The Palm Scribe

Asian Agri akan meresmikan PLTBg ketujuh di Jambi

JAKARTA — Asian Agri terus menunjukkan komitmennya sebagai perusahaan yang berkontribusi pada ketersediaan energi nasional. Komitmen ini terlihat dari rencana Asian Agri meresmikan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) ketujuh.

ILUSTRASI. Listrik dari sumber energi terbarukan.

ILUSTRASI. Listrik dari sumber energi terbarukan.

“Pembangkit listrik ini akan kami resmikan pada awal Desember 2017 di Jambi, pada awal Desember 2017. Kami masih menunggu kepastian tanggal dari Kementerian ESDM sebagai lembaga yang meresmikan,” kata I. Ari Djoko Purnomo (Ipung), Kepala Komunikasi Perusahaan PT RGE Indonesia (perusahaan induk grup Asian Agri) kepada The Palm Scribe, Senin (6/11/2017)

Proyek biogas merupakan upaya Asian Agri memperlihatkan kontribusi nyata sektor kelapa sawit bagi ketersediaan energi nasional, dengan memanfaatkan hasil limbah produksi sawit yang menghasilkan gas metana.

Asian Agri membangun PLTBg pertama pada 2015 dan menargetkan akan membangun 20 unit PLTBg hingga tahun 2020. Sebelum ini, Asian Agri sudah membangun enam PTLBg di beberapa daerah lain di Provinsi Sumatra Utara, Riau, dan Jambi.

Ipung menjelaskan bahwa setiap PLTBg mampu menghasilkan listrik bertenaga gas metana sebesar 2megawatt. Dari kapasitas ini, 40 persen digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasi, dan 60 persen sisanya dapat dimanfaatkan untuk masyarakat sekitar.

“Kapasitas 60 persen itu bisa menjangkau 1.000-1.200 rumah tangga dengan daya listrik sebesar 900 watt/rumah tangga,” ujar Ipung.

Pada 2020, Asian Agri menargetkan akan ada sekitar 28.000 rumah tangga yang akan menikmati pasokan listrik dari PLTBg.

“Pekerjaan rumah kami adalah mencari cara menyalurkan listrik ke konsumen, karena lokasi PLTBg umumnya jauh dari permukiman,” kata Ipung.

Upaya Asian Agri membangun PLTBg mendapat apresiasi pemerintah. Pada 18 September 2017, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan Penghargaan Anugerah Energi Lestari 2017 kepada Asian Agri sebagai perusahaan yang terbanyak membangun PLTBg.

Pembangunan PLTBg merupakan salah satu bentuk pemanfaatan potensi limbah pertanian yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia yang dapat menjadi solusi bagi daerah-daerah yang sampai saat ini masih belum mendapat akses listrik dari PT PLN (Persero)

PLTBg berbasis limbah cair sawit memiliki beberapa kelebihan, antara lain dapat beroperasi 24 jam; stabil, dapat diandalkan dan tidak dipengaruhi faktor cuaca; ramah lingkungan; limbah padat dari pabrik kelapa sawit dapat dijadikan pupuk; listrik yang dihasilkan dari biogas ini relatif murah dibandingkan dengan teknologi listrik berbasis BBM (genset diesel atau PLTD).

Provinsi Jambi, Sumatera Utara, dan utamanya Riau, merupakan daerah yang dikenal sebagai penghasil energi di Indonesia, meliputi energi dari minyak bumi, gas bumi, dan kelapa sawit.

Menurut data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2013 luas lahan perkebunan kelapa sawit di Riau saja mencapai 2,2 juta ha dan berpotensi menghasilkan 6,5 juta ton minyak sawit per tahun dengan limbah cair 16,25 juta m3 limbah cair. Jika dimaksimalkan pengolahannya, limbah cair sawit tersebut berpotensi menghasilkan 90 MW listrik, mampu mengurangi emisi sebesar 568 ribu ton CO2 per tahun.

“Pemanfaatan limbah cair kelapa sawit menjadi energi adalah bentuk optimalisasi waste to energy yang merupakan salah satu langkah kontribusi Indonesia dalam menurunkan Emisi GRK dunia sebesar 29 persen pada tahun 2030,” menurut Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) dalam pernyataan resmi, Sabtu (23/1/2016), seperti dikutip situs Suara.

Sepanjang tahun 2013 – 2014 Ditjen EBTKE telah membangun 3 pilot project PLTBg POME, yaitu PLTBg Pagar Merbau dan Kwala Sawit di Sumatera Utara yang on grid ke jaringan PLN, serta PLTBg POME Rokan Hulu yang beroperasi secara off grid dan telah mengalirkan listrik hingga lebih dari 2.000 rumah tangga. Ketiganya masih beroperasi hingga saat ini.

Pembangunan pilot project tersebut diharapkan dapat menginspirasi pihak-pihak lain, terutama swasta untuk berinvestasi dalam pengembangan waste to energy.

Share This