The Palm Scribe

CPOPC Perkirakan Harga Rata-rata Minyak Sawit akan Membaik di Tahun 2021

Dewan Negara Produsen Minyak Sawit (CPOPC) memperkirakan bahwa di tahun 2021, harga rata-rata minyak sawit akan membaik dibandingkan dengan di dua tahun terakhir ini. 

“Secara keseluruhan, outlook minyak kelapa sawit untuk tahun 2021 tampak lebih membaik dibandingkan dengan harga rata rata di tahun 2019 dan 2020,” demikian sebuah laporan CPOPC berjudul World Palm Oil Outlook 2021 yang diunggah pada laman resmi organisasi tersebut minggu ini.

Namun, dewan tersebut juga mengingatkan bahwa perkiraan baik ini juga akan bergantung kepada perkembangan fenomena cuaca La Nina serta keharusan penggunaan campuran biofuel-minyak diesel B30 di yang diwajibkan di Indonesia.

La Nina yang sekarang sedang berkembang di Samudra Pasifik akan mengakibatkan disrupsi terhadap pusat-pusat produksi kedelai di Amerika Selatan, demikian laporan CPOPC tersebut mengatakan dengan menambahkan bahwa bila iklim kering yang diakibatkan La Nina in berkepanjangan, hal ini akan berdampak serius terhadap produksi kedelai di Brazil dan Argentina.

Sementara itu, kekeringan yang melanda daerah Laut Hitam juga membatasi produksi bunga matahari dan rapa. Minyak kedelai, bunga matahari serta rapa, merupakan minyak nabati pesaing minyak kelapa sawit.

Kekeringan di Amerika Selatan dan daerah Laut Hitam tersebut akan berakibat berkurangnya pasokan minyak nabati dan dengan demikian akan mendorong harga minyak nabati naik pada paruh pertama 2021.

“Cadangan minyak goreng di Cina dan India juga ketat hingga akan menjaga impor sehat dari minyak goreng,” laporan tersebut mengatakan. Laporan juga menambahkan bahwa lonjakan harga di triwulan terakhir 2020 mencerminkan cepatnya pemulihan permintaan dari India dan Cina, dua negara konsumen utama komoditas ini, setelah mereka melalui masa-masa lockdown    dan berhentinya kegiatan ekonomi mereka beberapa saat dikarenakan pandemic.

Laporan CPOPC itu juga menunjuk kepada meningkatnya harga berbagai jenis minyak goreng sebagai hal yang positif sebab dapat mendorong konsumen untuk beralih ke minyak sawit sebagai alternatif yang lebih murah.

Indonesia kini sedang mengharuskan penggunaan campuran 30 persen biofuel, terutama dari minyak sawit, dalam minyak diesel sedangkan di Malaysia, rasio campuran tersebut berada pada skala 20:80. Kebijakan di dua negara tersebut telah membantu meningkatkan permintaan domestic akan minyak sawit.

“Pelaksanaan sepenuhnya dari mandatory B30 di Indonesia dan mandatory B20 di Malaysia krusial bagi usaha menjaga konsumsi domestic dan untuk menyerap pertumbuhan pasokan minyak sawit yang diantisipasi. Situasi defisit dalam minyak nabati global akan mendukung harga CPO di tahun 2021,” kata laporan itu;

Laporan juga mengatakan bahwa banyak analis setuju bahwa pasokan minyak sawit akan membaik di paruh kedua tahun 2021 dikarenakan akibat curah hujan yang lebih tinggi yang akan berdampak baik pada produktivitas tandan buah segar.

Beberapa pihak lainnya memperkirakan bahwa cuaca yang bersahabat di Indonesia dan Malaysia akan meningkatkan pasokan minyak sawit global sebesar 3,1 juta ton di tahun 2021.

Bustanul Arifin, profesor dalam ekonomi pertanian di Universitas Lampung, mengatakan dalam sebuah konferensi kelapa sawit Indonesia yang diadakan secara virtual Rabu (2/12) bahwa produksi minyak sawit dunia di tahun 2021 diperkirakan akan meningkat sebesar 3,44 juta ton, atau delapan persen, hingga mencapai 46,44 juta ton.

Bustanul juga mengatakan bahwa perkiraan untuk tahun 2021 juga memperlihatkan bahwa karena adanya lonjakan konsumsi minyak sawit untuk sektor energi dalam hal ini untuk campuran biodiesel, stok minyak sawit pada akhir tahun itu akan berkurang dari 3,6 juta on di tahun 2020 menjadi antara 2,99 dan 3,04 juta ton di akhir 2021.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This