The Palm Scribe

CPOPC Komit Bantu Kepentingan Sawit di Semua Negara produsen

Dewan Negara Produsen Minyak Kelapa Sawit (CPOPC) mengatakan bahwa organisasi ini tidak hanya mewakili anggotanya saja tetapi juga kepentingan seluruh negara produsen kelapa sawit, demikian seorang pejabatnya menekankan.

“Pendirian CPOPC bukan hanya untuk mewakili kedua negara melainkan kepentingan seluruh negara-negara penghasil kelapa sawit, termasuk di Afrika,”  demikian dikatakan Deputi Direktur Eksekutif CPOPC Dupito D. Simamora ketika membuka  putaran ketiga Smallholder Outreach Program (SOP) yang diikuti perwakilan petani kecil kelapa sawit di Afrika Rabu (16/9). 

Dupito yang berbicara dihadapan sekitar 35 perwakilan lembaga dan organisasi petani kecil kelapa sawit di Ghana, Nigeria, Madagaskar, Pantai Gading, Malawi, dan Tanzania, serta juga dari Indonesia dan Malaysia, mengatakan bahwa SOP ini bertujuan sebagai wadah para petani kecil kelapa sawit di kawasan Asia Pasifik, Amerika Latin dan Amerika Tengah, dan Afrika untuk membentuk jaringan komunikasi global dalam mendukung industri kelapa sawit dan kepentingan para petani kecilnya.

“Kami akan membantu dukungan kapasitas dan kesejahteraan para petani kecil di seluruh dunia termasuk wadah untuk saling berbagi, praktik baik, kapasitas, harga yang lebih baik dan mekanisme penentuan harga dan pada saat yang sama menangkal kampanye negatif terhadap kelapa sawit,” ujar Dupito seperti dikutip dalam sebuah pernyataan tertulis Sekretariat CPOPC yang dikirimkan kepada The Palm Scribe.

Sejumlah perwakilan peserta menyampaikan tantangan pengembangan sektor kelapa sawit di Afrika dan juga harapan serta apresiasi mereka.

“Kami berharap Dewan akan memberikan dukungan pengembangan untuk para petani kecil karena kami mengendalikan 60 persen produksi (minyak sawit),” ujar Kwame Amo yang mewakili Oil Palm Development Association of Ghana (OPDAGH). Sementara itu, Konsul Kehormatan Indonesia di Malawi, Tariq Kidy, yang mewakili negara tersebut, meminta bantuan dalam pengembangan industri kelapa sawit yang memiliki potensi besar di Malawi.

Perwakilan Côte d’Ivoire Interprofessionnel Association of the Palm Oil Industry (AIPH), Abdoulaye Berte berharap inisiatif ini akan membuka peluang meraih pengalaman dalam memperbaiki harga sawit. “Kami berharap melalui inisiatif ini, para partisipan akan berbagi pengalaman dalam produktivitas hasil,” kata Abdoulaye.

Direktur Eksekutif CPOPC Yusof Basiron bahwa minyak kelapa sawit tetap memiliki potensi besar, tidak saja dalam memperbaiki kualitas kesejahteraan bukan hanya untuk negara dan rakyat penghasil kelapa sawit tetapi juga konsumennya.

 “Dunia akan membutuhkan lebih banyak minyak sawit di masa depan. Inilah satu-satunya minyak nabati yang mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan dunia,” ujar Yusof dalam sambutan penutupan pertemuan daring ini.

Putaran pertama SOP digelar bulan lalu dengan dihadiri oleh 42 perwakilan petani kelapa sawit di Asia Pasifik seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, India dan Papua Nugini. Putaran kedua merupakan sesi untuk kawasan Amerika Tengah dan Amerika Latin dengan partisipan yang hadir dari Kolombia, Ekuador, Honduras, Guatemala, dan Meksiko. Kegiatan ini dilaksanakan pada 8 September lalu.

CPOPC pada saat ini beranggotakan Indonesia dan Malaysia, kedua negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia yang memasok sekitar 85 persen dari kebutuhan dunia, serta Kolombia.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Ikuti kami di media sosial kami untuk terus mendapatkan kabar mengenai kelapa sawit, Anda dapat menemukan tautannya di sisi kiri halaman ini.

Tinggalkan Balasan

Share This