The Palm Scribe

“Cowspiracy” dan industri kelapa sawit





“Tontonlah film dokumenter ‘Cowspiracy’ kalau kau punya Netflix,” tulis seorang kawanku dari industri kelapa sawit melalui layanan pesan pendek.

ILUSTRASI. Traktor di sebuah perkebunan kelapa sawit.

Aku pun menuruti sarannya dan menonton film dokumenter yang disebut-sebut membuka tabir kemunafikan dari LSM-LSM lingkungan terkemuka di dunia, seperti Greenpeace dan the Rainforest Network. Kedua lembaga ini gigih menyerang industri, terutama dari sektor kelapa sawit dan pertambangan, sebagai penyebab kerusakan hutan, tapi justru menghindari sama sekali sumber utama deforestasi yang sebenarnya: peternakan hewan.

Dalam film dokumenter tersebut, yang resminya berjudul “Cowspiracy: The Sustainability Secret” (Cowspiracy: Rahasia Keberlanjutan), terkandung ajaran yang mumpuni bagi produsen kelapa sawit yang dapat membantu mereka dalam menghadapi organisasi-organisasi lingkungan, seperti Greenpeace dan The Rainforest Network. Ada apa dalam film itu?

Film dokumenter yang dibuat di tahun 2014 ini menyuguhkan sebuah pertanyaan penting: Jika peternakan hewan merupakan pemicu utama kerusakan lingkungan–melalui emisi gas methannya, konsumsi airnya, dan deforestasi yang didorong oleh kebutuhan padang rumput bagi ternak sapi — mengapa LSM-LSM ini tidak menyerang industri peternakan sapi segigih mereka menyerang industri kelapa sawit, kertas, bubur kertas, serta pertambangan?

Michael Pollan, penulis buku The Omnivore’s Dilemma, narasumber yang diwawancarai dalam film tersebut, menjawab bahwa ini semata-mata didasari oleh ketakutan LSM akan kehilangan pendukung dan juga tentunya, pendanaan.

“Saya kira mereka terfokus kepada kelompok tertentu, dan secara politis mereka ini adalah pecundang,” ujar Pollan di bagian awal film dokumenter itu.

“Mereka ini adalah organisasi yang bertumpu pada pendukung … mereka selalu mencari jalan untuk memaksimalkan jumlah donatur mereka. Pengumpulan dana mereka akan terkena dampak buruk bila kemudian mereka dicap sebagai kelompok anti-daging, atau yang menantang orang dan kebiasaan sehari-harinya yang demikian penting.”

Hal ini menjadi jelas ketika pembuat film ini kemudian mencoba mewawancarai LSM-LSM ini. Greenpeace menolak diwawancarai (bayangkan bila yang terjadi adalah bahwa Greenpeace mengatakan seorang produsen sawit bersikap sama dan menolak diwawancarai mereka atau wartawan yang telah dipengaruhi Greenpeace dengan laporan terakhir mengenai industri kelapa sawit.). The Sierra Club, sebuah organisasi lingkungan di tingkat akar rumput, bahkan mengutarakan keheranan mereka bahwa peternakan hewan dijadikan isu lingkungan.

Ketika si pembuat film mendekati The RainfoKetikrest Network, direktur eksekutifnya mengalami kesulitan menjawab ketika ditanyai apakah peternakan hewan atau bahan bakar fosil yang merupakan pendorong utama kerusakan lingkungan.

Mereka juga mempertanyakan mengapa laman daring berbagai LSM ini memfokuskan diri kepada kelapa sawit, kertas, bubur kertas, dan batu bara, serta menganggap industri tersebut sebagai ancaman utama terhadap lingkungan. Pembiakan sapi sama sekali tak mereka singgung.

Perbandingan tingkat deforestasi akibat kelapa sawit dan peternakan sapi.

