The Palm Scribe

Tungkot Sipayung, menyingkap mitos dan fakta sawit

Bagi Tungkot Sipayung, doktor di bidang Ilmu Ekonomi Pertanian di Institut Pertanian Bogor tahun 2000 dengan predikat cum laude, tiada rahasia lagi dalam sawit. Direktur Eksekutif di Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute ini menguasai segala hal tentang sawit. Bersama lembaganya, ia bahkan telah menerbitkan buku “Mitos dan Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan Global.” Terbit pertama kali pada 2015, buku itu sudah naik cetak tiga kali. Edisi terakhir keluar pertengahan 2017.

TUNGKOT SIPAYUNG: Banyak orang melihat sisi jelek sawit, karena menerima informasi hanya dari Google.

“Dalam setiap edisi ada penambahan dan pemutakhiran data, kami juga memasukkan hasil diskusi pada acara bedah buku “Mitos dan Fakta Sawit” di 20 perguruan tinggi seluruh Indonesia,” kata Tungkot kepada The Palm Scribe di kantornya di Bogor, Senin (20/11/2017).

Tungkot lalu bercerita tentang latar belakang pembuatan buku itu. Pada 2013, kata Tungkot, dari seratus pemberitaan mengenai sawit, 90 persen negatif. Sementara literatur dan informasi mengenai sawit dari Indonesia sangat minim. Riset mengenai sawit pun nihil. Padahal waktu itu kelapa sawit sudah menjadi hasil perkebunan yang potensial. “Pelaku sawit dan pemerintah takut bicara karena menerima serangan dari dunia internasional dan LSM, bahwa sawit itu jelek,” tutur Tungkot.

Melihat keadaan itu, Tungkot merasa ada tanggung jawab moral. “Pertama karena saya akademisi di bidang pertanian. Kedua, karena waktu itu saya masih di Kementerian Pertanian, salah satu isunya adalah sawit.”

Kemudian Tungkot melakukan studi literatur, membentuk tim, melakukan kajian, dan akhirnya menyusun buku itu untuk menjawab tudingan dan isu-isu negatif yang ditujukan kepada sawit.

Penolakan terhadap isi buku ini pada awalnya sangat besar. Para mahasiswa, profesor, dosen di berbagai universitas melihat sisi jelek sawit, menurut Tungkot, karena menerima informasi hanya dari Google. “Saya ajak mereka bicara. Apakah karena dianggap jelek, lalu sawit harus kita buang?” tanya Tungkot retorik.

Selama ini, ujar Tungkot, ada beberapa isu tak sedap terhadap sawit yang. Pertama isu tentang kesehatan, sawit dianggap mengandung kolesterol. “Isu ini sudah ada dari 1980an. American Soybean Association yang memopulerkan isu ini,” Tungkot menjelaskan. Padahal, menurut Tungkot, secara ilmiah terbukti bahwa minyak nabati tidak mengandung kolesterol. Yang mengandung kolesterol adalah minyak hewani. “Kebetulan pada waktu itu Amerika sedang getol pada isu pengaruh kolesterol pada kesehatan. Indonesia dan Malaysia kemudian menggugat isu itu,” ujar Tungkot.

Gagal dengan isu kolesterol, lalu dibangun mitos bahwa sawit mengandung lemak trans (trans fat). Padahal, menurut Tungkot, proses pengolahan minyak sawit tidak mengalami hidrogenisasi seperti pada kedelai. Karena tidak mengalami hidrogenisasi, maka tidak mungkin terbentuk trans fat dalam minyak sawit. “Ini sudah dibuktikan oleh para ahli di Eropa dan Amerika. Justru kedelai yang mengandung lemak trans karena mengalami proses hidrogenisasi,” kata Tungkot.

Industri sawit juga dituding tak peduli lingkungan. Ada tuduhan bahwa mengembangkan sawit itu sama dengan merusak hutan, deforestasi. “Betul bahwa deforestasi terjadi. Tapi pertanyaannya adalah apakah deforestasi hanya terjadi di Indonesia? Dan salahkah deforestasi?” ujar Tungkot.

Berdasarkan penelitian, kata Tungkot, di Eropa deforestasi sudah terjadi terlebih dahulu, bahkan sebelum tahun 1100. Di Amerika, deforestasi juga terjadi sampai terakhir pada tahun 1930an. Setiap negara melakukan deforestasi karena semua daratan ini tadinya hutan. “Kalau tak ada deforestasi, konversi dari hutan menjadi non hutan, di mana kita membangun perumahan, industri? Semua lahan, kota-kota, berasal dari hutan dulunya,” kata Tungkot.

