The Palm Scribe

Aksi Bersama, Kata Kunci Dalam Memastikan Industri Sawit yang Bebas Deforestasi: Pakar

 

permasalahan deforestasi

Walaupun laju kehilangan hutan di Indonesia telah melambat dalam tiga tahun terakhir ini, deforestasi masih merupakan permasalahan global dan sejumlah pakar mengatakan hanya aksi kolektif semua pemangku kepentingan yang akan dapat mengerem atau bahkan menghentikan laju deforestasi yang menurut data terakhir lebih banyak melibatkan petani kecil.

Justin Adams, Direktur Eksekutif Tropical Forest Alliance mengatakan bahwa telah terjadi kemajuan luar biasa dalam memperlambat laju deforestasi global dengan menunjukkan contoh Indonesia yang telah mampu memperlambat laju deforestasinya dalam tiga tahun belakangan ini hingga menjadi sekitar 300.000 hektar di tahun 2019.

 “Laju deforestasi di Indonesia menurun menjadi sekitar setengah dari rata-rata tahunan jangka panjangnya, dan dari puncaknya yang sebesar 900.000 hektar per tahun sekitar tujuh tahun yang lalu. Dalam data Forest Watch terakhir yang diterbitkan kemarin secara global, untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun terakhir, deforestasi di Indonesia menurun lagi,” Justin mengatakan dalam sebuah seminar daring yang diadakan Earthworm Foundation untuk membahas seberapa jauh kemajuan pebisnis global dalam memenuhi target minyak kelapa sawit yang bebas deforestasi dalam tahun 2020.

“Ini bukan berarti bahwa permasalahan sudah terpecahkan,” imbuh Justin dengan cepat, dengan menambahkan lebih lanjut bahwa di tahun 2020 permasalahan deforestasi in masih sangat nyata. Menurutnya, di tahun 2019, kehilangan hutan secara global mencapai 3,8 juta hektar.

Ia memperingatkan bahwa dunia juga sedang menghadapi krisis COVID-19 dan akan lebih banyak lagi orang, terutama orang miskin, di Afrika, sebagian Asia tenggara dan Amerika Latin akan terdesak kedalam situasi yang tidak menguntungkan. Bila orang miskin tidak memiliki pilihan lainnya, maka seringkali hutan yang akan dibabat, ujarnya.

Adam mengatakan bahwa deforestasi kini semakin banyak melibatkan pembukaan area yang kecil, dan bukan melibatkan perkebunan-perkebunan besar. Petani kecil menurutnya semakin banyak membuka lahan untuk keperluan pangan atau sumber pendapatan apapun.

“Jadi, inilah isu yang akan kita hadapi khususnya, dan juga secara mengkhawatirkan, dalam dunia pasca COVID ini, dimana pemerintahan mencari jalan untuk merestarter ekonomi mereka, mencari jalan bagaimana menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi. Saya kira tekanannya akan semakin tinggi dan tantangan yang kita hadapi ini perlu diakui dengan meresponsnya dengan pendekatan kolektif, dan bukan pendekatan individual,” ujar Justin.

Sementara dekade terakhir ini lebih banyak melihat aksi individual dari perusahaan maupun organisasi, era 2020an ini seharusnya menjadi dasawarsa aksi kolektif dan tanpa aksi kolektif ini, maka dunia akan gagal memenuhi target-target kunci deforestasi maupun tujuan tujuan pembangunan berkelanjutannya.

Ia mengatakan bahwa memasuki decade 2020an, dunia harus merangkul lebih banyak lagi aksi kolektif seraya menambahkan bahwa hal ini akan membutuhkan kolaborasi yang lebih besar antara pihak swasta, pemerintahan dan masyarakat madani.

“Hal ini akan membutuhkan pendekatan yang baru terhadap petani kecil karena tidak ada perusahaan swasta satupun … yang dapat memecahkan permasalahan petani kecil , karena permasalahan ini merupakan tantangan pembangunan genting yang sudah kita hadapi selama beberapa dasawarsa dan tetap tidak  kita temukan solusinya. Jadi, hal ini akan membutuhkan pendekatan inovatif yang baru sekitar masalah keuangan,” ujar Justin.

Ia mengatakan bahwa walaupun aksi kolektif tidak akan mudah dirangkul semua pihak, aksi kolektif ini mutlak perlu bila dunia tidak ingin terperosok di dasawarsa-dasawarsa berikutnya.

“Kita harus lebih maju lagi dan hal ini hanya dapat dilakukan dengan bekerja bersama-sama,” ujarnya.

Sementara itu, Phil Aikman, Direktur Kampanye pada organisasi kampanye lingkungan Mighty Earth yang fokus pada konservasi hutan di Asia Tenggara dengan penekanan pada sektor kelapa sawit, juga setuju bahwa aksi kolektif merupakan kata kunci bagi decade ini.

“Kita telah menggunakan theory of change yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Sekaranglah merupakan kesempatan untuk benar-benar melihat apa yang berjalan baik dan apa yang tidak. Tetapi bila kita tetap menggunakan jalur yang sama, kita akan terjengkang,” ujar Phil pada kesempatan yang sama.

Kuncinya, menurutnya, adalah aksi kolektif dimana semua pihak bekerja bersama-sama dengan menempatkan kepentingan bersama diatas kepentingan individual.

“Ini akan merupakan sesuatu yang sulit, dan COVID, dalam banyak segi, hanya akan membuat hal ini lebih sulit lagi, tetapi juga akan menekankan bahwa lebih penting lagi bagi kita untuk melakukannya bersama-sama ,” ujar Phil.

Himbauan agar diambil aksi-aksi yang multi-sektoral dan multi-pemangku kepentingan yang melibatkan semua pemain dalam rantai produksi minyak kelapa sawit telah berulang-ulang disampaikan di dalam sejumlah seminar daring mengenai industri sawit belakangan ini, dengan banyak pihak berdalih bahwa aksi kolektif ini diperlukan mengingat kompleksitas permasalahan yang dihadapi sektor komoditas ini.

Baca lebih banyak tulisan oleh Bhimanto Suwastoyo.
Industri perhutanan? Kunjungi The Forest Scribe.
Share This