The Palm Scribe

Manfaat minyak kelapa sawit bagi kesehatan

Perdebatan tentang kelapa sawit lebih mengarah ke isu ekonomi dan lingkungan. Orang cenderung mengabaikan fakta soal manfaat kelapa sawit bagi kesehatan. Mengapa?

Minyak kelapa sawit adalah minyak nabati yang paling banyak diproduksi di dunia.

Minyak kelapa sawit adalah minyak nabati paling banyak diproduksi di dunia. Produk-produk turunannya tersedia di rak-rak toko, pasar tradisional, dan minimarket di seluruh dunia. Sebut saja beberapa di antaranya sebagai contoh, sampo, sabun mandi, minyak goreng, biskuit, cokelat, dan kosmetik. Pertanyaannya: kelapa sawit itu baik atau buruk?

Selama bertahun-tahun kelapa sawit selalu berada di tengah panggung perdebatan masalah lingkungan. Lembaga swadaya masyarakat, seperti Greenpeace dan The Forest Trust, selalu memojokkan pengusaha kelapa sawit, dari hulu ke hilir, dan menuduh mereka sebagai perusak hutan dunia.

Mereka juga berkampanye menyindir Nestle, mengatakan bahwa mengonsumsi salah satu produknya, Kitkat, sama dengan menikmati jempol orangutan yang sudah meninggal.

Di sisi lain, kelapa sawit merupakan kunci penting untuk membuka daerah-daerah tropis terpencil. Pemerintah, swasta, dan warga setempat berkolaburasi memanfaatkan hasil penjualan kelapa sawit untuk membangun infrastruktur, fasilitas kesehatan, dan memastikan anak-anak mereka memperoleh pendidikan yang layak.

Dengan dua kubu bertentangan dalam isu ekonomi dan lingkungan, lalu di mana bagian yang menguntungkan dari kelapa sawit?

Kelapa sawit telah berada di sekitar kita selama bertahun-tahun dan dimanfaatkan oleh banyak orang di seluruh dunia.

Antioksidan

Mukherjee and Mitra (2009) menyatakan bahwa minyak sawit mentah kemungkinan merupakan sumber alami karoten (dipakai tubuh sebagai vitamin A) terkaya, bahkan 15 kali lebih banyak daripada wortel. Karoten memiliki peranan penting sebagai antioksidan, memelihara sel dan otot dari radikal bebas, serta meningkatkan kesehatan kardiovaskular.

Menurut Haryadi (2010), minyak kelapa sawit merah dan kelapa sawit mentah masing-masing memiliki retinol vitamin A sebanyak 5000 mikrogram dan 6700 mikrogram per 100 gram. Angka ini lebih tinggi dibanding retinol pada jeruk (21), pisang (50), tomat (130), dan wortel (400).

Kandungan vitamin E dalam kelapa sawit juga lebih tinggi dibanding minyak nabati lainnya. Ia memiliki unsur alpha, beta, gamma, delta tocopherols (20%), dan tocotrienols (80%) (Man dan Haryati, 1997). Khususnya pada trokotrienol, kandungannya bisa memperkuat antioksidan, menyehatkan otak dan jantung, serta mengikis sel kanker (Ebong et.al., 1995).

Menurut Slover (1971) dan Gunstone (1986), kelapa sawit memiliki 1.172 ppm of vitamin E, lebih banyak dari minyak nabati lain, seperti kedelai (958), jagung (782), dan bunga matahari (546).

Manusia membutuhkan lemak dalam asupan makanannya sehari-hari, sebagai bagian dari makronutrisi. Dilansir dari healthline.com oleh Franziska Spritzler, satu sendok (14gram) kelapa sawit mengandung 14 gram lemak.

Mukherjee dan Mitra (2009) menyatakan bahwa kandungan kelapa sawit dan minyak inti sawit sangat tinggi di dalam lemak jenuh, sekitar 50% dan 80% dan diesterifikasi oleh gliserol.

Kelapa sawit memroduksi nutrisi ini dengan efisien, karena kelapa sawit hanya menggunakan 1/10 lahan yang biasanya dibutuhkan oleh minyak nabati lain untuk menghasilkan jumlah minyak yang sama. Di negara berkembang, minyak sayur sedang berupaya menggantikan minyak nabati karena biaya dan masalah kesehatan dan kelapa sawit telah menjadi salah satu minyak nabati yang lazim digunakan di dunia (Chandrasekharan, 1999).

.Meski demikian, menurut literature akademik, peningkatan risiko jantung koroner ternyata meningkat ke level serum kolestrol (yang mungkin disebabkan oleh kandungan lemak di kelapa sawit). Terlepas dari itu, fakta pertumbuhan kelapa sawit menunjukan bahwa efek samping kelapa sawit di dalam kolestrol dalam darah netral jika dibandingkan dengan dengan lemak dan minyak lainnya.

Sebagai tambahan, kelapa sawit merangsang sintesis kolestrol HDL dan perpindahan kolestrol LDL, yang bisa mengurangi masalah jantung koroner. Ini membuktikan bahwa konsumsi kelapa sawit sebagai salah satu sumber lemak tidak menimbulkan masalah apa pun terkait dengan jantung koroner.

McNamara (2010) membantah pendapat bahwa lemak minyak tropis, terutama kelapa sawit, sangat buruk untuk kesehatan seperti yang dikampanyekan di Amerika pada 1980 oleh The Center for Science in the Public Interest (CSPI) dan Philip Sokolof, industrialis dari Omaha.

Mereka menggerakkan kampanya anti lemak jenuh di media, dan mendorong para pebisnis di Amerika untuk mengganti minyak tropis yang mengandung lemak jenuh dengan minyak nabati lain.

Gara-gara kampanye ini, kalangan partikelir di Amerika lalu mengganti minyak tropis dengan minyak sayur hidrogenasi buatan Amerika, yang banyak digunakan pada produk kedelai. Minyak ini, meskipun kandungan lemak jenuhnya rendah, tetapi memiliki lebih banyak asam lemak (trans-fat).

Belakangan, perusahaan-perusahaan itu berubah haluan ke asam lemak (trans-fat) setelah mengetahui bahwa asam lemak  mendongkrak jumlah LDL yang berbahaya dan meningkatkan risiko jantung koroner.

CSPI pun berbalik arah dan menjadi kelompok terdepan yang mendesak penghapusan asam lemak dari jaringan produk makanan, dan mengajukan gugatan terhadap penggunaan asam lemak.

 

Share This