“Jadi isunya bukan soal deforestasi. Isunya adalah apakah kita melakukan deforestasi secara selektif atau tidak. Eropa dan Amerika Utara melakukan deforestasi total pada zamannya. Dalam proses deforestasi total itu, semua keanekaragaman hayati punah,” kata Tungkot.

Indonesia justru mempunyai kebijakan untuk tidak melakukan deforestasi total. “Kita memiliki undang-undang kehutanan, lingkungan hidup, dan tata ruang yang mengatur bahwa minimal 30 persen dari daratan harus dipertahankan sebagai hutan asli. Sekarang posisinya, dari 190 juta ha daratan kita, 88 juta ha di antaranya masih hutan,” kata Tungkot.

Kesimpulannya, kata Tungkot, defortasi memang terjadi dan itu fenomena yang normal di seluruh dunia. “Beda antara Indonesia dan negara lain, kita tidak melakukan mendeforestasi total, tapi parsial. Faktanya, 47 persen daratan kita masih berupa hutan, sebagian masih virgin forest yang tak dimiliki Eropa dan Amerika. Hutan kita juga masih memiliki mawas, orangutan, hewan-hewan tropis. Ini bukti bahwa kita tidak melakukan deforestasi total.”

Menjawan tudingan bahwa perkebunan sawit memicu efek rumah kaca dan mengakibatkan kerusakan lahan gambut, Tungkot membeberkan data International Energy Agency dan lembaga-lembaga internasional, seperti FAO, tentang negara-negara penghasil emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. “Indonesia tidak termasuk 10 negara penghasil emisi terbesar. Yang terbesar itu justru Cina, India, Eropa, dan Amerika. Dari situ saja terlihat siapa kontributor terbesar greenhouse gas,” ujar Tungkot. (Baca juga: Peneliti Indonesia-Jerman Klaim Sawit Tak Bikin Emisi Karbon di CNN Indonesia)

Tungkot menuturkan bahwa di Eropa, gambut bukan hanya ditanami, tapi malah ditambang seperti batu bara, yang dipakai sebagai energi langsung. “Mereka kehilangan hampir 10 juta ha gambut. Kita masih punya banyak. Dari 18 juta ha lahan gambut di Indonesia, yang dimanfaatkan untuk pertanian, termasuk perkebunan, hanya 6,5 juta ha. Perkebunan sawit memakai sekitar 3 juta ha.”

“Kalau dikatakan sawit merusak gambut, buktinya perkebunan sawit di Sumatra Timur yang sudah seratus tahun lebih itu ditanam di atas gambut. Tidak ada masalah. Hal yang sama juga dialami di Serawak, Malaysia. Jadi isu ini hanya dipakai untuk mendiskreditkan sawit.”

Tumbuhan adalah bagian dari paru-paru ekosistem, kata Tungkot, termasuk sawit. “Jadi kalau dikatakan sawit merusak lingkungan itu jelas tidak benar. Bahwa ada masalah tata kelola di dalam pengelolaan gambut, itu persoalannya. Oleh sebab itu, kalau ada persoalan di situ, maka yang harus dilakukan adalah perbaikan tata kelolanya. Bukan mengusir sawit dari gambut. Itu pandangan yang keliru.”

“Asal tahu saja, di seluruh dunia ini, hanya sawit yang punya tata kelola. Hanya sawit yang punya sertifikasi, baik dari RSPO maupun ISPO. Minyak nabati lain tidak punya. Kalau mereka peduli pada lingkungan, seharusnya mereka juga punya tata kelola,” kata Tungkot.

Sebenarnya, apa pun yang dilakukan sawit, ujar Tungkot, tetap saja akan ada serangan, karena isu utamanya bukan persoalan lingkungan melainkan persaingan bisnis. Selama ini di pasar minyak nabati ada empat komoditas utama, yaitu kedelai, rapeseed, bunga matahari, dan sawit.

Di antara keempatnya, yang berjaya selama seratus tahun lebih adalah kedelai. Ketika sawit muncul, terutama berkat keberhasilan Indonesia pada 2006, pangsa minyak kedelai turun, direbut oleh sawit. Minyak-minyak nabati lain kalah bersaing oleh sawit. Karena tak mampu melawan secara ekonomi, maka dibangunlah isu-isu non ekonomi. “Itu latar belakangnya. Mau dibikin sertifikat apa pun, bahkan kalau malaikat pun mengeluarkan mensertifikasi sawit, serangan akan tetap terjadi,” kata Tungkot.