Sebagai orang yang skeptis, setelah menonton film dokumenter ini, aku pun langsung sibuk berselancar di dunia maya untuk mencoba mencari informasi apa pun yang dapat mementahkan semua yang diklaim oleh film Cowspiracy. Namun sedikit sekali yang dapat kutemukan.

Yang lebih mencengangkan bagiku adalah betapa sunyi senyapnya para LSM ketika harus menyinggung perihal ini. Satu-satunya jawaban yang aku temukan adalah dari Robin Oakley, direktur program Greenpeace untuk Inggris Raya. Dalam sebuah unggahan blognya yang berjudul Cows, Conspiracies and Greenpeace  (Sapi, Konspirasi dan Greenpeace), ia berusaha mempertanyakan balik angka-angka yang digunakan oleh si pembuat film. Tapi jika melihat komen-komen yang diterimanya, basis argumentasinya sama sekali tidak kuat.

Apakah yang dapat dipelajari oleh industri kelapa sawit dari film dokumenter ini?

Menurut pandanganku, pelajaran yang paling berharga yang dapat ditarik adalah bahwa LSM-LSM ini merupakan institusi-institusi yang cukup terhormat, tetapi sebenarnya memilik kelemahan yang mendasar.

Film dokumenter ini memperlihatkan betapa ringkihnya LSM ini dikarenakan oleh kemunafikan mereka sendiri bila terkait dengan isu peternakan hewan. Setiap kali mereka mengacungkan hantu deforestasi yang dapat disebabkan oleh kelapa sawit, kalangan industri kini cukup menjawabnya dengan mengutip data luasnya kerusakan yang diakibatkan oleh peternakan hewan, sesuatu yang ditakuti para LSM tersebut. Pengutipan ini akan mampu membuat para LSM ini tak berkutik.

Cara ini tidak lalu berarti bahwa industri sawit dapat kemudian mencampakkan masalah keberlanjutan, tetapi ini dapat digunakan untuk mengubah pandangan ke depan industri sawit.

Saat ini, keseluruhan industri kelapa sawit nampaknya takut kepada LSM. Industri ini masih mengalami trauma, takut mengatakan sesuatu atau menyembulkan kepala mereka dari balik dinding karena takut diserang oleh LSM. Para LSM ini nampak sebagai institusi yang sangat kuat dan tak terkalahkan dan karenanya industri harus selalu membungkuk di hadapan mereka serta berusaha untuk tidak membuat mereka marah.

Akibatnya, industri ini kemudian hanya memainkan strategi pertahanan saja. Sepertinya, industri ini terus-menerus harus mempertahankan diri terhadap rangkaian tuduhan mengenai praktik yang tidak berkelanjutan, deforestasi, perbudakan, kebakaran hutan, bertanam di lahan gambut, melanggar standar karbon bernilai tinggi, dan seterusnya. Daftar tuduhan ini seperti tidak ada akhirnya dan yang terjadi kemudian adalah bahwa industri ini tidak lagi memiliki waktu maupun tenaga untuk membicarakan masalah-masalah yang sebenarnya.

Dengan meminta pertanggung jawaban LSM atas ketidakadilan mereka dalam hanya menyerang industri kelapa sawit, LSM mungkin akan dapat berhenti menganggap industri sawit ini sebagai bulan-bulanan yang lemah. Jika hal ini terjadi, maka industri kelapa sawit kemudian akan dapat berada pada posisi untuk menghadapi LSM pada tingkat kedudukan yang sejajar, dan bukan pada kedudukan seseorang dengan mentalitas korban serangan.

Jika hal ini terjadi, isu-isu yang sebenarnya, misalnya bagaimana meningkatkan produktifitas perkebunan kelapa sawit, bagaimana menyeimbangkan antara kebutuhan pembangunan, ekonomi dan lingkungan, serta bagaimana menjawab kekurangan pasokan minyak nabati di dunia ini, akan mulai dapat ditangani dengan sungguh-sungguh.

Penulis: Ong Hock Chuan



Share This