The Palm Scribe

CPOC Optimis Harga CPO akan Membaik Tahun ini

harga CPO
Foto: AFP

Dewan Negara Produsen Minyak Kelapa Sawit (CPOPC) optimis bahwa harga minyak kelapa sawit (CPO) akan membaik di paruh kedua tahun 2020 ini karena pandemic COVID-19 mendorong konsumsi sementara produksi global menurun.

“Permintaan untuk minyak kelapa sawit akan membaik karena lockdown di seluruh dunia mulai mengendur dan konsumen-konsumen utama, termasuk Cina dan India, kini sudah kembali menaikkan pembelian mereka untuk membangun stok,” CPOPC mengatakan dalam sebuah laporannya berjudul “Palm Oil Supply and Demand Half Review 2020.”

Laporan tersebut, yang diterima The Palm Scribe (22/7) menambahkan bahwa permintaan juga akan didorong oleh program biodiesel yang dilaksanakan negara negara produsen minyak kelapa sawit utama, termasuk Indonesia yang merupakan produsen terbesar minyak tersebut.

Laporan juga mengatakan bahwa program B30 di Indonesia merupakan kunci bagi arah harga minyak kelapa sawit dunia karena ia akan mendorong naik harga Minyak Mentah Kelapa Sawit (CPO) dan juga volume pasokan ke pasar domestic. 

Kemungkinan pelaksanaan program B40 di Indonesia di tahun 2021 semakin menguatkan sentimen positif bagi harga minyak kelapa sawit di tahun 2020 ini. Perbedaan harga antara CPO dan minyak nabati lainnya juga merupakan faktor yang menguntungkan bagi minyak kelapa sawit.

CPOPC mengatakan bahwa produksi minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, dua negara produsen terbesar komoditas ini yang memasok 85 persen pasokan global, diperkirakan akan melemah tahun ini dikarenakan musim kering yang lama dan pemupukan yang berkurang banyak di tahun lalu serta keterbatasan tenaga kerja di Malaysia.

Kemungkinan terjadinya La Nina di paruh kedua tahun ini juga semakin menafikkan prospek terjadinya kenaikan produksi, imbuhnya.

Produksi CPO nasional Malaysia tahun ini diperkirakan berada sekitar 19,3 sampai 19,5 juta ton dibandingkan dengan 20 juta ton yang dihasilkannya tahun lalu.  Demikian sebuah laporan CPOPC lainnya, yaitu “Palm Oil Supply and Demand Outlook, Report 2020,” memperlihatkan.

Menurut laporan yang sama, produksi Indonesia diperkirakan akan tetap pada tingkat tahun lalu sebesar 43 juta ton atau meningkat hanya satu juta ton saja menjadi 44 juta ton.

“Terbukanya pasaran utama secara bertahap pasca COVID-19 yang terjadi semenjak bulan Juni 2020, diharapkan akan membuat perkiraan harga menjadi bullish,” CPOPC mengatakan merujuk terutama kepada pasar di Cina dan India.

Di Cina, minyak kelapa sawit memiliki peluang baik karena kegiatan crushing kedelai dan impor biji rapa maupun minyaknya diperkirakan akan turun. Stok minyak kelapa sawit mereka juga dilaporkan berkurang dan karenanya pintu terbuka lebar bagi lebih banyak impor.

Permintaan akan minyak kelapa sawit di Uni Eropa juga diperkirakan akan membaik dikarenakan adanya penurunan produksi minyak rapa menyusul cuaca yang tidak bersahabat, serta kegiatan crushing biji rapa yang menurun.

“Juga patut di garis bawahi adanya kenaikan permintaan akan oleochemical baik untuk konsumsi lokal maupun untuk ekspor,” menyusul terjadinya pandemic COVID-19, imbuhnya.

Industri membutuhkan lebih banyak minyak kelapa sawit untuk memproduksi hand-sanitizers dan sabun di masa Pandemi COVID-19 ini. Permintaan ini diperkirakan kemungkinan akan terus tinggi hingga akhir tahun karena  protocol kesehatan  sehubungan dengan COVID-19 terus diterapkan di seantero dunia.

“Ada kemungkinan pasar bangkit kembali karena kebijakan moneter banyak bank sentral yang sangat longgar, serta paket-paket stimulus berbagai pemerintahan,” CPOPC mengatakan.

“Dengan kata lain, jika pasokan CPO terbatas karena berkurangnya penggunaan pupuk dan cuaca ekstrem, maka penerapan biodiesel akan semakin membatasi pasokan minyak kelapa sawit yang berasal baik dari Indonesia maupun Malaysia dan karenanya, gambaran minyak kelapa sawit di tahun 2020 akan positif.”

Baca lebih banyak berita oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This