 


 

Tentang Dr. Ir. Tungkot Sipayung: 

 Lahir di Simalungun 25 Oktober 1965, Tungkot Sipayung menyelesaikan Program Doktor (S-3) dalam bidang Ilmu Ekonomi Pertanian di Institut Pertanian Bogor tahun 2000 dengan predikat Cum Laude.

Tungkot adalah profesional yang berpengalaman luas pada tiga bidang, yakni akademik/peneliti, birokrat/pemerintahan dan bidang dunia usaha. Di bidang pemerintahan, Tungkot pernah menjadi Asisten Khusus Menteri Pertanian Bidang Pembangunan Agribisnis (2000- 2004), Anggota Delegasi Pemerintah RI pada World Agriculture Forum St. Louis Missouri USA (2002), dan pada World Food Summit, FAO, Rome (2002), Koordinator Pengembangan Kawasan Agropolitan Sumatera Utara (2002-2005), dan Penasihat Ekonomi beberapa Pemerintah Provinsi/Kabupaten.

Tungkot Sipayung, direktur eksekutif PASPI.

Di bidang usaha, selain pernah memimpin beberapa perusahaan swasta, Tungkot menjadi anggota Dewan Komisaris PT Petrokimia Kayaku Gresik (2002-2007), Dewan Komisaris PT Perkebunan Nusantara IV (Persero) sejak tahun 2008-2013, Ketua Komite Pemantau Manajemen Risiko dan GCG Dewan Komisaris PTPN IV (2008-2013), Ketua Advokasi dan Kebijakan Persawitan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Pusat (sejak tahun 2011), Founder dan Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute) sejak 2013.

Dalam rangka pengembangan usaha, Tungkot melakukan studi banding ke ASEAN Pottasium Mining Corp. (2000), melakukan studi banding agribisnis minyak sawit Malaysia (2009), studi banding Industri Hilir Minyak Sawit di India (2010), studi banding industri hilir di Cina (2010) dan studi banding Industri dan Pasar Oleokimia di Kawasan Eropa (2012).

Di bidang akademik/penelitian, dia adalah peneliti senior pada Pusat Studi Pembangunan IPB (sejak tahun 1994-2008). Pengajar program Pascasarjana IPB (1996-2000), sebagai Instruktur Pembiayaan dan Manajemen Risiko/Kredit pada beberapa bank pemerintah (1997-2000), dan Instruktur Evaluasi dan Perencanaan Proyek LPME Universitas Indonesia. Pada tahun 2000 hingga sekarang, Tungkot menjadi dosen mata kuliah Ekonomi Makro, Ekonomi Manajerial, Riset Ekonomi, dan membimbing mahasiswa Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta dan beberapa Universitas di Jakarta.

Sejak tahun 1988, Tungkot juga berkecimpung sebagai konsultan ekonomi pada beberapa departemen/lembaga pemerintah, aktif melakukan penelitian di  bidang pertanian/pangan, agribisnis, industri persawitan, kemiskinan, pembangunan daerah, dan kebijakan ekonomi, pembicara seminar, mengikuti seminar nasional dan internasional, aktif menulis buku, editor buku dan menulis hasil-hasil penelitian pada berbagai jurnal ilmiah.

Buku-buku yang telah ditulis/diedit (editor) : Pembangunan Agribisnis; Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian (1999, Pusat Studi Pembangunan IPB); Suara Dari Bogor (2000, Pusat Studi Pembangunan IPB); Agribisnis Pulp and Paper (1999, PSP); Pengembangan Agropolitan dan Dukungan Sarana Prasarana (1998, PSP/PU); Perkebunan Kelapa Sawit Dalam Pembangunan Ekonomi Dan Lingkungan Hidup Sumatera Utara (2011, IPB Press); Ekonomi Agribisnis Minyak Sawit (2012, IPB Press); Transformasi Revolusioner Bisnis Perkebunan (2012, IPB Press). Industri Minyak Sawit Indonesia Berkelanjutan (PASPI, 2014); Blue Print dan Roadmap Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 (PASPI, 2014); Kontribusi Industri Minyak Sawit dalam Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup (PASPI, 2014); Industri Minyak Nabati Dunia Menuju 2050 (PASPI, 2014); Industri Minyak Sawit Dunia Menuju 2050 (PASPI, 2014).

Share This