The Palm Scribe

Cina, Tumpuan Harapan Pemulihan Minyak Sawit Paska-Corona

corona di kelapa sawit

Kekhawatiran mendera Indonesia bahwa pandemi Virus Corona, yang juga dikenal sebagai COVID-19, akan menekan harga minyak kelapa sawit sebagai komoditas ekspor utama negara ini tetapi membaiknya kembali perekonomian Cina memberikan secercah harapan akan dapat mendukung pemulihan harga minyak nabati ini.

“Pasti ada dampaknya, karena banyak negara menutup akses (lockdown) sehingga ekspor minyak sawit akan terpengaruh dan harga minyak sawit saat ini sedikit rendah,” Rukaiyah Rafik, Penasihat Senior Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) mengatakan kepada The Scribe melalui email.

Tetapi Rukaiyah dengan cepat menambahkan bahwa dengan melihat situasi yang sudah mulai membaik di Cina dalam beberapa hari terakhir ini, harga minyak sawit mungkin juga akan pulih, karena setelah menghentikan impor minyak kelapa sawit untuk beberapa lama, kebutuhan besar Cina akan komoditas tersebut pasti akan kembali. Cina merupakan salah satu pasar utama bagi ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) Indonesia.

COVID-19 yang awal bulan ini dinyatakan telah menjadi pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mulai mewabah di Cina tiga bulan lalu dan sejak itu telah menyebar ke seluruh dunia, menyebabkan infeksi besar-besaran yang terjadi di negara-negara seperti Iran, Italia, Jepang, dan Korea Selatan.

Baca juga: Virus Corona dan BBM Murah

Cina juga kemungkinan dapat menjadi penyelamat CPO menurut Indeks Komoditas Indonesia (IKI), perusahaan penerbitan indeks, dalam Laporan Minyak Sawit IKI terbarunya yang dirilis bulan ini. Dalam laporan tersebut, IKI mengatakan bahwa meskipun tidak dapat memprediksi kapan virus corona akan surut dan kapan harga CPO akan berhenti melemah, perusahaan ini tetap optimis bahwa harga CPO akan menanjak lagi.

“IKI melihat bahwa meskipun harga CPO terus semakin rendah, masih ada peluang untuk naik lagi, meskipun lambat. Ini karena permintaan yang cukup besar dari India, dan Cina yang masih membutuhkan CPO untuk kebutuhan domestiknya, ”kata laporan itu.

Rukaiyah mengatakan bahwa setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, sebagian besar infeksi di Indonesia masih terbatas terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sejauh ini, tidak ada kasus yang dilaporkan di daerah pedesaan. Dia mengatakan FORTASBI hanya menginstruksikan anggotanya untuk tidak bepergian ke kota-kota dengan kasus infeksi.

“Kami hanya mengikuti instruksi dari pemerintah, dan kami juga memberi tahu petani kelapa sawit dan tenaga kerja untuk tidak pergi ke kota-kota yang memiliki kasus corona darurat. Beberapa pelatihan dan pertemuan juga telah ditunda untuk mencegah anggota kami bepergian ke luar kota, ”katanya. “Tapi mereka tetap bekerja seperti biasa, bertani dan memanen minyak kelapa seperti biasa,” tambahnya.

Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh The Scribe, Rukaiyah mengatakan bahwa karena belum ada kasus infeksi di kalangan petani, buruh tani dan penduduk desa sejauh ini, FORTASBI belum membuka komunikasi dengan pemerintah mengenai masalah ini dan juga tidak memiliki rencana untuk melakukan itu dalam waktu dekat ini.

Adapun Jumat (20/3) kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di Indonesia telah mencapai 309, dengan 25 orang yang tewas, demikian Achmad Yurianto, juru bicara tim mitigasi Covid-19 pemerintah, dikutip oleh berbagai media.

Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.

Tinggalkan Balasan

Share This