untuk mewujudkan perkembangan industri kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.

“Kami mendukung semua inisiatif yang bertujuan menyumbang kepada adopsi praktik berkelanjutan, asalkan semuanya mengarah kepada tujuan yang sama dan berkontribusi kepada transformasi pasar,” Webber mengatakan, dengan menambahkan bahwa “Pada akhirnya, adalah peran dari pasar itu sendiri untuk menetapkan standar mana yang ingin digunakannya.”

Pria lulusan jurusan teknik, Universitas Aberdeen di Skotlandia ini juga mengatakan standar seperti ISPO di Indonesia dan Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) di Malaysia, dapat membantu meningkatkan standar sehingga pada gilirannya juga memudahkan perusahaan untuk kemudian memenuhi standar RSPO.

Webber juga menyoroti permasalahan industri kelapa sawit beberapa waktu lalu yang gencar menjadi sasaran kampanye hitam dari Eropa. Menurutnya hal tersebut bukan sebuah masalah, melainkan sebuah kesempatan untuk kembali mempromosikan pembangunan berkelanjutan dalam industri kelapa sawit.

Ia mengatakan bahwa resolusi Parlemen Eropa yang menginginkan penghapusan minyak sawit dari program energi terbarukan Eropa  dan telah dikritisi oleh produsen seperti Indonesia dan Malaysia yang menyumbang  lebih dari 90% total produksi sawit berkelanjutan, sebenarnya merupakan pengakuan terhadap keberlanjutan seperti yang diperjuangkan dari industri kelapa sawit sendiri.

“Resolusi ini mendukung usaha mereka (Indonesia dan Malaysia) dan perjalanan mereka kearah keberlanjutan. Membuat minyak sawit menjadi berkelanjutan merupakan tantangan global yang memerlukan usaha bersama dari semua pihak dalam mata rantai pasokan, mulai dari produksi hingga konsumsi, serta dari semua negara yang berkepentingan,” ujar Webber.

Share This